Home

Sungguh, Kita Berbeda, Re…

Reqgi First Trasia

 

Dreamland, 090909

Hari ini aku duduk sendiri, Re… Di seberang sana debur ombak terdengar hingar menghantam cadas. Pantai ini lebih tenang dibandingkan Kuta yang semakin padat. Hari ini aku merasa ada getaran baru yang menyelinap dalam kalbu.

Beberapa minggu yang lalu, itulah pertemuan pertamaku denganmu. Masa-masa Ospek memang selalu membuat satu angkatan terlihat kompak. Maklumlah, senasib. Begitu pula dengan kita. Hari itu aku melihat sesosok gadis yang begitu menarik, walau memang tak secantik miss universe, tapi dia mampu menyedot perhatianku. Dialah kamu, Re…

Jilbab putih polos, kemeja putih, dan papan nama Ospek. Itulah yang ku ingat. Aku hitung, kau hanya satu dari tiga orang di angkatan kita yang berjilbab. Aku melihatmu berlari-lari karena hampir terlambat. Sedikit saja kau lewat jam senior, aku tak bisa bayangkan apa yang akan mereka katakan padamu. Kau berbaris tepat di sampingku. Aku melihat peluhmu sebesar bulir jagung, tapi kau tetap tenang, Re.

“Kamu sedang puasa Ramadhan ya?”tanyaku padamu yang ku lihat tak segera minum setelah berlari.

Kau hanya mengangguk.

“Kamu bisa pakai ini…”ucapku sambil menyodorkan sapu tangan.

“Tidak usah, terimakasih…”

“Nggak apa-apa, ambil aja. Keringatmu deras banget…”

“Okelah, terimakasih lagi ya,” jawabmu sambil mengelap peluh.

“Aku Audrey…”

“Salam kenal, Audrey…”

Belum sempat kau sebutkan namamu, pasukan senior keburu menyerbu angkatan kita. Kitapun terdiam, menatap lurus ke depan, mengambil posisi tegak. Para senior tak tahu, Re, kalau dari sudut mataku, aku mencoba mencuri pandang dengan gadis di sampingku. Itulah yang ku ingat. Ah, satu lagi. Aku juga ingat senyummu, Re. Senyum yang membuatku bersemangat penuh menyelesaikan tugas-tugas Ospek.

 

Ospek pun berakhir. Perkuliahan dimulai. Rekruitmen organisasi juga sedang marak-maraknya. Aku tak menyangka kita punya minat yang sama, Kelompok Ilmiah! Sebenarnya ingin aku mengajakmu bergabung di grup yang sama, tapi aku malu, Re. Jangan tanya kenapa, aku juga tak tahu jawabannya.

Hari lain, aku melihatmu berjalan kaki seorang diri sepulang Pelatihan Dasar Kelompok Ilmiah. Dari dalam mobil, aku banyak menimbang, akan menawarkan jasa antar atau tidak. Akhirnya…

Aku buka jendela mobil.

“Hai, mau pulang kemana?”

“Eh, Audrey. Kosku di daerah Panjer.”

“Kalo gitu bareng aja. Kita searah.”

Kau duduk di sampingku, Re. Keruwetan yang belakangan ini aku rasa, sirna sudah oleh keberadaanmu.

“Makasih ya, sudah boleh numpang,”

“Ya elah, belum sampai tujuan udah bilang makasih. Nanti aja bilang makasihnya,”

Kau tertawa, Re. Padahal bagiku kalimat itu bukan suatu lelucon.

“Ohya, siapa namamu? Kamu sudah kenal aku Audrey, tapi aku belum kenal kamu.”

Kau langsung menyebutkan namamu. Detik itu aku tancapkan namamu dalam memoriku, mungkin juga, hatiku.

“Jadi aku cukup panggil ‘Re’ saja nih?”

Kau mengangguk.

“Kenapa jalan kaki, Re?”

“Iya, kebetulan aku belum punya motor,”

“Wah, kebetulan banget!”

“Maksudmu?”

