Home

 

Ketika Bahasa Menyatukan Rasa

Reqgi First Trasia

 

            Langkah cepat Adalgisa menyusuri koridor rumah sakit. Dua buku tergenggam di tangan kanannya. Tas punggung cokelat tampak menutupi jas dokter muda yang ia kenakan. Ia terus melangkah cepat, tak peduli bagian kiri lipatan jilbabnya sedikit berantakan. Adalgisa takut terlambat. Masih, ia masih tak menghentikan kakinya sampai… Gubraaak! Ia terjatuh. Dua buku di tangannya tersungkur dan terlempar jauh di lantai. Lututnya terasa nyeri. Ia mencoba berdiri dengan kesakitan.

            “Ko.ass baru ya di stase ini?”suara laki-laki membuat Adalgisa mengalihkan pandangannya. Ternyata laki-laki itu adalah seorang dokter residen.

            “Iya, Dok. Maaf saya kurang hati-hati,”jawab Adalgisa menunduk.

            “Di bagian ini, lantai pintu depannya memang sudah hampir satu bulan belum diperbaiki,”ujar sang dokter sambil memberikan buku-buku Adalgisa yang tadi diambilnya setelah terlempar di lantai. “Nanti akan saya beri tahu ke pihak yang mengurusi fasilitas rumah sakit untuk segera memperbaiki lantai itu.”

            “Terimakasih banyak, Dok,”ucap Adalgisa yang menerima kembali buku-bukunya.

            “Lain kali hati-hati ya. Jangan terburu-buru. Rapatnya mulai lima menit lagi. Kamu belum terlambat.”

            “Baik, Dok.”

            Sebelum dokter itu berlalu di hadapan Adalgisa, ia sempat memerhatikan nametag sang dokter. Tertulis : dr. Safir Aidan. Hmm, baik sekali dokter itu, gumam Adalgisa.

* * *

            Sebelum acara coffee morning dimulai, para dokter muda menerima daftar residen pembimbing mereka. Adalgisa membolak-balik daftar itu, mencari namanya. Jari telunjuknya menyusuri setiap nama yang tertera. “Nah, ini dia!”bisik Adalgisa saat ia menemukan nama yang tertulis : Adalgisa Eudora Dalaris, S.Ked. Hatinya senang bukan kepalang saat tahu bahwa dokter Aidan yang menolongnya tadi pagi adalah residen pembimbingnya. Alhamdulillah, ini baru namanya jackpot!

            Usai rapat singkat, para dokter muda diminta untuk langsung menemui residen pembimbingnya. Adalgisa tersenyum. Tanpa banyak babibu, ia mencari Aidan.

            “Assalamualaikum… Permisi, Dok,”tegur Adalgisa saat menghampiri Aidan yang tengah membaca Alquran dengan suara lirih.

            Aidan terkejut. Ia langsung menutup Alquran dan meletakkannya di atas meja. “Waalaikumsalam warahmatullah. Silakan duduk.”

            “Terimakasih, Dok.” Adalgisa duduk berhadapan dengan Aidan.

            “Kamu dokter muda bimbingan saya?”

            “Benar, Dok,” Adalgisa mengangguk.

            “CV-mu?”

            “Ini, Dok.” Adalgisa memberikan dua lembar curriculum vitae pada Aidan.

            Aidan membaca CV itu sekilas. Adalgisa diam menunggu reaksi Aidan.

            “Adalgisa Eudora Dalaris, S.Ked? Nama panggilannya?”

            “Panggil saja Gisa, Dok.”

            “Oke, Gisa. Pertanyaan pertama buat kamu…”

            Gisa gugup. Pertanyaan pertama? Apa-apaan ini? Bukankah ini hari pertama masuk stase pediatric? Mengapa sudah langsung disuguhkan pertanyaan dan bukan pembekalan materi? Waduh, pertanyaan tentang apa kira-kira ya? Penyakit congenital pada anak? Penyakit infeksi? Penyakit genetik? Atau penyakit-penyakit idiopatik? Ribuan tanda tanya muncul di kepala Gisa.

            “Mengapa kamu memakai jilbab selebar itu?”

            What?! Pertanyaan macam apa pula ini? Jilbab? Apa hubungannya jilbab dengan gangguan pada anak? Mengapa dokter ini mempertanyakan hal yang sensitif? Gisa merasa ia tak boleh diam.

