Home

Cinta Pun Ikut Diadili

Reqgi First Trasia

 

Hari ini adalah hari dimana dr.Fadilla Al Fikriyah Sp.F (spesialis forensik) menjadi expert witness (saksi ahli) di pengadilan negeri Denpasar. Dia diminta menjadi saksi ahli oleh pengadilan atas kematian seorang pasiennya. Keluarga pasien yakin bahwa kematian saudaranya tidak wajar, ada pelaku pembunuhan. Keluarga pasien mendatangkan seorang pengacara kondang dari Jakarta, Alkhuzaiyyah Alghiffari namanya.

Persidangan dimulai, dr. Fadilla Al Fikriyah (dr. Fa) menunggu di belakang ruang sidang, bersama para saksi yang lain. Sebagai saksi ahli, dia mendapatkan giliran paling akhir. Dari ruang tunggu saksi, dr. Fa mendengar sang pengacara bersikukuh menyerang tersangka. Hati Fa berdegup kencang. Entah mengapa, persidangan kali ini terasa begitu menegangkan, padahal sebagai spesialis forensik, bukan sekali dua kali dia diminta untuk menjadi saksi ahli. Satu per satu para saksi memberikan keterangan dibawah sumpah.

Kini giliran Fa masuk ke ruang sidang memberikan kesaksian. Langkah pertamanya memasuki ruang sidang disambut Alkhuzaiyyah Alghiffari (Uza) dengan berdiri.

“Fa?” ungkapnya heran.

Fa mengalihkan pandangan kearah sumber suara. Betapa terkejutnya Fa melihat Uza.

“Uza!”

“Maaf, maksud saya dokter Fa. Terimakasih telah bersedia menjadi saksi ahli dalam kasus saya.”

Fa hanya tersenyum tanpa bisa menutupi rasa gugupnya karena bertemu lagi dengan Uza. Fa langsung duduk di kursi saksi yang sudah disediakan, memberikan salam kepada hakim. Fa diambil sumpah diatas AlQuran. Kesaksian Fa dimulai. Uza berdiri dari kursinya dan mendekati Fa.

“Dokter Fa, bisa Anda jelaskan mengenai hasil visum yang telah Anda buat?” Tanya Uza.

“Baiklah, medico-legal-report yang saya buat benar adanya. Dalam visum itu saya tulis lengkap identitas korban. Saya juga telah membuat sertifikat kematian dengan sebenar-benarnya. Penyebab kematian korban adalah semacam euthanasia aktif. Disini jelas saya tidak bisa memberikan ‘manner-of-death’ atas diri korban karena itu adalah wewenang dari penyidik. Yang jelas, korban meninggal dua puluh tujuh jam sebelum ditemukan oleh polisi dan dua puluh delapan jam sebelum dibawa ke kamar forensik untuk di-autopsi oleh tim dokter forensik. Dalam tubuh korban ditemukan semacam zat yang dapat menimbulkan shock-anaphylactic. Itu saja yang bisa saya berikan.”

“Bisa Anda jelaskan mengenai shock-anaphylactic?” Tanya Uza.

“Shock-anaphylactic adalah kondisi dimana seseorang seperti berada pada stadium akhir dari alergi. Itu adalah reaksi hipersensitivitas akut, sistemik dan berat serta mengancam nyawa. Pada tubuh korban, ditemukan semacam bekas suntikan. Dari bekas suntikan ini, terlihat bahwa penyuntikan bukan dilakukan oleh seorang tenaga kesehatan. Dari sinilah, zat yang saya maksud itu diadministrasikan.”

“Baiklah, hakim yang terhormat, saya rasa cukup keterangan dari dokter Fa.”

Fa beranjak dari tempatnya dan duduk di bagian belakang. Seperti biasa, Fa selalu mengikuti persidangan sampai hasil keputusan dibacakan oleh hakim. Dia melihat kearah Uza, Uza pun melihat kearahnya, dia mengalihkan pandangan. Fa melihat Uza begitu bersemangat membela kliennya. Hasil keputusan hakim pun dibacakan. Uza memenangkan kasus ini. Keluarga korban cukup lega karena akhirnya tersangka dijatuhi pasal pembunuhan berencana dengan kurungan dan denda yang cukup berat.

Uza mendekati hakim, membisikkan sesuatu. Hakim mengetuk palu dengan tujuan menenangkan ruang sidang. Semua terdiam, bertanya-tanya, ada apa lagi? Bukankah persidangan telah selesai?

“Dokter Fadilla…” panggil hakim.

Semua mata tertuju pada Fa.

“Saya, pak hakim…” jawab Fa.

