Home

 

Senyum Sahabat Dalam

Seikat Wingko Babat J

Reqgi First Trasia

 

Tinnn! Tinnn! – Woiii, cepat! Maju sedikit dong! Lemot amat sih!

Suara bel bersahutan diiringi suara makian para supir truk, supir bus, bahkan supir pribadi kepada siapapun di barisan depan yang tidak segera menjalankan motornya di tengah kemacetan.

Bus Kibar Jaya jurusan Tangerang-Surabaya melaju bagaikan kura-kura di jalur Pantura kawasan Cirebon. Di dalam bus, Nafis berjalan dari kursi belakang ke arah depan sambil memegang kepalanya. Tampak Ia sedang mencari-cari kursi kosong.

“Assalamualaikum,”ucap Nafis pada seorang gadis berjilbab hijau muda yang sedang duduk seorang diri menghadap ke arah jendela.

“Waalaikumsalam warahmatullah,”jawab gadis itu seraya memalingkan wajahnya dari jendela.

“Akiva?!”spontan Nafis terkejut melihat gadis yang disapanya.

“Saya bukan Akiva. Mungkin Mas salah orang,”ujar si gadis sambil tersenyum.

Nafis lama sekali memandang si gadis. Ia yakin betul bahwa gadis itu adalah Akiva.

“Maaf, Mas. Tolong jangan pandang saya seperti itu. Saya tidak enak hati.”

“Astagfirullah. Maaf, maaf. Hmm, saya cuma sedang cari kursi kosong. Kepala saya pusing dan mual kalau duduk di belakang. Apa kursi di sampingmu ini ada yang punya?”

“Ada, Mas.”

“Oh, oke. Kalau begitu saya cari kursi lain. Maaf,”jawab Nafis dengan kilat sambil berlalu meninggalkan si gadis. Nafis salah tingkah.

Melihat Nafis pergi, si gadis langsung berdiri dan sedikit berteriak, “Yang punya kursi ini ya juragan busnya, Mas.” Si gadis menahan tawa.

Nafis berbalik arah dan tersenyum.

“Boleh saya duduk di sini?”tanya Nafis.

“Silakan,”jawab si gadis singkat.

“Ohya, saya Nafis,”ucap Nafis sambil mengulurkan tangan kanannya.

Si gadis hanya menelungkupkan kedua tangannya, gaya khas seorang muslim saat berkenalan, tidak membalas uluran tangan Nafis, “Saya Rista.”

“Rista… Rista… Saya pikir kursi ini tadi ada yang punya,”kata Nafis membuka obrolan.

“Lho? Benar kan? Kursi ini memang ada yang punya. Kalau Mas Nafis tanya apa kursi ini ada penumpangnya, baru jawabannya tidak ada, hehe…”

“Bisa aja kamu. Ngomong-ngomong mau kemana kamu?”

“Saya mau ke Sidoarjo. Kalau Mas Nafis?”

“Saya ke Wonokromo.”

“Oh.”jawab Rista padat. Ia kembali memandang ke arah jendela. Ia lihat senja mulai merayapi tubuh jalur Pantura area Tegal. Di seberang jendela, hamparan padi yang menguning dilanjutkan dengan rawa yang penuh dengan ilalang, membuat Rista betah berlama-lama diam menyaksikan matahari yang perlahan sembunyi di balik bumi Tegal.

Di samping bus, ratusan kendaraan berjajar macet. Beginilah suasana mudik lebaran. Ada yang nekat mengendarai sepeda motor demi bertemu keluarga di kampung. Ada pula para supir bajaj yang rela ratusan kilometer megendarai bajajnya bersama keluarga hanya sekadar untuk berkumpul dengan sanak saudara di daerah asal. Para supir mobil boks terbuka mengakali mobilnya dengan memberi terpal di atas boks agar perlengkapan mudiknya bisa terlindungi. Ya, merekalah para perantau yang punya semangat juang tinggi.

“Kamu memang orang yang pendiam ya, Ris?”

Rista terkejut, “Eh, enggak, Mas. Cuma saya senang saja melihat di seberang sana seolah matahari ditusuk oleh puluhan ilalang. Saya juga senang melihat situasi mudik yang begitu semarak.”

