Home

Panti Djomblo

Reqgi First Trasia

 

“Waaaw, subhanallah banyak banget nih bingkisannya!” teriak Shelly setelah mendapat parcel raksasa yang dihantar oleh pak pos.

Rosa, Alfa, dan Firsa pun berlari dari dalam kontrakan menuju sumber suara. Mereka turut bergumam riang. Rosa mengambil surat yang terselip di samping pembungkus parcel. Betapa tak terduganya mereka mengetahui siapa pengirim parcel raksasa ini. Rosa membacakan isi suratnya.

“Assalamualaikum wr wb… Syukran katsir pada Ukhti Shelly, Rosa, Alfa, dan Firsa selaku pengelola Panti Djomblo. Atas jasa antum, Alhamdulillah kami kini hidup berdampingan dan inshaAllah sedang menunggu kelahiran anak pertama kami. Semoga bingkisan kecil ini cukup untuk membalas kebaikan antum yang dijadikan kepanjang-tanganan Allah untuk mempersatukan kami. –Rangga & Risa-”

“Subhanallah, ini kan pasangan yang daftar ke kita setahun yang lalu. Aku gak nyangka mereka masih ingat sama kita,”ucap Alfa.

Mereka bersama-sama membawa parcel ke dalam rumah. Kebahagiaan sungguh merona di wajah mereka.

* * *

                Ya, Panti Djomblo adalah biro jodoh amatir yang didirikan oleh Shelly, Rosa, Alfa, dan Firsa. Mereka adalah kawan satu kontrakan. Inisiatif mendirikan Panti Djomblo muncul saat mereka masih semester tiga, berawal dari keprihatinan mereka atas data statistik yang menunjukkan bahwa begitu banyak perawan dan perjaka yang belum menikah padahal usianya sudah terlampau jauh untuk mengawali sebuah pernikahan. Selidik punya selidik ternyata etiologi utamanya adalah ke-enggan-an mereka untuk mencari jodoh dan waktu mereka yang semakin sempit untuk pencarian itu.

                Mulailah Shelly, Rosa, Alfa, dan Firsa mengelola bisnis ini. Alfa, mahasiswi Fisip, bertugas untuk mencatat penerimaan proposal dari para “couple hunter”, mengklasifikasikan proposal berdasarkan usia si pengirim proposal, dan menyisihkan proposal mereka yang sudah berhasil dijodohkan.

                Firsa, mahasiswi kedokteran yang tergila-gila dengan ilmu psikiatri ini, bertugas untuk mempelajari proposal yang masuk, lebih tepatnya mempelajari karakter para “couple hunter” untuk kemudian mencoba mencocokkan dengan karakter lawan jenis yang mendaftarkan dirinya dalam Panti Djomblo.

                Shelly, mahasiswi pariwisata, bertugas untuk mencarikan lokasi untuk kedua pasangan bertemu. Lokasinya disesuaikan dengan karakter kedua calon seperti yang dijelaskan oleh Firsa. Tentu saja Shelly tidak akan membiarkan mereka berdua saja. Shelly selalu turut sebagai orang ketiga. Maklumlah, Panti Djomblo bukan biro jodoh pencarian pacar, melainkan pencarian istri atau suami. Panti Djomblo pun tergolong biro non-profit karena mengedepankan alasan syar’i.

                Rosa, mahasiswi sastra, bertugas untuk mencarikan event organizer untuk pernikahan mereka yang sudah merasa cocok, sekaligus merangkaikan kata di surat undangan mereka sesuai dengan tipe pekerjaan dan kepribadian kedua pasangan.

                Mereka mempromosikan biro ini dengan cara sederhana dan menggunakan media sederhana, apalagi kalau bukan dunia maya. Shelly sebagai admin facebook, Rosa sebagai admin twitter, Alfa sebagai admin blog, dan Firsa sebagai perangkai kata-kata promosinya.

                Tiga setengah tahun mereka terbilang sukses menggeluti dunia perjodohan ini. Hingga suatu saat… saat yang paling mereka takutkan, tapi pasti terjadi. Shelly, Rosa, dan Alfa resmi bergelar sarjana. Hanya Firsa yang masih betah berkutat dengan per-co.ass-an. Maklumlah, risiko kulisah di kedokteran adalah lulus setahun lebih lama dibanding fakultas lain. Konsentrasi mereka pada Panti Djomblo mulai memudar karena pekerjaan mereka menuntut untuk fokus. Enam bulan setelah wisuda berlalu…

Februari 2012, Shelly menikah dengan General Manager sebuah Hotel ternama di Bali.

