Home

Pijar Semangat

Dalam Sepotong Kebab

Reqgi First Trasia

 

“Apapun yang akan terjadi disana nanti, biarkan Pijar tetap berangkat, Bu.”ungkap Pijar sambil terisak.

Ibunya tak bicara satu kata pun. Air mata yang mengalir sudah cukup bicara bahwa wanita itu tak rela melepas kepergian anaknya ke tanah rantau. Ayahnya pun hanya membisu. Walau tak menangis, dalam diamnya, ia justru tak tega menatap kepergian putri sulungnya hanya dengan bekal tiga lembar uang bergambar Otto Iskandar Dinata.

“Ikhlaskan kepergian Mba ya, Dik. Jangan berhenti doakan Mba supaya bisa sukses. Jangan rewel. Rajin-rajinlah bantu Ibu dan Ayah.” Perkataan Pijar kini berganti pada kedua adiknya yang sedari tadi hanya mematung.

* * *

            Potongan peristiwa itu masih erat melekat dalam memori Pijar. Gadis manis dengan lesung di pipi kiri itu terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit sambil tersenyum getir mengingat rindu yang membabi buta pada keluarganya, tapi tak pernah pertemuan itu terjamah oleh takdir. Pijar pergi bukan untuk menjadi seorang tenaga kerja wanita seperti teman-teman sebayanya di kampung. Ia pergi untuk merajut mimpinya menjadi seorang dokter. Ia sengaja memilih Denpasar sebagai tempatnya kuliah, karena di antara berbagai info yang ia dapatkan bahwa kuliah di kedokteran itu mahal, Universitas Udayana adalah Universitas dengan Fakultas Kedokteran (FK) termurah. Lolosnya Pijar lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sungguh sangat mengejutkan. Pasalnya, Pijar tidak mengikuti berbagai bimbingan belajar seperti teman-temannya di sekolah yang terobsesi masuk FK. Pijar hanya mengandalkan buku-buku kumpulan soal yang ia beli di toko buku bekas. Beberapa tetangga di sekitar rumah selalu menyuruhnya untuk lebih realistis dalam bermimpi, tapi ia sengaja menjadi ‘tuli’ demi cita-cita yang satu itu.

* * *

            Potongan kejadian lain. Pijar dengan pakaian yang begitu sederhana, untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah Bali. Bukan untuk berlibur, sama sekali bukan! Ia turun di depan rektorat Universitas Udayana yang berada di Bukit Jimbaran. Ia meletakkan tas ranselnya di dekat pohon. Ia duduk sejenak sambil menghirup nafas dalam, nafas pertama yang ia hirup di Bali. Di sekitarnya banyak mahasiswa dengan wajah bersinar melakukan registrasi ulang. Ia termenung. Jujur, sebenarnya ia datang ke Bali tanpa membawa sepeserpun uang untuk registrasi. Tapi ia sudah menyiapkan berbagai keperluan pengajuan pembebasan biaya seperti surat keterangan tidak mampu, kartu keluarga, rekening listrik rumahnya, dll. Ia bangkit dari duduknya dan segera mendatangi staf pengurus registrasi mahasiswa.

            “Ini sudah H-1 registrasi terakhir. Seharusnya kalau mau mengajukan seperti itu, dari awal registrasi dibuka.”jawab salah seorang staf saat Pijar mengutarakan niatnya.

            “Tapi baru kemarin orang tua saya punya uang untuk transport saya kesini, Pak.”

            “Hmm, kamu dari fakultas apa? Jurusan apa?”

            “Fakultas Kedokteran, Pak. Jurusan Pendidikan Dokter Umum.”

            “Ah, nggak mungkin anak kedokteran nggak bisa bayar. Sudah sana, ikuti saja prosedur seperti yang lain.”