“Benar juga sih. Suasana seperti ini cuma bisa kita dapatkan sekali dalam setahun. Momen yang langka!”

Rista menganggukkan kepalanya.

“Rista, kamu ini mirip banget lho sama adik kelasku dulu pas SMA.”

“Ohya? Emm, yang Mas sebut Akiva tadi ya?”

“Iya, tapi saya dengar kabar terakhir dia sudah meninggal.”

“Innalillahi. Maaf ya, Mas.”

“Nggak apa-apa. Tapi entah kenapa aku yakin dia masih hidup, Ris.”

“Hush, nggak boleh begitu, Mas. Apapun yang terjadi, kita harus ikhlaskan.”

“Masalahnya nggak segampang itu, Ris.”

“Maksud Mas?”

“Akiva mengalami kecelakaan saat hendak menuju Islamabad.”

“Pakistan?”

“Iya. Pesawat yang ditumpanginya jatuh di sekitar Teluk Bengal, India.”

“Kalau boleh tahu, untuk apa almarhum pergi ke Islamabad?”

“Jangan panggil dia almarhum, Ris,”

“Oke, maaf.”

“Dia pergi untuk penelitian tentang amoeba pemakan otak manusia yang biasanya masuk melalui hidung saat korban berenang di sungai yang terkontaminasi. Katanya penyakit itu sedang marak di Pakistan.”

Rista mengangguk. Ia tetap mendengarkan dengan khusyuk, sementara bus mulai memasuki daerah Brebes.

“Akiva itu mahasiswa kedokteran di Universitas Udayana, Ris. Saat SMA dulu, kami sering belajar bersama, walau kami berbeda angkatan. Aku seniornya. Kami sama-sama terobsesi masuk Fakultas Kedokteran. Setelah aku bisa masuk Fakultas Kedokteran di Universitas Airlangga, Akiva semakin semangat untuk belajar agar bisa satu kampus denganku. Tapi Allah berkehendak lain, Akiva justru diterima di Udayana, Denpasar.”

“Rencana Allah pasti lebih indah, Mas.”

“Betul, Ris. Udayana justru mengantarkan Akiv menjadi mahasiswi berprestasi. Akiv cukup dikenal di kalangan mahasiswa muslim kedokteran di Indonesia. Tak hanya itu, Udayana pula yang mengantarkan Akiv untuk mendapat beasiswa penelitian di Islamabad, padahal saat itu dia masih di awal semester dua.”

“Subhanallah, keren banget.”

“Yang membedakan kamu dengan Akiv itu dari jilbabmu. Akiv dulu belum berjilbab. Terus lagi, hidungmu lebih mancung dan bibirmu lebih tipis, tapi senyum Akiv jauh lebih manis. Hmm, sekilas kalian berdua seperti saudara kembar.”

“Semoga kemiripan saya dengan Akiv bisa sedikit mengobati kesedihan Mas.”

Nafis tersenyum mendengarnya. Ia membetulkan posisi tas yang disandarkan di bawah kursi tempatnya duduk. Rista memperhatikan sedari tadi Nafis begitu berhati-hati menjaga tas berisi biola itu.

“Jago main biola?”tanya Rista.

Nafis sedikit mengangkat tas biolanya. “Kedekatanku dengan Akiv dulu berawal dari biola. Kami kursus biola di tempat yang sama, hanya saja aku lebih senang musik klasik, sedangkan Akiv senang musik Jazz. Pernah kami berkhayal mengklasikkan musik jazz dan menjazzkan musik klasik, tapi itu nyaris mustahil.”celoteh Nafis sambil tertawa.

Rista tersenyum. “Hmm, boleh saya pinjam biola Mas?”

Nafis mengangkat alis. Ia heran.

“Kenapa? Takut rusak ya kalau biolanya saya pinjam?”

Nafis menggeleng. Ia membalas senyum Rista sambil membuka tas dan menyerahkan biola pada Rista.