            Ia pun menjawab dengan senyum manis, “Karena saya merasa nyaman dengan jilbab ini, Dok.”

            Aidan tertawa, “Gisa.. Gisa.. Biasanya gadis-gadis yang saya tanya tentang alasan mereka berjilbab, rata-rata jawabannya karena perintah Allah di Surah Al Ahzab ayat 59 dan An Nur ayat 31…”

            Gisa mengerutkan dahinya. Ia heran mengapa Aidan bisa sampai tahu detail ayat Alquran yang memerintahkan wanita untuk berjilbab, tapi ia diam saja. Ia hanya mendengarkan apa yang dicelotehkan oleh residen pembimbingnya.

            “Ada juga yang bilang sebagai simbol identitas muslimah. Tapi kamu? Kamu malah bilang nyaman? Kenapa?”

            “Alasan saya memakai jilbab mungkin sama seperti alasan dokter yang hari ini mengenakan kemeja berwarna biru donker.”

            “Ah, saya tahu arah kalimatmu. Kamu ingin bilang bahwa kenyamanan tidak bisa dipertanyakan alasannya? Begitu? Saya lebih memilih kemeja biru dibandingkan hijau karena saya memang saya nyaman dengan biru, tapi bukan berarti saya tak suka hijau. Benar begitu analoginya?”

            Gisa mengangguk mantap.

            “Oke, alasanmu cukup oke. Walau sebenarnya mata saya merasa kurang sedap melihat dokter muda dengan jilbab selebar taplak meja, tapi apa boleh buat. Saya tidak bisa melarang jika alasanmu adalah karena nyaman, senyaman saya mengenakan kemeja biru ini. Hmm, pertanyaan kedua…”

            Gisa takzim mendengarkan sentilan selanjutnya.

            “Tujuh tahun lalu saat saya pertama kali masuk Fakultas Kedokteran, saya sempat kesengsem dengan senior-senior akhwat yang berjilbab lebar. Saya juga kagum dengan senior-senior ikhwan yang celananya cingkrang. Tapi kekaguman saya luntur ketika tahun berikutnya saya tahu mereka punya IP yang jongkok. Saya heran, begitukah potret muslim?”

            “Jangan salahkan mereka sebagai muslim, Dok. Itu kekeliruan mereka sebagai mahasiswa, bukan sebagai muslim.”

            “Tetap saja, kekaguman saya sudah terlanjur pupus. Terutama saat saya tahu mereka mengikuti salah satu organisasi kerohanian Islam di kampus. Mereka disibukkan dengan hal-hal berbau syiar, dakwah, syuro, dan semacam itulah. Detik itu saya berpikir bahwa jilbab lebar, celana cingkrang dan organisasi Islam sangat menghalangi mahasiswa muslim untuk produktif mencetak IPK-IPK yang mengagumkan. Bagaimana tidak? Waktu mereka habis untuk alasan aneh.”

            “Apa Dokter tahu alasan mereka bertindak demikian?”

            “Pernah beberapa kali saya menghadiri pengajian mereka. Sedikit banyak saya tahu alasan mereka. Tapi menurut saya, mereka salah mengartikan Surah Muhammad ayat tujuh. Memang benar, Allah akan menolong dan meneguhkan kedudukan kita jika kita menolong agama-Nya. Tapi kita juga tahu kan, Gisa, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum jika kaum itu tak ada usaha untuk mengubahnya?”

            “Ar-Ra’d ayat sebelas. Untuk yang itu, saya sepakat dengan Dokter.”

            “Bagaimana bisa menjawab soal ujian kalau hampir setiap hari mereka syuro dan tidak belajar? Menurut saya, orang-orang seperti itu justru menghinakan nama Islam didepan orang-orang nonmuslim. Muslim tidak akan maju jika setiap yang ia lakukan selalu hanya mengharap mukjizat dari Allah tanpa usaha ekstra. Bukankah kita selalu diajarkan untuk melebihkan ikhtiar di atas pesaing-pesaing kita?”

            “Betul sekali, Dok.”

            “Impian saya, muslim itu harus berada di pucuk pimpinan segala bidang. Bagaimana bisa jadi pimpinan kalau bodoh? Bagaimana orang percaya dia cerdas kalau IPnya dibawah rata-rata dan sering mengulang mata kuliah? Islam butuh orang-orang yang siap bersaing dalam ranah pendidikan, politik, kesehatan, bukan orang yang cuma bisa ngaji berpuluh-puluh juz dan sholat puluhan rakaat, tapi hanya untuk dirinya sendiri, tidak diaplikasikan dalam hidup yang sesungguhnya.”