            Pijar masih kokoh berdiri di depan staf itu untuk meyakinkan bahwa ia memang benar-benar tak punya biaya. Staf itu pun masih teguh dengan pendapatnya. Pijar terus memohon. Staf itu semakin menganggap Pijar sedang bersandiwara. Tanpa disadari, satu bulir air mata Pijar menetes di meja registrasi. Staf itu langsung mendongakkan kepalanya.

            “Maafkan saya. Sudah banyak mahasiswa yang memalsukan surat keterangan tidak mampu mereka. Itulah mengapa saya harus waspada, terlebih ketika saya tahu kamu mahasiswa kedokteran.”

            “Bantu saya sebisa Bapak,”pinta Pijar sambil mengusap air matanya.

            Bapak itu menghela nafas. “Dik, jujur Bapak katakan bahwa kamu sudah terlambat. Pengajuan permohonan pembebasan biaya sudah ditutup. Bagaimana kalau penundaan pembayaran?”

            “Penundaan? Jangka waktunya, Pak?”

            “Sampai kamu lulus jadi dokter. Lima setengah tahun. Bagaimana?”

            “Baiklah, Pak. Saya setuju.”

            Kegelisahan Pijar sedikit mereda, walau ia tak tahu harus dengan cara apa lima setengah tahun lagi ia membayar biaya itu. Pijar meneguk air putih yang dibawanya dari Sidoarjo. Perutnya mulai lapar, ia belum sarapan. Tapi ia tak peduli dengan perut yang tak mau kompromi itu. Yang terpenting untuknya saat ini adalah ia bisa mendapat nomor induk mahasiswa. Ia menunggu staf mengetik surat. Tampak kecemasan menyelimuti wajah dengan kulit kuning khas Jawa itu. Sesekali ia menengok ke dalam ruangan, staf itu masih mengetik. Ia alihkan pandangan ke arah mahasiswa-mahasiswa yang sudah memegang jas almamater dengan riang. Ia tersenyum dalam cemasnya. Ia melihat staf berjalan ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia berusaha membenahi lipatan jilbabnya dengan gugup.

            “Bawa surat ini ke ruangan sebelah. Nanti kamu akan mendapatkan buku panduan Ospek, jas almamater, dan nomor induk mahasiswa.”

            Pijar tersenyum lega sambil berkali-kali mengucapkan terimakasih. Ia tak kuasa menahan tangis ketika ia membaca surat yang menyatakan bahwa ia bisa menunda pembayaran sampai lima setengah tahun dan ia mendapat tunjangan lima ratus ribu per bulan selama menjadi mahasiswa.

* * *

            Pijar masih berjalan di koridor rumah sakit. Sesekali ia tersenyum pada pasien, keluarga pasien, dan junior yang lewat di hadapannya. Beberapa langkah lagi ia sudah keluar dari rumah sakit. Ia hendak pulang ke kosnya. Ia masih tak bisa membendung pikiran yang dipenuhi oleh hutang pada rektorat yang sampai saat ini belum dilunasinya. Sudah empat tahun ia belajar di Universitas ini, sudah pula ia menabung seratus ribu per bulan, tapi masih belum menutupi.

            Selama ini ia bertahan dengan uang tunjangan dari rektorat. Seratus ribu untuk ditabung, dua ratus ribu untuk membayar kos, dua ratus ribu untuk fotokopi buku-buku kedokteran yang tak mampu ia beli dan tentunya untuk hidup sehari-hari. Jumlah uang itu bukan pas-pasan, tapi sangat kurang. Ia ingin bekerja paruh waktu, seperti mengajar les atau yang lain, tapi ia tak punya kendaraan untuk mobilisasi, terlebih lagi materi-materi kedokteran mengharuskannya untuk fokus kuliah. Satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakoni adalah dengan menjadi guru ngaji di mushola samping kosnya. Gaji seratus lima puluh ribu per bulan sudah mampu membuatnya tak pernah mengeluh.