Dari cara Rista memegang biola, tampak Ia sudah sering memainkannya. Nafis diam, menunggu apa yang hendak dilakukan Rista dengan biola kesayangannya itu. Perlahan Rista mulai menggesek biola. Rista terus melantunkan satu lagu, tak peduli Ia sedang berada di mana dan sedang menggunakan biola milik siapa. Senyum Nafis mulai merekah, Ia menyukai permainan Rista, Ia tampak begitu menikmati.

Satu lagu selesai. Puluhan tepuk tangan dari para penumpang dalam satu bus membuat Nafis dan Rista kaget. Rista berdiri dari duduknya. Ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada mereka.

“Mimpi dan rumah ketujuh, Indra Lesmana,”ucap Nafis.

“Kamu bilang senang musik klasik, tapi kok tahu lagu Jazz juga?”

“Akiv dulu juga sering memainkan lagu itu.”

“Maaf, kalau hampir semua yang ada dalam diri saya selalu mengingatkan Mas pada Akiv.”

Nafis menarik nafas panjang dan dalam. Guratan kesedihan kembali menghias wajahnya. Sementara bus tetap tenang melaju di jalur Pantura area Pekalongan.

“Ngomong-ngomong, kamu asli Tangerang?”tanya Nafis.

“Bukan, saya cuma kuliah di Jakarta, terus mampir sebentar di Tangerang. Kalau Mas Nafis sendiri?”

“Dulu waktu saya SMA, keluarga saya domisili di Tangerang, tapi saya dan keluarga asli Surabaya. Ayah sempat dinas di Tangerang. Sekarang beliau menyuruh saya mengurus beberapa surat pindah kami, jadi ya begini.”

“Wah, anak yang berbakti, hehe…”ujar Rista.

Nafis tertawa. “Dari tadi kan aku terus yang cerita. Sekarang gantian kamu dong. Aku kan mahasiswa kedokteran Unair. Kalau kamu?”

“Saya mahasiswi kedokteran juga, Mas.”

“Ohya? Kebetulan banget! Dimana? Semester berapa?”

“Saya di UI, semester tiga. Mas semester berapa?”

“Saya sudah dokter muda, inshaAllah semester depan saya jadi dokter.”

“Aminnn… Sukses ya, Mas!”

“Makasih. Kalau Akiv masih ada, dia pasti sudah semester tujuh sekarang.”

“Jangan berlarut-larut menyesali masa lalu, Mas.”

Nafis tersenyum perih, tetapi dia berusaha mengalihkan pembicaraan, “Hmm, kamu ngapain mampir ke Tangerang dulu? Kan dari Salemba bisa langsung cari bus ke arah Surabaya?”

“Iseng aja sih.”

“Iseng?”

“Saya juga nggak tahu kenapa saya pingin banget datang ke Tangerang, padahal nggak ada tujuan apa-apa. Di Tangerang juga saya cuma keliling naik angkot, sholat di Masjid Walikota, makan di sekitar lapangan belakang sekolahan, jalan-jalan di tepi sungai Cisadane, terus langsung ke terminal, cari bus ini.”

“Maksudmu lapangan belakang SMA 1 Tangerang?”

“Iya, kalau nggak salah itu nama sekolahnya. Kok Mas Nafis tahu?”

“Itu dulu sekolahku sama Akiv.”

“Maaf.”

“Kamu nggak perlu minta maaf, Ris. Hmm, kamu aneh ya kok bisa-bisanya jalan-jalan ke luar kota begitu cuma karena iseng?”

Rista menertawakan dirinya sendiri. Bus masuk ke Semarang.

“Boleh saya tanya sesuatu, Mas?”

“Silakan.”

“Tapi janji jangan sedih ya?”

“InshaAllah. Emang mau tanya apa?”

“Kenapa Mas begitu yakin kalau Akiv masih hidup?”

“Segera setelah aku lihat berita di tivi tentang kecelakaan pesawat dari Jakarta menuju Islamabad, aku langsung menelepon keluarga Akiv di Tangerang. Ternyata benar, itu adalah pesawat yang ditumpangi Akiv. Saat itu aku sangat terpukul. Aku menyesal karena tidak sempat mengantarkan Akiv sampai bandara Soekarno-Hatta. Waktu itu aku sedang persiapan yudisium, padahal Akiv meminta aku untuk menemaninya dari Bali sampai Jakarta, tapi aku cuma bisa mendoakannya dari Surabaya.”

