Home

Membungkus Dendam Dalam Ikhlas

Reqgi First Trasia

 

“Selanjutnya, Nyonya Elsyanti Purnama…”teriak seorang suster memanggil giliran dari serangkai nomor antrian.

Seorang wanita berlari kecil, menggendong seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun, menuju poli anak.

* * *

            “Elsyanti Purnama? Nama itu… Nama itu…”gumam seorang dokter dari dalam poli.

            Sang dokter mulai panik. Ia benahi lipatan jilbabnya. Ia benarkan posisi kacamata. Aura kemarahan terbersit di wajahnya. Beberapa kali ia meremas tangannya sendiri. Nama itu… Nama itu… Ah, belum tentu. Pemilik nama itu belum tentu hanya satu orang.

            “Silakan masuk, Bu,”ujar suster mempersilakan Elsya masuk.

            Pintu poli berdecit terbuka.

            Sang dokter menegakkan lehernya. Ia menunggu wajah siapa di balik nama itu.

            “Kamu!” Sang dokter terperanjat melihat Elsya.

            “Kak Abia?”tanya Elsya heran.

            Raut wajah Abia berubah. Keningnya berkerut.

            “Ma… Maaf, maksud saya… Dokter Abia…”lanjut Elsya salah tingkah. Anak kecil dalam gendongannya mulai menangis tanpa sebab.

            “Suster, saya tidak mau menerima pasien ini. Berikan dia pada Dokter Zenia,”pinta Abia pada si suster.

            “Maaf, Dok. Dokter Zenia sedang mengajar di kampus.”

            “Kalau begitu berikan pada Dokter Galang.”

            “Dokter Galang sedang operasi, Dok.”

            Elsya merasa tak enak hati menyaksikan adegan itu. Ia tak menyangka Abia begitu menolak kehadirannya. Ia membisu, mencoba menenangkan putrinya yang masih menangis.

            Abia diam, pancaran rasa kecewa sangat tak bisa ia tutupi.

            Tangis anak dalam gendongan Elsya seketika terhenti. Kaki dan tangan anak itu bergerak aneh, seperti tak disadarinya. Mata anak itu melirik ke atas. Elsya yang sedari tadi berdiri di ambang pintu poli terkejut melihat putrinya. Anak itu kejang!

            “Astagfirullah… Kak Abia… Kak Abia… Anak saya, Kak…”teriak Elsya panik.

            Abia masih duduk terpaku di kursinya menahan marah. Ia hampir tak peduli dengan anak Elsya.

            “Dokter… Dokter… Bagaimana ini, Dok?”suster pun turut membujuk Abia.

            Energi dari Allah pun menelusup ke relung hati Abia. Ia sejujurnya tak tega dengan kondisi anak Elsya di depan matanya, tapi ia tak bisa memungkiri bahwa wanita yang sedang menggendong anaknya itu adalah bagian dari masa lalu busuknya. Abia menggelengkan kepala. Ia bangkit dari duduknya.

            “Ambilkan diazepam!”pinta Abia pada suster.

            “Letakkan anakmu di atas bed!”kini pinta Abia tertuju pada Elsya.

            Tanpa banyak bicara, Elsya langsung melakukan apa yang dipinta Abia. Abia memasukkan ujung bantal ke mulut anak itu. Anak itu pun mulai menggigit ujung bantal tanpa sadar. Suster memberikan diazepam pada Abia.

            “Bismillahirahmanirrahim…”bisik Abia lirih seraya menyuntikkan diazepam pada tubuh anak itu.

            Abia, Elsya, dan suster menunggu reaksi obat. Abia melihat dengan sudut matanya, Elsya yang sedang menangis sesenggukan menyaksikan apa yang dialami putrinya beberapa detik yang lalu. Alhamdulillah, diazepam bekerja dengan efektif. Anak itu berhenti dari kejangnya. Mata yang tadi melirik ke atas, kini bisa menatap ibunya, Elsya.