“Emmm, enggak, gini, kalo kamu butuh supir atau tukang ojek untuk kesana kemari, aku punya kontaknya. Orangnya baik lho, bisa-bisa kamu dikasih gratis antar-jemput pulang-pergi.”

“Ohya? Boleh juga tuh. Berapa nomernya?”

Aku pun menyebutkan serangkaian nomor telepon selular. Kau mengetiknya dengan cukup antusias.

“Sipp, udah aku save. Makasih ya, Drey.”

“Sama-sama. Ohya, coba kamu miskol orangnya.”

“Buat apa?”

“Ya biar dia juga bisa nge-save nomer pelanggannya lah,”

“Agak aneh sih, tapi ya udahlah…”

Kau lucu sekali, Re. Kau benar-benar menghubungi nomor itu. Kau kaget ketika hapeku berdering. Aku hanya tertawa.

“Astagfirullah, Drey. Jadi itu nomormu? Sumpah, nggak lucu!”

Aku semakin tertawa.

“Padahal aku sudah save nomor itu pakai nama ‘Tukang Ojek” lho… Ck ck ck.”

“Haha, akhirnya aku bisa punya nomormu tanpa aku minta ya?”

Kau hanya menggelengkan kepala, lantas diam.

“Re, kamu nggak marah kan? Aku serius kok mau antar-jemput kamu kemanapun kamu pergi.”

“Nggak perlu repot-repot, Drey…”

“Tapi aku nggak ngerasa direpotin…”

Kau tak menjawab. Kau hanya bilang, “Kosku didepan sana. Sekali lagi terimakasih sudah berbaik hati hari ini.”

Kau tersenyum padaku, lalu turun dari mobil begitu saja. Aku bingung, apakah yang aku lakukan padamu barusan adalah sebuah kesalahan? Aku rasa itu hanya gurauan.

 

Sehari setelah mengantarmu pulang, kau meneleponku. Kau tak tahu betapa girangnya aku mendapat telepon darimu.

“Halo, Re. Mau diantar kemana?”

“Kamu bisa datang ke kosku?”

“Siap!”

Hanya satu kata itu yang ku ucap. Dalam perjalanan, aku membayangkan akan mengantarmu beli makan malam, atau belanja ke swalayan, atau mengambil uang di ATM, atau yang lain. Aku membayangkan bahwa kau memberi sinyal positif, kau masuk dalam pusara perasaanku, Re. Tapi ternyata aku keliru. Kau memintaku datang ke kosmu untuk wawancara. Sebagai jurnalis kampus, kau saat itu bertugas meliput kegiatan yang ku pimpin.

“Maaf, seharusnya jurnalis yang mendatangi narasumber. Tapi kamu tahu kan aku tak punya kendaraan? Sedangkan aku dikejar deadline. Aku tahu ini sangat tidak profesional, tapi aku berterimakasih banget kamu mau datang,”

No matter,”jawabku singkat.

Wawancara pun berlangsung. Satu dua pertanyaan yang kau ajukan, ku jawab dengan lancar, sampai…

“Audrey, jawab pertanyaanku saja dan jangan tatap aku dengan pandangan seperti itu,”

Aku sontak tersadar dari lamunanku. Aku tersihir olehmu, Re.

 

Semenjak hari itu, aku menjadi seorang stalker. Dari hasil penguntitan, aku tahu kau suka warna biru. Langsung saja, tanpa ampun, aku menukar mobil Yaris silverku dengan Jazz biru. Aku beli berbagai kemeja biru dengan motif-motif berlainan. Tas biru, kacamata dengan rangka biru, dan sebagainya. Akhirnya, aku mampu menarik sedikit perhatianmu.

“Hey, Mr.Blue? Kamu suka warna biru juga?”

Aku mengangguk.

“Berarti kita sama dong…”

Aku tersipu.

 

Tapi, Re. Kedekatan kita hanya sebatas itu. Aku tak berani berharap jauh. Aku sudah ada yang punya. Di samping itu, KITA BERBEDA, walau perlahan aku mulai mencintaimu.