“Lalu?”

“Keesokan harinya aku menelepon lagi keluarga Akiv. Akiv masih belum ditemukan. Aku mohon ke Ibunya untuk segera mengabari aku jika sudah ada kabar tentang Akiv, tapi sampai hampir delapan belas bulan berlalu, sampai detik ini, Ibunya belum juga mengabariku.”

“Itu artinya tidak ada kabar tentang Akiv atau memang Ibunya yang tidak mengabari?”

“Aku nggak tahu, Ris. Terakhir aku dapat kabar kalau keluarga Akiv pindah ke Jawa Timur, tapi nggak tahu lokasi pastinya dimana. Ibunya mulai susah dihubungi.”

“Kalau boleh tahu, apa hanya karena penyesalan tidak bisa menemani detik-detik terakhir Akiv yang membuat Mas menunggu ketidakpastian macam ini? Saya merasa ada hal lain. Apa benar?”

“Kamu benar.”

Rista menunggu kelanjutan kalimat Nafis, tetapi Nafis membisu. Bus masuk ke Demak. Nafis masih diam. Rista merasa bersalah karena telah menyuguhkan pertanyaan tadi. Tatapan Nafis lurus ke depan, sementara Rista kembali ke kegemaran memandang seberang jendela.

Bus sudah melewati Kudus, Pati, Rembang, dan Tuban. Namun mereka berdua tak bicara apa-apa. Suasana semakin kaku. Nafis seolah sedang mengukir kenangan saat Akiv masih tertawa bersamanya. Rista semakin merasa telah melukai memori Nafis.

Bus berhenti di salah satu SPBU di Babat. Si supir meminta izin pada para penumpang untuk buang air kecil. Rista yang masih terus memandang ke luar jendela tak sengaja matanya menangkap seorang penjual wingko asli Babat. Rista langsung mengambil inisiatif tindakan.

“Permisi, Mas, saya mau turun sebentar,”pinta Rista.

Nafis tak bicara. Ia hanya menyampingkan kakinya agar Rista bisa lewat. Rista turun dari bus. Nafis mengintip dari dalam bus apa yang dilakukan Rista di luar. Awalnya Nafis berpikir Rista akan ke toilet, tapi ternyata dugaannya tidak tepat.

Rista kembali ke dalam bus dengan dua kantong wingko. Ia duduk dan menawarkan wingko pada Nafis.

“Mau wingko, Mas?”

Nafis memutar kepalanya ke arah wingko yang disodorkan Rista. Nafis tersenyum dan mengambilnya.

“Makasih ya.”

“Sama-sama. Sudah nggak marah kan sama saya gara-gara pertanyaan tadi?”

“Lho? Siapa yang marah?”

“Tapi dari tadi Mas diam terus.”

“Masa’ saya disuruh ngomong terus?”

“Hmm, jadi kenapa Mas diam?”

“Aku lapar, Ris.”jawab Nafis polos.

Rista tertawa lebar. Sejenak kemudian Ia kembali diam karena kesal.

“Mas tahu nggak? Dari tadi itu saya merasa bersalah karena Mas diamkan saya. Saya pikir saya menanyakan pertanyaan yang salah.”ujar Rista kecewa sambil menarik kantong wingko yang tadi diberikannya pada Nafis.

Nafis sangat ingin meraih wingko itu kembali. Selain lapar, Ia juga sangat menyukai wingko Babat.

“Sebagai balasan dari kegalauan saya selama di perjalanan tadi, saya akan biarkan Mas kelaparan sampai Surabaya.”

“Saya bisa beli wingko sendiri kok. Huff…”sahut Nafis kesal.

“Oh, silakan.”

Saat Nafis hendak turun, si supir sudah kembali dari toilet dan siap menancap gas menyusuri jalur Pantura. Nafis batal membeli wingko. Ia kembali ke kursi dengan tangan hampa.