            “Setuju, Dok.”

            “Islam akan lebih dihargai ketika banyak mahasiswa muslim yang masuk di jajaran cumlaude. Saya sampai saat ini tidak habis pikir, bagaimana mereka bisa pede hanya mengandalkan do’a. Saya pribadi sangat yakin jika Allah berkata ‘Jadilah’, maka jadilah itu. Tapi apa logis kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita usahakan secara maksimal? Apa logis kita bisa menjawab soal-soal cardiologi sementara kita malah mendiskusikan masalah terorisme? Saya tidak tahu apa isi ‘cranial’ mereka!”

            “Saya sangat mengerti kekhawatiran Dokter. Saya sangat mengapresiasi perhatian Dokter yang begitu dalam terhadap kemajuan Islam. Dokter tidak perlu cemas,” Gisa menyodorkan transkrip IPK-nya, “Saya tidak seperti yang Dokter sangka.” Gisa tersenyum penuh hormat.

            Aidan menerima dan membaca transkrip IPK milik Gisa. Aidan tersenyum.

            “Well, hari ini kita belajar beberapa aspek fisiologis pada anak-anak.”ujar Aidan memulai pembekalan materi setelah tahu IPK mahasiswi bimbingannya 3,75.

* * *

            Hari ke-dua stase pediatric.

            “Assalamualaikum, Dok…”sapa Gisa pada Aidan yang sedang duduk sambil membaca dokumen.

            “Waalaikumsalam warahmatullah… Hey, jilbab lebar lagi?”goda Aidan yang sebenarnya sedang gugup karena ia tak ingin Gisa tahu apa yang sedang dibacanya.

            “Hmm, kemeja biru lagi…”balas Gisa.

            “Tapi birunya beda lho. Kemarin biru donker, sekarang biru langit.”

            “Bukan biru laut ya, Dok?”

            “Haha, kamu ini bisa saja, Gisa.” Aidan tertawa.

            Gisa tersenyum.

            “Ah, ya. Hari ini saya mau lihat, sejauh apa kamu bisa membuktikan pada saya bahwa kamu tidak seperti akhwat-akhwat pada umumnya yang hanya bisa merdu mengaji. Saya ingin beri kamu tes.”

            “Dengan senang hati, Dok,”

            “Ini ada beberapa medical record pasien. Di situ kan sudah ada diagnosisnya. Saya mau kamu jelaskan ke saya tentang diagnosis-diagnosis itu. Silakan duduk.”

            Gisa duduk berhadapan dengan Aidan. Ia sebenarnya gugup melihat tumpukan dokumen catatan medis pasien rumah sakit yang menggunung dan ia harus menjelaskannya satu per satu. Hasbunallah wa ni’mal waqil, ni’mal maula wa ni’mannashir, batinnya.

            “Bismillah. Kasus pertama. Anak perempuan, usia empat tahun, didiagnosis leukemia limfositik akut.”

            “Jelaskan…”sambung Aidan.

            “Leukemia limfositik akut terjadi karena hanya ada satu tahap maturasi leukosit, dan itu abnormal. Karena anak ini masih berumur empat tahun, inshaAllah prognosisnya bagus. Dengan kemoterapi standard selama dua sampai tiga tahun, pasien dapat mencapai remisi.”

            Aidan mengangguk, membenarkan penjelasan Gisa.

            “Kasus ke dua?”tanya Aidan.

            “Kasus ke dua. Anak laki-laki, usia dua tahun tujuh bulan, didiagnosis kejang demam. Kejang demam adalah kejang pada anak-anak dengan demam lebih dari 37 derajat celcius per rectal tanpa bukti infeksi intracranial. Kejang demam ada yang simple dan ada yang kompleks. Karena pasien ini durasi kejangnya lebih dari lima belas menit, ia tergolong kejang demam kompleks. Untuk penanganan, kita harus berikan diazepam yang kerja cepat agar kejangnya berhenti. Lalu bisa dilanjutkan dengan penobarbital sebagai profilaksis.”