April 2012, Rosa menikah dengan seorang penulis yang sedang naik daun.

Juni 2012, Alfa menikah dengan seorang anggota legislatif di Bali.

                Tinggallah Firsa seorang diri menjalankan biro jodoh itu. Ia tangani semua, dari mulai pencatatan proposal masuk sampai pencarian event organizer. Agak tersendat memang, karena ia lakukan semua itu disela kesibukan ko.as-nya. Bukan Shelly, Rosa, dan Alfa tak mau membantu atau sekadar bertanya kondisi Firsa dan Panti Djomblo, hanya saja mereka tak punya waktu. Firsa pun dapat memahami kondisi kawan-kawannya.

Maret 2013, Firsa wisuda sekaligus pelantikan dan sumpah dokter. Ia pun dinyatakan lulus UKDI dan langsung menunaikan internship.

Mei 2013. Kisah ini baru dimulai. Sore itu, sepulang Firsa dari rumah sakit…

Wis ta coba ngelaliake jenengmu saka atiku. Sak tenane aku ora ngapusi, isih trisna sliramu…

Lagu Sewu Kutha Didi Kempo terdengar.

“Ah, hapeku!” gumam Firsa.

Begitulah. Firsa memang yang paling error diantara teman yang lain. Saat mereka senang sekali dengan Pay-phone Maroon 5, Firsa malah senang lagu-lagu campur sari. Saat mereka menggandrungi drama Korea, Firsa malah mencoba menggali legenda-legenda pewayangan. Oh, Firsa, ini kau yang down to earth atau justru ndeso sih?

“Assalamualaikum….” ucap Firsa saat mengangkat telepon.

“Waalaikumsalam… Benar ini saya menghubungi Panti Djomblo?” suara seorang laki-laki terdengar di ujung sana.

“Iya, benar. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya ingin menggunakan jasa Panti Djomblo untuk… untuk…” si pria mematahkan kalimatnya, entah mengapa.

Seperti bisa menangkap maksud si pria, Firsa langsung bicara, “Saya paham, Pak. Eh, maaf, Mas. Silakan kirim saja proposal ke kantor Panti Djomblo, inshaAllah akan kami proses.”

“Baik, terimakasih. Maaf, ini saya sedang bicara dengan siapa?”

“Firsa. Panggil saja saya Firsa.”

“Baik, mba Firsa. Dalam waktu dekat saya akan segera kirimkan proposal. Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam warahmatullah…”

* * *

                Juni 2013. Jumat yang tenang. Hari ini Firsa libur karena ada upacara adat di Bali. Ia pun manfaatkan liburan ini dengan bersantai, membaca buku-buku Soekarno.

                Tok tok tok. Ketukan pintu depan membuat Firsa menyelipkan pembatas buku di halaman terakhir ia membacanya. Firsa berjalan menuju pintu sambil tetap membawa buku.

                “Assalamualaikum…” sapa seorang pria setelah Firsa membuka pintu.

                “Waalaikumsalam warahmatullah…”

                “Bisa saya bertemu mba Firsa? Saya ingin memasukkan proposal.”

                “Saya sendiri.” Jawab Firsa sambil tersenyum.

                “Oh, maaf, saya nggak tahu.”

                “It’s okay. Silakan masuk.”

                Si pria duduk di depan meja kerja Firsa.

                “Mau minum apa?” tanya Firsa.

                “Tidak usah, terimakasih. Saya sedang puasa.”jawab si pria tanpa ada maksud menyombongkan diri.

                “Hari jumat puasa? Puasa apa?”

                Si pria hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.

                “Pasti puasa Daud ya?” Firsa coba menebak sambil duduk di kursinya dan meletakkan buku yang sedari tadi dibawanya.

                “Darimana mba Firsa tahu?”

                “Cuma nebak aja.”jawab Firsa santai.

                “Ohya, ini proposal saya.”

                Firsa menerima proposal itu. Ia membuka halaman depan dan melihat sekilas nama si pria. “Sultan Ksatria Persada. Hmm, nama yang unik. Saya harus panggil apa?”

                “Panggil saja Sultan.”