“Mana wingkonya?”tanya Rista meledek.

“Ris, ayolah, bagi wingkonya.”

Rista tak tega melihat wajah Nafis memelas. Rista memberikan satu bungkus wingko pada Nafis.

“Aku juga punya kenangan tentang wingko Babat, Ris.”

“Kenangan apa?”

“Dulu Akiv pernah jadian sama mahasiswa kedokteran yang kampungnya di Babat. Akiv meneleponku dari Bali untuk menceritakan kisah cintanya. Unik memang, laki-laki itu kuliah di Malang. Dia nekat menyusul Akiv ke Denpasar hanya untuk menyatakan cintanya, padahal jarak Malang-Denpasar itu sangat jauh kalau ditempuh dengan sepeda motor. Sepertinya laki-laki itu sangat mencintai Akiv. Sejak saat itulah Akiv mulai doyan wingko. Alasannya sepele, cuma karena wingko itu asli dari tempat kelahiran pacarnya. Padahal dulu setiap aku tawari wingko, dia selalu menolak dengan berjuta alasan.”

“Cinta memang unik ya, Mas?”tanya Rista sambil menyodorkan satu bungkus wingko lagi pada Nafis.

“Bukan unik, tapi sangat unik. Jujur aku sedikit kecewa mendengar Akiv bersama laki-laki itu. Tapi melihat Akiv bahagia dengan pilihannya, aku pun bahagia selama dia terus tersenyum. Aku katakan pada laki-laki itu untuk menjaga hati Akiv dengan baik, tapi nyatanya apa? Dia malah mengacuhkan Akiv dengan alasan organisasi. Aku heran, sebesar apa sih organisasi yang dipimpinnya sampai dia sama sekali tak ada waktu untuk sekadar mengirimi Akiv SMS atau telepon.”

“Menurut saya, Mas Nafis ini dungu.”

“Hush, kata-katamu frontal banget! Nggak sopan tuh!”

“Maaf, seharusnya sebagai laki-laki yang jantan, Mas harus berani menyatakan cinta pada Akiv. Kalau sudah diambil orang begitu kan Mas juga yang galau. Kadang-kadang orang menutupi kebodohannya dengan mengatasnamakan cinta. Itu yang saya tidak suka. Jangan jadi pengecut, Mas. Kalau Mas yakin bisa membahagiakan Akiv, Mas harus perjuangkan itu.”

“Seratus buat kamu, Ris. Tapi kan sekarang kita nggak tahu Akiv masih hidup atau….”

“Tuh kan, kalau begini penyesalannya makin berlipat-lipat.”

Nafis termenung. Tak lama, ia melanjutkan ceritanya, “Hubungan Akiv dan pacarnya hanya bertahan lima bulan. Sejak saat itu pula Akiv mulai membenci wingko. Ah, ada-ada saja dia itu. Aku jadi menemukan satu perbedaan lagi antara kamu dengan Akiv.”

“Apaan tuh?”

“Akiv membenci wingko, sedangkan kamu maniak wingko. Sampai-sampai kuat menghabiskan dua kantong wingko. Ck ck ck.”

Rista tersenyum malu.

Bus sudah mulai masuk ke area terminal Bungurasih, Surabaya.

“Dari sini ke Sidoarjo, kamu naik apa?”

“Saya dijemput sama Ibu dan Ayah. Kalau Mas?”

“Aku seperti biasa, naik angkot.”

Bus berhenti dengan tertib. Nafis membantu Rista mengambil tasnya dari atas rak. Rista bersiap turun. Nafis membenahi posisi tas biolanya. Mereka berdua turun dan bersama mengucap Alhamdulillah atas perjalanan yang mempertemukan mereka.

“Orang tuamu mana, Ris?”

“Itu mereka!”sahut Rista spontan sambil menunjuk ke arah orang tuanya.

Nafis terkejut, tapi Ia berusaha menutupinya. “Boleh aku ikut?”

“Boleh, yuk!”

Begitu sampai di depan orang tuanya, Rista langsung mencium tangan mereka. Mereka heran Rista bersama Nafis.