            Tatapan Aidan mulai tak lepas dari Gisa. Ia kagum pada kepandaian gadis yang dijulukinya ‘jilbab lebar’ itu. Selain pemahaman agama yang baik, gadis ini juga cerdas dan sopan. Wajahnya pun, ya walau tak secantik Dian Sastro, tapi senyumnya itu lho, manisss sekali. Tak elok lah kalau aku mengharapkan gadis secantik bidadari, sementara tampangku pas-pasan. Yaaa, sebelas dua belas lah sama Fedy Nuril. Usiaku dan Gisa berjarak tiga setengah tahun. Hmm, tak terlampau jauh rasanya kalau aku memilihnya sebagai….

            “Dok.. Dok..” Gisa melambaikan tangannya tepat di depan wajah Aidan.

            “Astagfirullah… Maaf, Gisa.. Maaf.. Saya agak kurang fokus tadi.”

            “Boleh saya lanjut ke kasus ke-tiga?”

            “Silakan.”

            “Kasus ke-tiga. Anak perempuan, usia dua belas tahun, diagnosis apendiksitis. Peradangan ini bisa disebabkan karena obstruksi lumen apendiks oleh fecalith, infeksi, adanya benda asing atau neoplasma. Obstruksi ini membuat tekanan intralumen meningkat, terjadi distensi, sehingga terasa sangat nyeri. Nyeri pada apendiksitis sangat khas, dimulai dengan nyeri di daerah epigastrium. Beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di kuadran kanan bawah abdomen, tepat di Mc Burney point. Ini biasa disebut Ligath Sign. Disusul gejala anoreksia, mual, muntah, dan demam subfebris. Penanganannya bisa kita lakukan apendektomi, Dok.”

            “Lanjutkan..”

            “Kasus ke-empat. Anak laki-laki, usia enam tahun, diagnosis Ventricular Septal Defect. VSD adalah…”

            Belum sempat Gisa melanjutkan kalimatnya, dering hape Aidan berbunyi.

            “Sebentar ya, Gisa.” Aidan mengangkat hapenya.

            Terlihat Aidan sangat serius mendengarkan suara dari telepon. “Oke, saya menuju ke sana sekarang.” Aidan menutup teleponnya.

            “Gisa, tesnya kita lanjutkan nanti. Saya harus menangani pasien emergency.”

            Gisa mengangguk. Aidan langsung melesat menuju UGD.

* * *

            Di UGD, Aidan mendapati seorang anak laki-laki terbaring dengan kesadaran menurun. Denyut nadinya masih ada meski samar, namun suara nafasnya hampir tidak terdeteksi. Aidan melakukan intubasi, lalu menyuruh perawat memberikan oksigen untuk membantu pernafasan. Aidan juga meminta perawat lain untuk memonitor vital sign anak laki-laki bertubuh jumbo itu. Ia menghampiri orang tua pasien. Mereka adalah warga negara Yordania yang sedang berlibur di Bali. Aidan mencoba berbicara bahasa Inggris, tetapi laki-laki berwajah Arab dan satu wanita bercadar di depannya tak bisa lancar berbahasa Inggris. Hanya sepotong-sepotong dan membuat Aidan semakin bingung.

            Aidan pamit undur diri. Ia mencoba menghubungi Gisa, tapi tidak diangkat. Ia menyuruh salah seorang pegawai rumah sakit untuk memanggil Gisa. Aidan menunggu. Tak lama, pegawai itu mengabarkan bahwa Gisa sedang tidak ada di tempat. Aidan berada di ambang kemarahan dan kepanikan. Ia kesal pada Gisa. Ia berlari keluar UGD seolah tahu dimana ia bisa menemukan Gisa.

            “Gisa!” teriak Aidan.

            Gisa yang baru saja menyelesaikan rakaat terakhir sholat dzuhur di masjid, tersentak kaget. Ia memalingkan kepala ke arah Aidan. Ia lihat kemarahan di raut wajah Aidan.

            “Ma.. Ma.. Maaf, Dok. Saya….”

            “Nanti saja minta maafnya. Sekarang kamu ikut saya!”

            Tanpa menunggu persetujuan dari Gisa, Aidan langsung berjalan kembali dengan cepat. Aidan menghentikan langkahnya, membalikkan badannya. Ia lihat Gisa tertinggal jauh di belakangnya walau Gisa sudah mencoba berlari. Seketika Aidan merasa bersalah telah membentak Gisa tadi, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk saling bermaafan. Ada hal yang jauh lebih penting, keselamatan anak laki-laki Yordania itu!