            “Ambil bantalnya,”pinta Abia pada suster.

            Abia mulai meletakkan diafragma stetoskop ke dada anak itu, memeriksanya secara perlahan.

            “Sejak kapan dia seperti ini?”tanya Abia pada Elsya sambil meletakkan thermometer di ketiak anak itu. Abia enggan menatap wajah Elsya, ia masih kesal.

            “Sudah tiga hari dia demam, Kak,”jawab Elsya.

            Abia akhirnya tak kuasa untuk tak menatap Elsya. Melihat tatapan Abia yang tajam, Elsya memperbaiki kalimatnya, “Maaf, maksud saya, sudah tiga hari dia demam, Dok.”

            “Maksudku bukan itu. Aku nggak peduli kamu panggil aku ‘kak’ atau ‘dokter’. Aku bukan orang yang gila hormat. Yang aku heran, mengapa kamu baru bawa dia ke rumah sakit, padahal sudah tiga hari dia demam. Ibu macam apa kamu ini…” Abia menghentikan kalimatnya, “Astagfirullah, maafkan saya Elsya.”

            Elsya hanya diam, ia terus memandangi putrinya dengan air mata yang tertahan. Ia membayangkan jika putrinya tahu apa yang sudah dilakukan ibunya dulu terhadap dokter cantik yang telah menyelamatkannya ini, tentu putrinya akan marah pula.

            “Bagaimana demamnya? Naik turun atau menetap?”tanya Abia pada Elsya sambil duduk di kursinya.

            “Semakin hari semakin panas, Dok. Saya sudah coba beri parasetamol, tapi panasnya nggak mau turun,”jawab Elsya yang juga duduk berhadapan dengan Abia.

            Setelah Abia melakukan heteroanamnesis, ia segera menulis rujukan ke laboratorium. Ia bubuhkan ceklis pada daftar pemeriksaan laboratorium itu dan memberikannya pada suster.

            “Aku harus tahu hasil lab dulu untuk memastikan penyebab demam anakmu. Boleh kan?”

            “Lakukan saja apa yang terbaik, Dok,”jawab Elsya datar.

            “Oke, dan sepertinya dia….”

            “Fasya namanya, Dok,”

            “Fasya butuh opname sekitar satu atau dua hari sampai kondisinya benar-benar pulih,”

            Elsya mengangguk. Ia berdiri, mengucapkan terimakasih pada Abia, lantas keluar mengikuti suster yang menunjukkan jalan menuju laboratorium.

Abia tersenyum hambar. Ia berusaha bersikap ramah. Ia pun terlihat biasa saja ketika pasien-pasien berikutnya tiba. Sama sekali tak tampak aura kecewa seperti yang diperlihat-kan ketika Elsya datang. Ia tampil seolah sudah melupakan kejadian beberapa menit yang lalu. Abia memang selalu profesional. Ia sadar, tak seharusnya konflik pribadi dibaurkan dengan pekerjaannya sebagai seorang dokter.

Pasien di poli anak sudah habis. Jam praktik Abia pun telah usai. Ia tunaikan kewajibannya dengan baik. Ia senang melihat kepuasan setiap pasien, baik itu si anak maupun orang tua si anak, yang berinteraksi dengannya. Abia meregangkan tangannya.

“Hmm, banyak sekali pasien hari ini ya, Sus,”ujar Abia pada suster.

“Iya, Dok. Dokter pasti capek ya?”tanya Suster.

“Enggak juga sih, ini kan memang sudah tanggung jawab saya. Makasih untuk hari ini ya, Sus, sudah bantu saya dengan sabar,”ungkap Abia dengan senyum tulusnya.

“Sama-sama, Dok. Saya justru senang kerja sama Dokter Abia, kalau sama Dokter lain itu galak banget, Dok. Hehe.”

Mereka berdua pun tertawa kecil.

“Ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu ya, Sus. Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam warahmatullah…”

Abia melepaskan jas dokter dan menggamit jas itu di tangannya. Ia ambil tas, lalu keluar dari poli. Betapa terkejutnya ia ketika Elsya ternyata masih duduk di ruang tunggu depan poli.

“Dokter Abia…”panggil Elsya.

Abia pura-pura tak mendengar panggilan itu. Ia terus melangkah, membenahi lipatan jilbabnya sambil tetap menatap lurus ke depan. Elsya tak henti memanggil Abia sambil berlari. Elsya terus berlari sampai….. Elsya memeluk kaki Abia yang dibalut rok panjang merah jambu. Mau tak mau, langkah Abia terhenti. Air mata Elsya mulai tumpah.

“Maafkan saya, Dok. Maafkan saya…”

Abia berusaha tegar, “Lepaskan pelukanmu. Jangan sujud pada saya seperti ini!”

Perlahan Elsya mulai melepaskan pelukannya pada kaki Abia. Abia membantu Elsya berdiri.

“Saya merasa berdosa pada Dokter,”ucap Elsya yang terus menangis.

Abia berjalan beberapa langkah menjauhi Elsya. Ia berhenti di dekat jendela. Matanya menatap jauh di balik jendela rumah sakit. Entah, tatapannya tak tertuju pada objek yang pasti. Tatapan kosong. Bulir-bulir kekecewaan masa lalu mulai menetes di pipi Abia.

“Sakit, Sya. Sakit rasanya merasakan orang yang kita cintai berubah. Ia jadi dingin, kaku. Ia tak seperti lelaki yang aku kenal. Dan yang lebih menyakitkan lagi, perubahan itu terjadi bukan karena kesalahan kita, tapi karena ia berpaling.”

Elsya semakin menangis mendengar kalimat yang dilontarkan Abia.

Abia melanjutkan kalimatnya sambil terus menatap jauh ke luar jendela, “Aku juga nggak paham kenapa ada wanita yang tega merebut kebahagiaan wanita lain hanya untuk cinta sesaat.”

“Ampuni saya, Dok,”

“Hari itu seharusnya menjadi hari bersejarah buat hidupku. Laki-laki itu berjanji akan datang ke acara pelantikan dokter spesialis anak. Ia bilang akan memberiku kejutan sebagai ucapan selamat karena aku sudah berhasil menamatkan pendidikan dokter residen. Hari itu bahkan adalah hari pertunangan kami, Sya…”

“Dan saya sudah merusak itu semua…”

“Apa kabar butikmu, Sya?”

“Emm, saya…”

Abia memotong kalimat Elsya, “Pasti sukses kan? Sebenarnya aku sudah mulai curiga ketika laki-laki itu memberikan buku tentang sketching ke kamu.”

“Hanya meminjamkan, Dok. Bukan memberikan.”

“Tapi laki-laki itu berkata kamu boleh mengembalikannya setelah kamu punya butik kan, Sya? Itu sama saja, Sya. Dan kamu begitu terkesan bahkan tersipu dengan peristiwa itu sampai kamu mengabadikannya dalam tumblr-mu kan? Kamu bahagia karena ia sudah menjadi bagian dari mimpi-mimpimu. Iya kan? Bahkan ketika ia lupa akan sesuatu, kamu katakan pada dunia bahwa janjinya bagai angin,”

Elsya semakin merasa bersalah.

“Aku pikir wanita berpendidikan bisa menggunakan logikanya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang busuk, tapi ternyata aku salah. Perselingkuhan tak mengenal strata. Perselingkuhan tak mengenal dia lulusan Universitas apa, sekalipun itu Universitas ternama di negeri ini. Bahkan perselingkuhan tak mengenal apa itu hati, meski harus mengorbankan kebahagiaan pihak lain.”

“Itu bukan perselingkuhan, Dok.”

“Nggak usah berkelit, Sya. Hal itu hanya akan membuat lukaku makin perih.”

“Kak Fachri itu laki-laki yang setia, Dok.”