 

Lovina, 101010

Hari ini aku duduk sendiri, Re. Ombak Lovina yang ramah sesekali mencium kakiku, membasahi bagian bawah celanaku. Pantai ini cukup tenang, Re. Setenang batinku saat ini.

Beberapa minggu yang lalu aku dengar kau baru pulang dari Malang. Ada acara perkumpulan Rohis nasional kau bilang. Ada sesuatu yang aku khawatirkan, tapi aku tak ambil pusing. Kau bisa kembali ke Denpasar dengan utuh saja sudah membuatku tenang. Hmm, semoga tidak ada cinta yang kau titipkan disana.

Tak terasa satu tahun telah berlalu ya, Re? Keberadaan kita di Kelompok Ilmiah tak lagi sebagai anggota. Kita sama-sama masuk dalam kepengurusan. Walau hanya sebagai staf, tapi aku senang sekali.

Posisimu di Lembaga Pers bukan lagi sebagai kuli tinta pengejar narasumber. Kini kau menjadi seorang redaktur. Ah, padahal aku ingin diwawancara lagi olehmu.

Hari ini, di pantai ini, aku putus dengan pacarku. Ranias namanya. Ranias mengakhiri hubungan kami karena ia tak suka dengan kehidupanku yang sekarang, kehidupan yang serba sederhana. Ranias kecewa karena aku tak lagi membawa mobil, tak lagi tinggal di rumah mewah, padahal dulu mudah saja bagiku menukar mobil Yaris dengan Jazz, kalau bosan, ku tukar lagi dengan CRV, dan lainnya. Teman-teman di kampus heran menyaksikan betapa drastisnya revolusi ekonomiku. Hanya kau yang selalu tersenyum menepuk pundakku, menyemangatiku. Ini semua bukan karena papaku gulung tikar, tapi ini semua karena kamu, Re. Karena kamu!

Hampir setiap hari aku membaca blogmu. Posting yang sudah ku baca pun ku baca ulang. Dari situ aku tahu kau tak pernah simpati dengan mahasiswa yang serba ada. Kau menyebutnya Maserda (Mahasiswa Serba Ada). Kau bilang, Maserda bukanlah mahasiswa yang sesungguhnya. Maserda bukanlah pejuang. Maserda hanyalah mahasiswa KKK (Kampus-Kantin-Kamar). Maserda hanyalah KuPu-KuPu (Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang). Aku sungguh merasa terhujam, Re. Kau benar, selama ini hidupku serba mudah. Aku tak pernah berpikir nanti makan apa, karena para pembantu di rumahku sudah memasak. Aku tak pernah berpikir apa bajuku sudah kering dari jemuran, karena para pembantuku sudah mengurusnya. Aku tak pernah berpikir tentang uang jatah bulanan, karena mama selalu menyuplai dompetku lebih dari cukup.

Hari itu sebuah keputusan besar telah aku tetapkan, sebuah reformasi raksasa dalam hidupku. Aku berjalan ke ruang keluarga. Aku letakkan kunci mobil, STNK, Kartu ATM, dan arloji di atas meja. Papa, Mama, dan adik-adikku terheran-heran menatapku.

“Mulai besok aku nggak tinggal lagi di rumah ini…”ujarku lirih.

“Maksud kamu apa?”tanya Papa.

“Maaf kalau ini menyinggung Mama dan Papa. Aku hanya ingin hidup mandiri. Aku ingin ngekos. Aku kembalikan semua fasilitas yang Papa kasih. Aku khawatir akan selalu tergantung pada Papa, pada harta Papa. Lalu kapan aku bisa berjuang?”

“Ya ampun, Sayang. Kamu kuliah yang rajin dan IPK yang bagus saja sudah Mama anggap berjuang. Kamu punya rumah disini, buat apa ngekos?” sahut Mama.

“Ini bukan rumahku, Ma. Ini rumah Papa…”

“Ah, sok idealis lu!”ledek adikku.