“Bisa Anda duduk kembali di kursi saksi?”

“Baik…”. Fa beranjak dari tempatnya menuju kursi saksi. Sebelum duduk, Fa bertanya, “Maaf sebelumnya, pak hakim. Bukankah kasus ini sudah selesai?”

“Duduk sajalah…”

Fa duduk. Uza mulai angkat bicara.

“Terimakasih, pak hakim. Terimakasih, dokter. Terimakasih juga hadirin yang berada dalam ruang sidang ini. Saya meminta waktu kalian sebentar.”

“Dokter, Fa.” Lanjut Uza,” Anda sudah mengenal saya sejak lama, benar begitu?”
Semua yang hadir di ruang sidang terdiam, serius menyimak percakapan ini.

“Maaf, persidangan sudah ditutup, jadi saya tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan Anda lagi.” Jawab Fa.

“Itu artinya Anda meng’iya’kan pertanyaan saya. Dokter tahu kan, selama masih berada dalam ruang persidangan, sumpah masih berlaku. Tadi dokter sudah bersumpah akan mengatakan yang sebenarnya dalam ruang sidang ini. Saya ingin bertanya sekali lagi, apa dokter mengenal saya?”

“Iya, saya mengenal Anda.”

“Sejauh apa dokter mengenal saya?”

“Anda tidak seharusnya mengajukan pertanyaan seperti itu di hadapan banyak orang.”

“Sebagai apa dokter mengenal saya? Teman? Sahabat? Atau…”

“Cukup, tidak seharusnya Anda memanfaatkan profesi Anda untuk memojokkan saya seperti ini.”

“Dokter, saya akan ceritakan pada semua orang disini bahwa Anda lebih sadis dibandingkan tersangka yang baru saya jebloskan dalam penjara tadi. Lebih dari delapan tahun saya menunggu Anda, dokter. Tak perlu lagi rasanya saya menyatakan cinta karena Anda pasti sudah tahu. Anda tidak memberi saya jawaban. Anda terlalu sibuk dengan pasien-pasien Anda. Setelah lulus SMA, Anda pergi begitu saja meninggalkan Jakarta. Saya tak habis pikir dengan jalan pikiran Anda. Saya hubungi ponsel Anda, tak pernah ada jawaban. Saya yakin Anda tahu mengapa sampai saat ini saya belum menjatuhkan hati pada wanita, karena memang hati saya telah jatuh semenjak delapan tahun yang lalu, dok. Anda membiarkan saya melangkah dalam ketidakpastian. Bukan hal yang aneh kalau saya menganggap dokter telah mempermainkan hati saya. Empat tahun selepas SMA, saya melanjutkan kuliah hukum dengan almamater kuning, tapi gadis-gadis UI tidak ada yang menyilaukan mata saya, dok. Empat tahun berikutnya, saya melanjutkan kuliah S2 di Belanda. Tetap saja, wanita Belanda pun tidak ada yang mampu memalingkan hati saya karena hati saya telah terpaut pada gadis pribumi. Dan Anda tahu siapa gadis itu. Anda tahu jelas bagaimana saya, dok. Tapi mengapa Anda bersikeras untuk sendiri sampai saat ini? Saya tahu Anda, dok. Anda orang yang tak pernah lelah mengejar cita-cita, tapi Anda jangan lupa bahwa menikah adalah menyempurnakan setengah dari agama. Hidup Anda tak akan lengkap tanpa pernikahan.”

Fa menitikkan air mata. “Cukup! Jangan teruskan kata-kata Anda!”

“Mengapa Anda menangis? Apa air mata itu untuk saya, dok? Apa Anda mencintai saya?”

Fa menggelengkan kepala.

“Sumpah Anda di persidangan masih berlaku, dok. Katakan hal yang benar saja, bukan kebohongan. Fadilla Al Fikriyah, menikahlah dengan saya…”

Sebagian jilbab Fa basah karena air matanya. Fa masih belum bisa berhenti menangis. Uza menghampiri, memberikan sapu tangan. Fa menerima sapu tangan itu dan mengusap air matanya. Fa menghela nafas panjang.

“Alkhuzaiyyah Alghiffari, saya bersedia menikah dengan Anda…”

Seluruh ruang sidang bertepuk tangan menyaksikan pengacara dan dokter yang saling menyatakan kesediaan untuk menjadi sepasang suami istri. Uza lega. Keesokan harinya, mereka melangsungkan ijab Kabul dan tak perlu pusing mencari lokasi bulan madu karena mereka sedang berada di Bali. Ya, pengadilan negeri Denpasar menjadi saksi bisu kisah mereka.

Reqgi First Trasia

Denpasar, 3 April 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s