“Nafis?!”ucap Ibu Rista terkejut.

“Tante dan Om, masih ingat saya?”tanya Nafis.

            Rista masih bingung dengan pemandangan itu.       

            “Fis, boleh tante bicara sebentar?”

            Nafis mengangguk. Ibu Rista dan Nafis menjauh dari Rista.

            “Sebelumnya tante minta maaf ke kamu, Fis. Tante nggak ngasih kabar kalau pindah ke Sidoarjo. Tante juga nggak ngasih kabar kalau…” Ibu Rista mulai menangis.

            “Kalau apa, Tante?”tanya Nafis penasaran.

            “Kalau sebenarnya Akiv sudah ditemukan satu setengah tahun yang lalu.”

            “Alhamdulillah… Sekarang dia dimana, Tante?”

            Ibu Rista terus saja menangis. Dari jauh, Rista heran melihat Ibunya sesenggukan. Rista bertanya pada Ayahnya.

            “Ayah, ada apa ini sebenarnya?”

            “Nanti kamu juga akan tahu, sayang.”jawab Ayahnya.

            Ibu Rista mengeluarkan tisu dari dalam tasnya. Ia menyeka air matanya.

            “Apa maksud air mata Tante? Tolong jangan buat saya penasaran. Delapan belas bulan tanpa kabar tentang Akiv itu rasanya sesak, Tante.”

            Tangis Ibu Rista makin menjadi-jadi. Nafis mulai menebak arti dari tangisan itu.

            “Oke, sekarang dimana makam Akiv, Tante?”tanya Nafis dengan mata sembab.

            Ibu Rista berhenti menangis. Kini giliran Nafis yang menangis.

 “Akiv masih hidup!” Plakkk! Ibu Rista menampar Nafis.

“Alhamdulillah. Tampar saya sekali lagi, Tante. Dan katakan kalau Akiv masih hidup!”

Ibu Rista memeluk Nafis seperti anaknya sendiri.

“Sekarang Akiv dimana, Tante?”

“Dia kan sudah sembilan jam bersamamu di perjalanan tadi.”

“Tidak, Tante. Itu Rista, bukan Akiv. Akiv tidak mungkin tidak mengenali saya.”

“Kamu ingat kan nama panjang Akiv?”

“Akiva Farhista Dellana”

“Ya, Akiv adalah Rista, Fis. Saat ditemukan di Tanjung Bengal, India, dokter mendiagnosa dia mengalami amnesia parsial. Dia hanya bisa mengingat sebagian memori di masa lalu. Dia masih mengingat keluarganya, kampusnya di Udayana. Udayana tidak menerimanya lagi sebab dia sudah berbulan-bulan meninggalkan perkuliahan. Kejam memang, tapi karena dia masih mengingat berbagai materi kuliah dan pelajaran SMA, dia bisa lolos SNMPTN lagi di FK UI. Dia mengingat banyak hal, tapi dia tidak ingat masa SMA-nya, Fis.”

“Dan dia juga tidak ingat saya, Tante?”

“Benar, Fis. Itulah mengapa Tante tidak mengabarkan ke kamu. Tante khawatir kamu semakin sedih.”

“Kenapa, Tante? Kenapa Akiv melupakan saya? Apakah keberadaan saya sangat tidak penting dalam hidup Akiv selama ini? Dan kenapa wajah Akiv dan Rista berbeda?”

“Ada beberapa luka parah di wajah Akiv yang membuatnya harus menjalani operasi plastik. Bibir dan hidungnya sedikit berubah, tapi dia tetap Akiva Farhista. Usai tiba di Indonesia, dokter masih menyatakan Akiv belum sembuh dari amnesianya. Kami sekeluarga dan dokter pun heran sebab alam bawah sadar Akiv seperti menyeleksi memorinya. Hanya kenangan-kenangan indah yang diingatnya. Sedangkan kenangan buruk terlupakan.”

“Jadi maksud Tante, saya adalah bagian dari kenangan buruk Akiv?”