“Jangan sebut nama laki-laki itu, Sya. Saya muak mendengarnya.”

“Percayalah, Dok. Dia itu setia.”

“Setia pada kamu, Sya. Bukan padaku!”

“Saya yang salah, Dok. Saya yang membujuk Kak Fachri untuk mengantar saya ke Bandung. Saya ingin mengunjungi pameran pagelaran busana dari beberapa perancang busana ternama di Indonesia. Saya minta Kak Fachri lebih lama menemani saya di Bandung, tapi ia menolak. Ia langsung kembali ke Surabaya begitu saya sampai di Bandung. Saya terus meminta, tapi ia tak peduli, karena ia sudah mempersiapkan cincin pertunangan dengan Dokter dan ia ingin memasangkan cincin itu di hadapan puluhan orang saat acara pelantikan dokter spesialis.”

“Bagiku, tetap dia yang salah, Sya. Sebagai laki-laki seharusnya ia tak mudah terpedaya seperti itu, seharusnya ia bisa lebih tegas untuk menolak permintaanmu. Seharusnya ia menolakmu jika ia benar-benar mencintaiku. Bagaimana nanti jika di tengah-tengah usia pernikahan kami, muncul Elsya-Elsya lain yang meminta hal serupa? Aku nggak mungkin mencintai banci, Sya! Cuma banci yang tak bisa bersikap tegas.”

“Astagfirullah, Dok.”

“Julukan itu memang pantas untuknya!”

“Kak Fachri sudah coba menghubungi Dokter untuk meminta maaf karena ia terlambat hadir ke acara pelantikan dokter spesialis. Ia tiba di tempat ketika acara sudah usai. Ia terus menghubungi Dokter karena ia tak mau membatalkan pertunangan dengan gadis impiannya. Ia datang ke rumah Dokter, tapi hanya pengusiran yang ia dapat dari kedua orang tua Dokter, meski ia sudah memohon, bahkan mengemis. Mungkin orang tua Dokter sama kecewanya dengan apa yang Dokter rasakan. Tapi sungguh, Dok. Cinta Kak Fachri hanya untuk Dokter.”

“Cukup, Sya. Hentikan omong kosongmu! Bagaimana mungkin dia mencintaiku kalau ternyata sekarang dia menikahi kamu?”

“Menikahi saya? Maksud Dokter?”

“Fasya itu buah hati kalian kan? FaSya itu Fachri dan Elsya kan? Sudahlah, Sya. Lebih baik kamu pergi dari hadapanku sebelum aku pecahkan kaca jendela ini karena aku tak bisa menahan emosiku. Bahagialah dengan butik yang kalian bangun. Empat tahun sudah cukup buatku mengikhlaskan semuanya, Sya.”

            “Sampai detik ini saya tidak punya butik, Dok. Itu hanya impian kecil saya.”

            “Maksud kamu?”

            “Saya batalkan keinginan saya untuk punya butik. Sebab setiap saya ingin memulai membuka butik yang terinspirasi dari buku sketching pemberian Kak Fachri, saya selalu teringat dosa saya pada Dokter.”

            “Jangan naïf kamu, Sya!”

            “Saya tidak naïf, Dok. Fasya itu bukan anak Kak Fachri.”

            Abia terkejut. Ia mengusap air matanya. Kini pandangannya tak tertuju pada jendela, melainkan pada Elsya. Ia tatap Elsya lekat-lekat. Ia kerutkan keningnya menunggu Elsya melanjutkan kalimatnya.

            “Fasya itu anak saya dengan suami saya, Dok. Fahmi namanya.”

            Abia semakin tak mengerti dengan semua ini.

            “Kak Fachri tidak bisa mencintai wanita selain Dokter. Bahkan sampai detik ini. Detik ini mungkin ia masih mendambakan Dokter kembali bersamanya. Ia putuskan untuk tak menikah jika bukan Dokter Abia Raimi Safir yang menjadi istrinya.”