                “Baik, Sultan. Seperti biasa, saya harus memperkenalkan sedikit tentang sepak terjang biro jodoh ini. Tidak keberatan kan?”

                Sultan menggelengkan kepala. Ia tampak siap menyimak.

                “Panti Djomblo ini berdiri lima tahun yang lalu. Alhamdulillah sudah ada 77 pasangan yang berhasil menapaki jenjang pernikahan, tentunya atas izin Allah. Panti Djomblo berbasis syar’I inshaAllah, jadi kami tidak akan menjodohkan bila hanya untuk sekadar mencari pacar. Dulu biro ini dikelola oleh empat orang. Saya dan tiga teman lain. Tapi kini karena satu dan lain hal, hanya saya yang bertahan. Jadi saya mohon maaf bila ke depannya agak sedikit lambat dalam bertindak karena saya mengelola semuanya seorang diri dan karena saya juga punya profesi lain. Bagaimana?”

                “Nggak apa-apa, mba Firsa. Walau sebenarnya saya butuh segera, tapi entah kenapa saya menaruh harapan besar pada biro ini dan bukan biro lain.”

                “Oke. Kalau begitu saya akan pelajari dulu proposal Mas Sultan. InshaAllah minggu depan akan saya kabari progressnya. Atau kalau Mas Sultan butuh segera, Mas bisa hubungi saya sekitar 5 sampai 6 hari lagi.”

                “Di nomor yang kemarin?”

                “Iya, tapi itu nomor khusus kontak Panti Djomblo, jadi hanya saya angkat kalau saya ada waktu. Mungkin Mas Sultan bisa hubungi nomor pribadi saya karena nomor Panti Djomblo biasanya saya tinggal di rumah. Bagaimana?”

                “Ide bagus.”

                Firsa membuka laci meja, mengambil kartu nama, dan memberikannya pada Sultan. Sultan langsung memasukkan kartu nama Firsa ke dalam sakunya.

                “Mba Firsa suka baca-baca tentang Soekarno?” tanya Sultan setelah melirik buku yang tadi diletakkan Firsa di atas meja.

                Firsa hanya mengangguk. Sultan tersenyum.

                “Baik kalau begitu saya pamit dulu. Terimakasih, mba.”

                Firsa mengantar Sultan ke depan pintu. Setelah saling berjual beli salam, Firsa kembali melanjutkan bacaannya tentang Soekarno. Tak lama, terdengar lagi suara pintu diketuk. Tok tok tok. Masha Allah, ada lagi klien hari ini… Batin Firsa. Dengan adegan yang sama, Firsa kembali membuka pintu.

                “Mas Sultan? Ada yang ketinggalan?”

                Sultan menggelengkan kepala. Tangannya sedikit mengangkat kartu nama Firsa.

                “Jadi mba Firsa ini dokter?”

                “Iya, seperti yang saya bilang tadi kalau saya juga punya profesi lain. Ada apa ya, Mas? Ada yang bisa saya bantu?”

                “Oh, enggak. Nggak ada,” Sultan tersenyum penuh arti. Ia kembali pamit.

                Firsa menutup pintu dan melanjutkan aktivitasnya, bukan membaca buku Soekarno, melainkan mempelajari proposal Sultan karena ia merasa ada yang janggal dengan laki-laki yang baru saja menemuinya tadi.

                Firsa membaca lirih proposal Sultan, “Sultan Ksatria Persada. Kelahiran Surabaya, 9 Desember 1985. Hmm, berarti usianya hampir 28. Nomor hape… Alamat… Email… Blog… Moto hidup : Hasbiyallah (cukup Allah bagiku) Riwayat pendidikan… Subhanallah, sudah S2. S1-nya teknik. Riwayat organisasi… ck ck ck banyak banget… Pekerjaannya juga luar biasa, gajinya pasti besar. Prestasi yang pernah diraih selama mahasiswa. Ah, tak begitu urgent. Yang penting kan bagaimana dia saat ini. Heran gue, kok bisa ya Mas Sultan belum dapat jodoh? Perasaan tadi postur tubuhnya lumayan, gak pendek, bisa dibilang tinggi. Auranya santun. Wajahnya juga sebelas dua belas sama Brad Pit. Ah, terlalu berlebihan. Yang jelas lumayan lah kalo soal wajah. Agamanya juga bagus. Hmm, berarti ada sesuatu nih. Atau jangan-jangan… Astagfirullah… Mikir apa sih gue…”

                Hampir saja Firsa berpikir mungkin saja ada gangguan kejiwaan yang bisa mengarah pada gangguan seksual. Firsa langsung istighfar dan menulis langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membantu klien satu ini.