            Aidan menghampiri Gisa yang masih berlari. Aidan menggandeng tangan Gisa untuk mengajaknya berjalan lebih cepat. Benar, dalam waktu enam puluh lima detik, mereka sampai di UGD.

            “Tugas kamu, lakukan heteroanamnesa pada orang tua pasien. Bahasa Inggris mereka berantakan. Mereka cuma bisa bahasa Arab.”

            “Siap, Dok,” Gisa mengangguk.

            Gisa mulai menyapa kedua orang Yordania itu. Aidan memerhatikan mereka dari jauh sambil mengontrol kondisi si anak laki-laki.

            Usai bertanya panjang lebar, Gisa mengajak mereka mendekati anaknya dan Aidan.

            “Mereka baru sampai dari Yordania pagi tadi, Dok. Setibanya di Denpasar, mereka langsung menuju Kintamani. Menurut orang tua pasien, Azzam, nama anak ini, awalnya mengeluh sakit kepala dan mual setelah tujuh jam berada di Kintamani. Mereka menyuruh Azzam sarapan, makan siang, makan malam, tapi Azzam bilang ia tak nafsu makan. Beberapa menit kemudian, Azzam muntah, lalu badannya lemas. Sudah seharian Azzam tidak buang air kecil. Ia kehilangan keseimbangan dan langsung pingsan.”

            “Apa dulu Azzam pernah punya penyakit lain, khususnya jantung atau paru-paru?” tanya Aidan pada Gisa.

            Gisa mengalihkan pandangannya pada orang tua Azzam, “Wa kaana ladaiha mardho akhara man ay wa fanmadho wa khashoh adzob wa ronah?”

            Ibu Azzam menjawab, “Na’am, ladaiha dhoyqo fay tanafsa.”

            “Azzam pernah punya asma, Dok,”jelas Gisa pada Aidan.

            Aidan menepuk pundak Ayah Azzam, “La tahzan, innallah ma ana.”

            Setelah berkata demikian, Aidan langsung menyuruh perawat untuk mempersiapkan Acetazolamide dan Dexamethasone. Selepas menyuntikkan kedua obat itu, Aidan melepas peralatan intubasi yang terpasang. Ekspektasinya tadi ternyata terlalu berlebihan. Ia menyuruh Gisa memasang masker CPAP (Continuous Positive Airway Pressure). Aidan memeriksa reflex pupil Azzam, masih bagus. Mereka menunggu Azzam bangun.

            Ibu Azzam tak henti menangis hingga cadarnya dibanjiri oleh air mata. Ayah Azzam tampak gelisah. Gisa menjelaskan pada mereka bahwa seharusnya Azzam melakukan adaptasi terlebih dahulu, sebab tekanan udara di kabin pesawat berbeda dengan di darat. Dan sesampai di darat, Azzam perlu aklimatisasi sebelum kembali naik ke dataran tinggi Kintamani. Tidak semua orang bisa secara cepat beradaptasi dari cuaca panas di tanah Arab dengan udara dingin di Kintamani, termasuk Azzam.

            Beberapa menit kemudian, Azzam siuman. Orang tuanya tampak bahagia, hanya saja Azzam belum diperbolehkan pulang sebab masih harus diobservasi perkembangannya. Mereka mengucapkan terimakasih pada Aidan, Gisa, dan perawat yang turut membantu memulihkan kesadaran Azzam.

* * *

            Hari ke-tujuh stase pediatric.

            “Ada perlu apa dokter memanggil saya ke sini?”tanya Gisa pada Aidan yang sedang berdiri menatap langit malam bertabur bintang.

            Ya, mereka tengah berada di lantai teratas rumah sakit. Hembusan angin malam membelai lembut jilbab lebar Gisa. Gisa meremas telapak tangannya, ia kedinginan. Ia rasakan angin begitu menusuk jemarinya. Ia menunggu jawaban Aidan yang sedari tadi hanya mematung dengan secangkir cappuccino di tangan kanannya.

            “Kalau memang tidak ada yang ingin Dokter bicarakan, saya pamit dulu. Permisi, Assalamualaikum…” Giza berbalik hendak turun.

            “Saya minta maaf, Gisa.”

            Gisa berhenti dan memutar haluan langkahnya, “Maaf untuk apa, Dok?”

            “Saya minta maaf sudah membentakmu saat itu. Saya juga menggandeng tanganmu untuk berjalan lebih cepat tanpa seizinmu, padahal kita bukan muhrim. Itu saya lakukan karena saya ingin Azzam selamat, Gisa.”