Ibu Rista mengeluarkan dua buku dari dalam tasnya. “Ini adalah buku-buku harian Akiv. Dia meninggalkannya di bawah bantal sebelum pergi ke Islamabad. Buku biru berisi semua hal-hal menyenangkan, sedang buku merah berisi hal-hal yang menyedihkan.”

Ibu Rista memberikan kedua buku itu pada Nafis. Nafis menerimanya dengan penuh tanya dan penuh harap.

“Saya mencintai Akiv, Rista, atau siapalah dia, Tante. Saya tidak peduli apa dia mengingat saya atau tidak. Saya hanya ingin Akiv bahagia bersama saya.”

Ibu Rista mengangguk. Ia dan Nafis berbalik menemui Rista dan Ayahnya.

“Om, saya mencintai putri Om dari dulu.”ucap Nafis dengan mantap.

“Ya, Om tahu. Om sangat hargai perasaanmu. Tapi apa kamu rela harus memulai segalanya dari nol? Kamu tahu kan Akiv sangat tidak mengenalmu?”

“Bagaimana, Rista?”tanya Nafis pada Rista, “Apa kamu menerima kehadiran saya?”

“Apa-apaan kamu, Mas? Saya baru kenal Mas di bus. Jangan mentang-mentang saya amnesia, lantas Mas memanfaatkan saya untuk kepentingan Mas.”

“Rista, Akiv, aku sudah lama mengenalmu dan keluargamu, jadi nggak mungkin aku mendzalimi kamu.”

“Kalau memang dulu Mas adalah orang baik, kenapa justru saya sama sekali tidak mengingat Mas?”

“Itulah yang ingin aku tanyakan, Akiv. Apa salahku di masa lalu sampai aku masuk ke dalam buku merahmu?”

Nafis menyerahkan buku merah pada Akiv, “Baca yang lantang, Kiv. Biar Ibu dan Ayahmu dengar. Dan kalau memang aku punya salah, aku akan minta maaf detik ini juga.”

Akiva menerima buku merah itu dengan ragu. Ia membuka halaman demi halaman, mencari kata Nafis disana. Benar, nama Nafis tercetak tebal di halaman “Aku dan Nafis”.

“Lihat ini, nama Mas ada disini. Itu artinya Mas bukan orang baik.”sergah Akiva.

“Baca dulu, Kiv. Baca!”pinta Nafis.

Akiva mulai membaca : Aku kesal pada Mas Nafis. Apa selama bertahun-tahun kami bersama, dia sama sekali tak menaruh hati padaku? Dia memang selalu bersikap baik, bahkan sangat baik. Tapi tak tumbuhkah perasaan seperti yang orang bilang? Witing tresno jalaran soko kulino? Ah, omong kosong!

Apakah pecinta musik klasik seperti Mas Nafis selalu kaku? Aku tak tahu. Bahkan aku sangat tak paham mengapa justru ia mengucapkan selamat saat aku memilih untuk bersama Rafi. Jika memang dia mencintaiku, mengapa dia diam dan merelakan aku bersama orang lain? Jika dia tidak mencintaiku, mengapa dia selalu memperlakukan aku layaknya putri raja dan menjengukku setiap bulan di Bali? Begitukah semua laki-laki? Jika aku menunggunya menyatakan cinta, itu artinya aku tenggelam dalam dunia khayal. Aku tak suka itu. Aku menyenangi jalan logikaku bersuara. Itulah sebab aku memilih untuk membencinya dari pada berlarut-larut mempertanyakan hatinya. –Denpasar, 7 Desember 2010 – Akiva –

Akiva menangis. Ia sadar, walaupun tak ingat, bahwa laki-laki di hadapannya ini adalah laki-laki yang sangat dicintainya dan mencintainya.

“Kamu tahu kenapa kaca depan mobil jauh lebih besar daripada kaca spion? Itu karena menatap masa depan jauh lebih penting daripada menengok ke belakang, Kiv,”ujar Nafis meyakinkan.

Kini Akiva tak peduli seberapa banyak memori yang hilang. Yang ia tahu, ia ingin menjalani masa depannya dengan orang yang mencintainya. Itu saja.

 

Denpasar, 27 Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s