“Tapi keputusan Audrey sudah final, Pa, Ma. Audrey mau minta restu, sekalian pamit sama Mama, sama Papa.”

“Papa bangga sama kamu, Audrey…”ucap Papa tersenyum.

“Terimakasih, Pa.”

“Eh, apa-apaan? Pokoknya nggak ada yang namanya ngekos! Kamu anak Mama, kamu punya hak untuk menikmati fasilitas ini. Sikapmu itu seolah kami ini orang lain…”Mama protes.

“Sudahlah, Ma. Biar saja dia menentukan pilihannya sendiri, yang penting kita bisa pastikan kalau dia tidak kelaparan di luar sana,”bujuk Papa pada Mama.

Setelah perdebatan panjang, keluarga akhirnya sanggup mengiringi kepergianku dengan ikhlas. Walau sebenarnya hampir tiap bulan Mama datang ke kos dengan berbagai macam makanan kesukaanku. Kehidupan sederhanaku tak lebih sederhana dari kamu, Re. Tapi aku berusaha mencoba. Aku ingin merasakan arus kehidupanmu, Re.

Tapi keinginanku hanya sebatas itu. Aku tak berani berharap lebih. Walau kini aku tak ada yang punya, tetap saja KITA BERBEDA, Re. Walau perasaanku padamu ku biarkan tumbuh, kita tetap berbeda.

 

Tanah Lot, 11-11-11

Hari ini aku duduk sendiri, Re. Aku duduk dengan kamera SLR di tanganku. Puluhan orang di sana sudah hendak mengabadikan surya tenggelam. Tapi aku memilih tetap disini, mengabadikan prosesi sang surya yang akan bersembunyi. Semburat warna jingga terpancar di ujung cakrawala. Indah sekali. Ah, seandainya kau ada disini bersamaku, Re…

Tahun ini banyak sekali amanah yang kau emban, Re. Dari mulai menjadi Kepala Divisi di Kelompok Ilmiah, Kepala Departemen di Rohis, Pemimpin Redaksi Majalah Kedokteran, sampai staf di perkumpulan Rohis nasional itu. Menurutku itu terlalu banyak, Re. Aku percaya kau bisa diandalkan di banyak organisasi, tapi aku sungguh mengkhawatirkan kondisimu. Aku tak mau melihatmu jatuh sakit.

Ohya, Re. Beberapa hari lalu aku jalan-jalan ke toko buku. Di sana aku melihat sebuah benda yang selalu kau bawa, selalu kau baca, selalu kau cium setelah kau selesai membacanya. Aku tahu apa itu, tapi aku tak tahu apa isi di dalamnya sampai-sampai kau tak pernah bosan membacanya. Aku penasaran. Aku ambil benda itu. Aku baca halaman pertamanya. Aku tertarik. Aku membelinya.

Di kos, semalaman aku begadang menghabiskan isi terjemahan benda itu. Sungguh sangat indah, Re. Ya, AlQuran memang indah.

Re, blog terakhirmu sungguh sangat menyesakkan kalbu. Kau bercerita bahwa kau sedang dekat dengan Rafi, pria yang kau temui di Malang tahun lalu. Kekhawatiranku benar ternyata. Kau menitipkan hati disana. Aku geram, Re. Amat sangat geram! Terlebih ketika kau bercerita dengan lugasnya bahwa kau juga pernah jatuh cinta saat SMA. Cinta yang bagimu menggemaskan, tapi bagiku justru meremukkan.

Percuma. Sedahsyat apapun api cemburu berkobar dalam dadaku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya tersudut dengan bodoh. KITA BERBEDA, Re, walau rasa cemburuku adalah tanda bahwa aku semakin mencintaimu.

 

Jimbaran, 12-12-12

Hari ini aku duduk sendiri, Re. Ikan bakar di hadapanku sudah ludes masuk ke lambung. Hanya aku yang tersisa dalam sunyi. Semilir angin pantai membelai kulitku, cukup menentramkan. Tapi akan lebih tentram lagi bila kau menemaniku disini, Re.