  1. Berdoa untuk kebaikan Klien
  2. Stalking blog dan dunia maya si klien

Firsa membuka halaman proposal berikutnya yang berjudul “Akhwat yang diinginkan”. Firsa membaca seksama. Firsa menggelengkan kepala dan bergumam, “Oooh, pantas aja dia lama dapat jodoh. Sok pilih-pilih sih. Hari gini mana ada akhwat 100% persis seperti yang dia mau? Bakalan ribet nih urusannya…”

* * *

`3 Juli 2013. Firsa menelepon Sultan.

                “Assalamualaikum…”

                “Waalaikumsalam warahmatullah… Mba Firsa?”

                “Iya, saya Firsa. Jangan panggil saya Mba lagi karena saya sudah pelajari proposal Mas. Ternyata Mas 4 tahun lebih tua dari saya. Panggil saja Firsa.”

                “Oke, Mba… eh, maksud saya, Firsa. Kalau tidak salah progresnya akan Firsa kabari seminggu setelah penyerahan proposal kan? Ini baru 4 hari. Ada apa ya? Apa sudah ada calon yang saya mau?”

                “Justru itu, saya kesulitan mencari kriteria yang Mas maksud. Mungkin ada yang ingin Mas kurangi. Atau Mas bisa pelajari lagi makna sekufu’ dalam Islam.”

                “Saya tahu, Firsa. Itulah mengapa saya minta jasa biro jodoh. Sebab saya sudah nggak sanggup cari sendiri. Kawan-kawan saya di pengajian pun kesulitan membantu saya.”

                “Saya harap Mas bisa lebih realistis…”

                “Begini, Firsa. Bagaimana kalau kita bertemu lagi?”

                “Maaf tapi di kantor Panti Djomblo sedang tidak ada siapa-siapa. Pembantu baru saja pulang kampung dua hari yang lalu.”

                “Ya kita bertemu di tempat lain.”

                “Maaf…”

                “Saya paham, Firsa. Di rumah saya ada Ayah dan adik-adik saya. Kita tidak akan bicara berdua. Saya juga was-was kalau tidak ada orang ketiga. Bagaimana?”

                “Tapi…”

                “Tenang saja. Saya tidak akan bertindak asusila atau kriminal.”

                “Oke, SMS-kan saja alamat rumah Mas. Assalamualaikum…”

                Belum sempat Sultan menjawab salam, Firsa langsung menutup telepon. Firsa menarik nafas dalam. Huff, baru kali ini ada klien yang super ribet. Ya Allah, maafkan aku. Bukan aku tak mau berjuang untuk biro ini, tapi aku lelah. Mungkin Sultan akan menjadi klien terakhirku.

                4 Juli 2013. Firsa memarkirkan mobilnya di sebuah rumah megah. Seorang pembantu membukakan pintu. Ayah Sultan menyambut kehadiran Firsa.

                “Assalamualaikum…”

                “Waalaikumsalam warahmatullah… Pasti Dokter Firsa ya?” tanya laki-laki 55 tahun itu

                “Iya, Pak. Kedatangan saya ke sini untuk…”

                “Saya tahu… saya tahu… mari silakan duduk.”

                Baru sedetik Firsa duduk di ruang tamu yang luas itu, Ayah Sultan sedikit meninggikan suaranya memanggil nama-nama yang tak dikenal Firsa.

                “Agung, Bintang, Tantra, Ami. Ke sini sebentar.”

                Firsa diam seribu bahasa.

                “Dokter Firsa, perkenalkan saya Pram, Ayahnya Sultan. Sultan sedang ada proyek di luar, tapi sebentar lagi dia datang.”

                “Salam kenal, Pak.” Ujar Firsa santun.

                Empat orang muncul dan langsung duduk di kursi-kursi kosong.

                “Dokter, ini adik-adiknya Sultan. Yang ini Agung, usianya 26 tahun, sudah punya satu anak. Yang ini Bintang, usianya 24 tahun, empat bulan yang lalu baru menikah. Yang ini Tantra, 22 tahun, Alhamdulillah sudah dikhitbah. Kalau Ami memang masih 19 tahun, jadi masih fokus kuliah. Tinggal Sultan saja yang susah sekali dapat jodohnya. Sudah saya bilang untuk tidak terlalu selektif, tapi memang dasar dia itu batu. Hahaha…”

                Ayah dan empat orang anak ini tertawa. Firsa bingung apa yang ditertawakan. Daripada canggung, Firsa mencoba untuk ikut tersenyum.