            “Sudah saya maafkan, Dok.”

            Mereka kembali diam. Kesunyian malam ini hanya disaksikan satu rembulan yang menenangkan hati setiap insan yang memandangnya. Sepi, hanya terdengar suara Aidan menyeruput cappuccino yang sudah tak hangat lagi.

            “Saya juga berterimakasih karena kamu sudah menjadi penerjemah bahasa Arab yang handal. Dan juga, kamu merubah anggapan saya bahwa anak Rohis itu rata-rata tidak pintar. Kamu memang tidak pintar, Gisa, tapi kamu cerdas.”

            “Terimakasih, Dok. Kalau saya boleh tahu, dari mana Dokter tahu kalau saya bisa berbahasa Arab?”

            “Kamu masih ingat pertama kita bertemu?”

            Gisa mengangguk.

            “Saat saya menyerahkan buku-bukumu yang terjatuh di lantai, saya melihat ada beberapa lembar tulisan berbahasa Arab dan terjemahannya. Memang kertas itu bukan bukti konkret yang mengindikasikan bahwa kamu pandai berbahasa Arab, tapi toh ternyata estimasi saya tidak meleset.”

            Gisa tersenyum.

            “Saat hari ke dua, kamu datang ke rumah sakit dan menyapa saya. Saya buru-buru menutup dokumen yang sedang saya baca karena saya tak ingin kamu tahu. Sekarang coba kamu tebak, apa yang saya baca?”

            “Hmm, medical record ­pasien mungkin?”

            “Bukan, saya sedang membaca ulang CV-mu. Ternyata, gadis berjilbab lebar yang awalnya saya pandang sebelah mata, menguasai lima bahasa. Arab, Prancis, Inggris, Jepang, dan Turki. Saya salut, Gisa.”

            “Terimakasih, Dok,”

            “Tiga bulan lagi saya cuti dari pendidikan residen untuk melakukan riset di Paris. Alhamdulillah, saya dapat beasiswa di sana selama enam bulan.”

            “Selamat ya, Dok! Dokter sangat beruntung bisa pergi ke Paris. Saya saja yang mati-matian belajar bahasa Prancis, belum tahu kapan bakal bisa kesana, hehe…”

            “Tiga bulan lagi, Gisa.”

            “Ya, itu kan Dokter, bukan saya.”

            “Saya ingin kamu mendampingi saya selama di Paris, untuk urusan biaya, kamu nggak usah mikir. Saya ingin kamu menjadi penerjemah buat saya.”

            “Jadi penerjemah, Dok? Enam bulan ya disana?”tanya Gisa antusias.

            “Iya, jadi penerjemahnya cuma enam bulan, tapi untuk jadi pendamping, saya nggak mau kalau cuma enam bulan.”

            “Maksud Dokter?”

            “Gisa, saya tahu kamu muslimah yang baik. Sebesar apapun keinginanmu untuk pergi ke Paris, kamu tidak akan berangkat tanpa ditemani muhrim kan?”

            Gisa tertunduk lesu. Benar apa yang dikatakan Aidan.

            “Itulah sebabnya saya ingin kita menjadi muhrim.”

            “Hmm, kode…”gumam Gisa.

            “Benar, Gisa. Kamu pandai juga menebak kode,” Aidan tersipu malu, “Jadi bagaimana?”

            Gisa membisu.

            “Maaf, ini memang bukan cara yang benar untuk meminang seorang akhwat, tapi saya sangat ingin memastikan bahwa perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Dan jika itu terbukti, besok pun saya akan bawa keluarga saya untuk melamarmu. Saya serius.”

            Aidan menunggu Gisa membuka suaranya.

            “Sesungguhnya keinginan saya untuk belajar mencintai laki-laki yang tulus mencintai saya, jauh lebih besar dibanding keinginan saya untuk pergi ke Paris.”

            “InshaAllah kamu akan mendapatkan keduanya, Gisa.”

            “Saya permisi dulu, Dok. Assalamualaikum…” Gisa pergi meninggalkan lantai atas rumah sakit itu sebelum Aidan sempat menjawab salamnya.

            “Waalaikumsalam warahmatullah, calon istriku…”bisik Aidan lirih dari dalam hati yang sedang terbuai bahagia.

 

Denpasar, 29 Oktober 2012

Reqgi First Trasia

 

 

           

           

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s