            “Jadi…”

            “Iya, Dok. Kak Fachri masih sendiri.”

            “Dimana dia sekarang?”

            “Selama empat tahun ini, dia sangat dekat dengan Dokter. Mungkin Dokter saja yang tidak menyadari.”

            “Jangan bercanda kamu, Sya.”

            “Dokter lihat perusahaan tujuh lantai di seberang rumah sakit ini?”tanya Elsya sambil menunjuk ke sebuah gedung yang terlihat dari jendela yang sedari tadi ditatap oleh Abia.

            Abia mengangguk.

            “Kak Fachri tahu Dokter bekerja di rumah sakit ini. Ia coba melamar kerja di perusahaan itu sesuai bidang yang digelutinya. Untuk menghalau kesedihan karena belum bisa memiliki Dokter, ia bekerja seperti orang kesetanan. Ia sangat disiplin, bekerja di awal waktu sampai larut malam. Pemilik perusahaan itu amat terkesima dengan kerja keras Kak Fachri, hingga hampir tiap tahun Kak Fachri mendapat promosi kenaikan jabatan. Meski demikian, ia terus bekerja mengumpulkan banyak uang sampai-sampai hanya dalam waktu empat tahun, ia bisa membeli tujuh puluh persen saham dari perusahaan itu.”

            “Hmm…”

            “Dia sekarang jadi pemilik perusahaan itu, Dok. Dia penanam modal terbesar disana. Hampir setiap hari, dari dalam ruangannya, Kak Fachri memandangi rumah sakit ini, berharap bisa muncul sosok wanita idamannya dari salah satu sudut jendela rumah sakit.”

            “Dari mana kamu bisa tahu semua itu, Sya? Kamu masih sering berbincang dengan Fachri? Jika iya, aku sama sekali tak sudi bertemu dengannya.”

            “Tidak, Dok. Sejak empat tahun lalu, Kak Fachri seperti alergi pada wanita. Ia menjauhi setiap wanita, bahkan sekertaris di kantornya pun laki-laki. Ia tak ingin mengulangi kesalahannya dengan bersikap terlalu baik terhadap wanita sebab ia tahu wanita yang dicintainya adalah seorang pencemburu tingkat dewa. Saya tahu itu semua dari blog Kak Fachri, Dok.”

            “Untuk apa kamu masih membaca blog Fachri? Apa kamu masih ada hati dengannya sampai-sampai kamu ingin tahu perkembangan hidupnya? Ingat, kamu ini sudah bersuami!”

            “Hmm, ternyata benar ya Dokter sangat pencemburu. Sungguh, Dok, saya hanya membaca blog, tanpa ada niat lain.”

            “Aku sudah tak percaya padamu, Sya,”ucap Abia sambil berjalan menuju parkiran.

            Elsya kembali mengejar Abia. “Tunggu, Dok. Tunggu!”

            Abia acuh.

            “Saya tahu Dokter ini orang baik. Dokter bisa saja membiarkan anak saya kesakitan, tapi Dokter justru menyembuhkannya, meski Dokter masih menaruh dendam pada ibunya.”

            “Saya hanya mengobati, Allah yang menyembuhkan anakmu.”

            “Terimakasih, Dok.”

            Abia membuka pintu mobilnya.

            “Sekali lagi maafkan saya, Dok.”

            Abia hanya tersenyum, mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil.

            Dari dalam mobil, Abia melihat Elsya mengusap air matanya. Abia melihat Elsya tulus meminta maaf. Abia menyalakan mesin mobilnya. Sementara Elsya masih mematung di dekat mobil Abia. Abia membuka jendela mobilnya. Sekali lagi ia tersenyum pada Elsya, “Jaga buah hatimu baik-baik, Sya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi aku. Assalamualaikum…”

            Jendela mobil tertutup. Mobil Abia melaju keluar dari halaman rumah sakit menuju perusahaan tujuh lantai di seberangnya.

 

Reqgi First Trasia

Denpasar, 16 November 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s