            Pijar sadar, bergaul dengan teman-temannya di kedokteran bukanlah hal yang mudah, apalagi dengan kondisi keuangan mereka yang tak pernah kekurangan. Ia berusaha ‘santai’, toh selama ini tak pernah ada teman yang menjauhinya karena kondisi ekonomi. Bahkan dengan IPK yang tak bisa dianggap enteng, Pijar justru sering diajak berdiskusi. Hanya saja, kalau diskusi diadakan di restoran mewah, Pijar spontan menolak dengan beribu jurus alasan. Ia tak enak hati jika teman-temannya terus mentraktir. Jangankan restoran, diskusi di kantin kampus saja terkadang Pijar menolak. Bukan karena harga makanan yang tak mampu ia beli, melainkan karena ia harus amat menghemat pengeluaran, terutama untuk yang satu ini, kebab! Beberapa kali ia melewati penjual kebab di kantin, beberapa kali itu pula ia hanya bisa menelan ludah melihat teman-temannya makan makanan khas Turki itu. Itulah mengapa ia berusaha menghindari kantin.

            Sudah tiga kali Pijar berhasil menyisakan uang lima belas ribu di akhir bulan. Jumlah uang yang sangat akurat untuk membeli satu porsi kebab. Namun, tiga kali jua Pijar gagal membeli kebab. Pertama, semester dua, saat itu ia bergegas keluar kelas dengan uang lima belas ribu di tangannya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan teman yang membawa kotak amal dan berkata bahwa ada salah seorang ibu dari temannya yang meninggal. Pijar memasukkan selembar uang lima ribu ke dalam kotak. Ia batal beli kebab Turki!

            Kedua, semester empat, sepulang ia mengajar ngaji di mushola, ia berniat mampir ke kantin kampus dengan uang lima belas ribu di genggamannya demi kebab. Niat itu diurungkan oleh salah seorang murid ngaji yang menangis karena sandalnya putus dan bocah itu tak bisa pulang. Pijar melihat kondisi sandal muridnya memang sudah tak layak pakai. Ia gendong muridnya untuk membeli sandal baru dengan uang yang seharusnya…. Ah, sudahlah…

            Ketiga, semester tujuh, saat ia hendak berangkat dari kos menuju kampus. Lagi-lagi ia berniat membeli kebab sebelum kelas dimulai. Tapi apa daya, ia tak tega melihat kaki salah seorang ibu penjual bensin eceran di samping kosnya terluka besar oleh pecahan botol bensin yang secara tak sengaja jatuh menimpa ibu tua itu. Ia gunakan uang yang dimilikinya untuk membeli peralatan medis demi membebat luka penjual bensin. Ia positif gagal beli kebab!

            Kini Pijar sudah tiba di gerbang rumah sakit. Ia melepas jas co.ass-nya dan memasukkan ke dalam tas punggung yang sama seperti ketika pertama kali tiba di rektorat. Hanya tas itu yang dimiliki dan digunakannya selama empat tahun ini. Ia sama sekali tak ingin membeli tas baru. Ia tak pernah mengeluhkan hal itu, sama sekali tak pernah. Sebenarnya ia bisa saja mengutuk pemerintah yang tak pernah becus memulihkan kondisi ekonomi rakyatnya, tapi ia lebih memilih untuk menyalakan satu pijar lilin daripada sekadar mengutuk dalam kegelapan.

            Pijar menyeberang jalan. Melewati pasar tradisional Sanglah, menyusuri beberapa pertokoan, dan beberapa kali harus melangkahi sesajen yang selalu diletakkan oleh para penganut Hindu di jalan. Lokasi menuju kosnya itu sudah sangat ia hafal. Ia tak asing lagi dengan aroma dupa yang semerbak menelusup hidungnya, dengan penjor-penjor yang menjuntai ke langit setiap hari raya Hindu, begitu pula dengan bule-bule wisatawan yang berkeliaran di Bali. Hal itu sudah sangat biasa.

            Namun ada yang tak biasa malam ini. Di ujung pertigaan jalan raya, Pijar melihat ada keramaian. Aneh, beberapa detik yang lalu, pertigaan itu masih lengang. Hanya dengan satu kedipan mata, daerah itu disesaki oleh lautan manusia yang ingin menonton kejadian. Ada kecelakaan! Pijar yang masih lelah setelah seharian berada di rumah sakit, kini melupakan letihnya dan berlari menuju kerumunan warga.