Lega rasanya ketika aku tahu kau tak lagi dekat dengan Rafi. Kedekatan kalian ternyata hanya seumur eritrosit. Tapi gundah hatiku kembali menyeruak ketika ada cinta kronis eksaserbasi akut yang kau alami. Pria yang dekat denganmu semasa SMA dulu kini mulai mendekatimu lagi setelah ia dengar kau tak lagi dekat dengan Rafi. Aku semakin cemburu, Re.

7 Desember yang lalu, aku bahagia sekali menatap rona gembira di wajahmu saat kau menerima kado ulang tahun dariku. Padahal aku hanya memberi 7 jilbab dengan 7 warna yang berbeda : merah marun, hijau metalik, jingga, biru langit, biru dongker, ungu, dan merah muda. Tapi kau sungguh senang luar biasa. Berkali-kali kau ucapkan terimakasih padaku. Aku hanya mengangguk-angguk seperti orang-orangan sawah.

Sudah tiga tahun aku hanya mencintaimu dalam diam, Re. Aku tak punya keberanian untuk mendekatimu. Kau pun hanya menganggapku sebagai teman biasa. Sungguh, ingin rasanya aku mendekapmu saat kau bersedih, saat kau kecewa. Ingin rasanya aku menjadi orang pertama yang menopangmu saat kau jatuh.

Saat yudisium kemarin, aku sungguh takjub melihatmu, Re. Jilbab putih yang membalut kepalamu, lengkap dengan jas dokter muda yang wangi, membuatmu tampak cantik. Memang tak secantik miss universe, tapi kharismamu sungguh sangat tidak manusiawi, karena itu kharisma para bidadari, Re. Jika aku berada di surga nanti, aku tak mau didampingi para bidadari surga, cukup hanya kamu, Re. Hanya kamu!

Usai yudisium, aku mengumpulkan serpihan keberanian untuk mengatakan hal itu. Mengatakan sesuatu yang sebenarnya aku sudah tahu bagaimana responmu kelak. Kau berdiri di balkon kampus. Perlahan aku mulai melangkahkan kaki menuju ke arahmu.

“Sendirian, Re?”tanyaku basa-basi.

“Seperti yang kamu lihat.”jawabmu.

“Re…”

Kau memalingkan wajah ke arahku, Re. “Ada apa?”tanyamu.

Seketika itu pula tenggorokannku rasanya tercekat. Rangkaian kata dalam otakku hancur berserakan. Bibirku kaku, terkunci rapat. Rasa panas menjalari seluruh tubuhku. Mataku mendadak perih. Otot-otot tubuhku terasa kaku. Tulangku lunglai. Hanya bilik kiri jantungku yang justru berdegup tanpa ampun, semakin memompa darah ke tubuh manusia yang gugup ini. Nafasku tersendat. Aku tak tahu mengapa berat sekali untuk berucap.

“Aku tahu ini tak wajar,” akhirnya aku melepaskan satu kalimat, “Aku tahu perasaan ini tak masuk akal, sungguh jauh dari rasionalitas. Aku sudah bisa menebak akan seperti apa responmu. Tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin melepaskan beban yang selama tiga tahun ini menghantuiku. Aku…”

Aku menarik nafas, “Aku jatuh sayang padamu, Renata…”

Satu detik. Dua detik. Kau tidak berespon apa-apa. Aku menunggu dalam bimbang.

“Perasaanmu sungguh sangat wajar. Sangat manusiawi. Jangan berpikir soal nalar dalam kasus ini. Aku tak marah, Drey. Ini bukan persoalan membalas rasa cinta, tapi ini murni masalah perbedaan. Mengertilah, Drey. Kita berbeda.”

Ya, aku tahu, Re. Kita memang berbeda. Kita menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda. Tapi aku janji suatu saat nanti aku akan menyebut nama Tuhanmu dalam doaku. Aku ingin menjadi imammu, Re. Sungguh.

 

Reqgi First Trasia

Denpasar, 21-12- 2012

 

 

 

  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s