                “Untuk itulah saya minta tolong Dokter membantu Sultan. Saya pribadi juga heran ternyata pengelola Panti Djomblo adalah seorang dokter. Hahaha…”

                Mereka tertawa lagi. Firsa makin bingung. Sebenarnya selera humornya yang terlalu rendah ataukah selera humor keluarga Sultan yang terlalu tinggi.

                “Tapi belakangan ini Mas Sultan tampak ceria lho, Pa. Mirip kayak Bintang pas mau nikah dulu. Hahaha…” sahut Agung.

                “Halah, Mas Agung juga gitu toh? Jatuh cinta dan berbunga-bunga toh?” serang Bintang tak mau kalah.

                “Maaf ya, Dok. Mas Sultan memang rada-rada,” kini Tantra angkat bicara, “Dia maunya punya istri seorang dokter, harus akhwat super, harus 4-5 tahun lebih muda, harus punya hobi yang sama, maksudnya senang baca-baca tentang Soekarno, harus cinta budaya lokal, katanya sih supaya gak gampang tergerus arus budaya Eropa. Macem-macem deh.”

                “Iya, saya sudah baca proposal Mas Sultan. Memang sulit mencari yang seperti itu.”

                “Betul itu, Dok,” Ami bersuara, “Perempuan jaman sekarang kan walaupun judulnya akhwat, tetap aja suka Korea, lebih bangga sama lagu One Direction daripada Sheila on Seven.”

                “Ah, itu mah lu-nya aja yang demen Sheila on 7,” goda Agung pada Ami.

                “Yeee, beneran nih. Susah memang, apalagi Mas Sultan maunya yang pinter masak makanan Indonesia supaya dia tetap bisa makan Gado-Gado sama Rendang pas di Roma nanti,” sahut Ami.

                “Roma?” tanya Firsa.

                “Iya, Dok. Tiga bulan lagi Sultan akan melanjutkan S3 di Italia. Jadi dia butuh sosok istri yang teguh nasionalismenya supaya saat Sultan bawa tuh istri ke Italia, si istri gak jadi kebarat-baratan. Supaya kalau dia sakit, langsung ada dokternya, soalnya kan ribet kalau komunikasi dengan dokter asing. Sultan itu gak suka pizza, steak, spageti, dan apalah itu. Dia cuma cocok makanan Indonesia, apalagi masakan almarhum mamanya dulu. Ah, anak satu itu memang sulit diatur…”ujar Ayah Sultan.

                “Sepertinya tugas saya semakin berat untuk mencari akhwat semacam itu, Pak. Apalagi harus mau tinggal di Eropa. Adaptasinya yang sulit.”tanggap Firsa.

                “InshaAllah tidak akan sulit kalau Firsa mau menemani saya selama di Roma.” Sultan tiba-tiba masuk ke ruang tamu dan mengejutkan Firsa. Keluarganya pun salah tingkah mendengar kalimat frontal Sultan.

                Firsa berusaha stay cool. “Justru itu, tidak akan ada akhwat yang mau hanya dijadikan istri selama di Roma saja. Coba diralat kalimatnya.”

                “Oke, menemani saya dimanapun saya berada. Sudah benar kalimatnya?”

                “Sipp, sudah benar…”

* * *

                Adegan persis lima tahun lalu. Sebuah bingkisan datang ke rumah Shelly, Alfa, dan Rosa. Satu bingkisan untuk satu rumah. Shelly di Manado. Alfa di Padang. Rosa di Pontianak. Mereka membaca surat yang diselipkan di sudut pembungkus parcel.

                Assalamualaikum… Kaifa haluki, ukhtifillah? Syukran katsir atas bantuannya merintis Panti Djomblo. Alhamdulillah, sekarang saya sudah berjodoh. Dan Panti Djomblo menjadi kepanjangtanganan Allah untuk saya menemukan imam. Doakan agar kami bisa hidup sakinah. Roma, 25 Oktober 2013. Sultan-Firsa

Reqgi First Trasia

Tangerang, 30 Januari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s