            Setibanya di TKP, Pijar melihat satu bule laki-laki dalam mobil sedang tak sadar. Satu bule perempuan berjilbab pasmina sedang menangis di sampingnya. Kejadian ini baru beberapa detik yang lalu. Tentu masih ada waktu untuk memberikan resusitasi, pikir Pijar.

            “Excuse me, Lady. I’m a medical student. I will give first aid for your husband.”ujar Pijar pada bule perempuan.

            “Don’t touch my husband!”bentaknya di sela derai air mata.

            Pijar mengeluarkan kartu identitasnya sebagai dokter muda. “Trust me, Lady. I’ll do no harm to him. I just want to help, just live saving!”

            Perempuan itu mengangguk. Ia menaruh harapan besar pada Pijar. Pijar langsung memeriksa bule laki-laki itu secara cepat. Ia mendekatkan pipinya ke hidung pasien, tak ada nafas! Ia meraba leher pasien, tak ada nadi! Ia keluarkan stetoskop dalam sakunya, ia letakkan di dada kiri pasien, tak terdengar denyut jantung! Pijar langsung meminta warga yang berkerumun untuk memindahkan pasien ke jok belakang. Pijar duduk di samping pasien dan memposisikan kedua tangannya tepat vertikal di atas dada tengah pasien. Ia mulai melakukan kompresi dengan sekuat tenaga beberapa kali.

            “Lady, can you drive this car to the hospital?”tanya Pijar sambil terus melakukan kompresi, resusitasi jantung paru (RJP).

            Perempuan itu langsung beralih ke kursi supir dan menancap gas. Dua menit kemudian, sampailah mereka di unit gawat darurat. Para petugas UGD langsung membawa pasien masuk ke ruang tindakan. Pijar masih terus melakukan RJP sampai pasien benar-benar diambil alih oleh dokter.

            “Pijar, saya tahu pasti kamu lelah. Lebih baik kamu istirahat.”ucap seorang dokter yang sangat dikenalnya.

            Pijar keluar dari ruang tindakan dan menuju ruang tunggu. Ia duduk di samping bule perempuan yang masih menangis.

            “Has your husband has heart disease before?”

            Tangis bule itu makin menggila. “How is him? How is him?” Hanya itu yang keluar dari bibir mungilnya.

            “He’ll be okay inshaAllah.”

            Sejenak ruang tunggu itu sangat hening. Hanya terdengar isak tangis si bule dan suara ambulans diikuti beberapa langkah kaki petugas UGD yang membawa pasien baru. Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang tindakan. Perempuan bule di samping Pijar spontan berdiri dan berjalan menghampiri dokter.

            “Everything gonna be okay. No thank to me, give your thanks to that girl. If she didn’t give the first aid, I’ll do nothing.” ujar dokter itu sambil menunjuk ke arah Pijar.

            Perempuan itu langsung memeluk Pijar dan berterimakasih. Ia berkata akan memenuhi apapun permintaan Pijar. Namun Pijar bukan orang yang gemar memanfaatkan peluang di tengah duka. Pijar tak meminta apa-apa. Perempuan bule itu terus memaksa Pijar untuk meminta sesuatu. Pijar menyerah, “Just simply give me one Kebab.” jawab Pijar sambil menahan malunya.

            Perempuan bule itu tertawa. Pijar salah tingkah.

            “That’s a stupid request, girl. Do you have passport?”

            Pijar menggeleng. Ia tak mengerti maksud si perempuan bule. Ia ingin kebab, bukan paspor.

            “Okay, then, make your own passport. Next week I’ll invite you to come to my country in Turkey. I’ll fund your trip and accommodation. You have to taste the original kebab, girl!”

 

Reqgi First Trasia

Denpasar, 22 September 2012

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s