Home

Mendadak Aku Tak Suka Angka 7, 7, dan 7

Reqgi First Trasia

 

Denpasar, 7 Desember 2008

            “Ah, udahlah sama dia aja. Sama dia aja!” celoteh Maria, temanku satu kontrakan, saat kami sedang asyik menonton sinetron di sela-sela liburan kuliah residen.

            Ya, aku, Maria, Asri, dan Sisi adalah residen-residen jomblo yang sama-sama ingin menjadi spesialis anak. Kami berempat enggan keliling Bali untuk mengisi liburan. Alhasil, televisi-lah yang menjadi sasaran empuk.

            “Iyalah, pasti udah ketebak si Cinta bakal jadi sama Rama. Orang mereka pemeran utamanya!” sahut Sisi.

            “Nggak bisa gitu dong! Rama kan sudah tunangan sama Shinta, udah hampir nikah lagi,” sambungku sewot.

            “Nggak mungkin, Zira! Lihat tuh, Rama kayaknya cinta banget sama Cinta,” Asri ikut berkomentar.

            “Iya, tapi kan pernikahan Rama dan Shinta tinggal tujuh hari lagi. Kalian nggak kasihan apa sama Shinta? Kalian nggak bisa bayangkan perasaan Shinta? Kalian bahkan tega membela perasaan yang baru muncul di hati Rama. Tega berharap agar pernikahan itu tidak terjadi. Berharap Rama berhasil mendapatkan Cinta yang tiba-tiba hadir amat memesona itu. Berharap cinta ‘hebat’ yang tumbuh mendadak yang menang, membenarkan alasan Rama?” tanyaku.

            “Ini kan cuma sinetron, kenapa kita jadi berdebat sih?” tanya Maria.

            “Nonton sinetron jangan cuma pakai mata, tapi pakai hati! Lagipula…” lanjutku.

            “Hey, kamu kenapa sih, Zir?” Sisi memotong.

            Aku langsung pergi dari ruang tengah, menuju kamar dengan mata berkaca-kaca.

 

Denpasar, 7 Desember 2012 – 08.00 WITA

            Jatayu sedari tadi duduk di deretan kursi ruang tunggu poli anak sebuah rumah sakit. Ia duduk tepat di depan sebuah pintu poli yang bertuliskan *POLI ANAK – dr.Jazira Nafisa, Sp.A*. Matanya tak henti menatap pintu itu, sesekali ia melihat jam tangan, sesekali tersenyum pada pasien-pasien yang juga sedang menunggu. Lima menit kemudian, pintu poli terbuka. Jatayu bergegas bangkit dari duduknya, menghampiri seorang perawat yang hendak memanggil giliran pasien.

            “Permisi, Sus…”

            “Mau periksakan anak, Pak? Sudah daftar di bagian registrasi?”

            “Mmm, bukan, Sus. Maksud saya…”

            Pasien yang tadi dipanggil oleh suster sudah berdiri di ambang pintu.

            “Silakan masuk, Bu,”suster mempersilakan si ibu dan anaknya masuk ke poli.

            “Maaf, Pak. Saya sedang sibuk.”ucap suster pada Jatayu.

            Jatayu kembali duduk manis di kursinya. Ia bergumam, ah, mengapa sulit sekali bertemu dokter itu! Sepuluh menit berikutnya. Dengan adegan yang sama, si suster keluar, dan Jatayu dengan sigap menghampiri suster, tapi kali ini Jatayu langsung mengutarakan maksud kedatangannya.

            “Saya ingin bertemu dengan Zira, Sus!”

            “Zira?”

            “Mmm, dokter Jazira.”

            “Sudah buat janji, Pak?”

            Lagi-lagi pasien berikutnya sudah berdiri di ambang pintu. Si suster masuk ke dalam poli dan Jatayu duduk santun. Sepuluh menit kemudian. Suster membuka pintu poli. Jatayu terpaku di atas kursi, tidak berdiri. Hampir saja ia putus asa.

            “Maaf, Pak. Dokter Jazira akan menemui Bapak setelah pasien habis,”

            Pernyataan suster itu membuyarkan lamunan Jatayu.

            “Kira-kira berapa lama lagi ya, Sus?”

            “Saya kurang tahu, Pak.”

 

Jakarta, 7 Desember 2005

            Dua orang anak muda berlari-lari kecil menghindari bulir hujan di sekitar Monumen Nasional (Monas). Sepasang kekasih itu meneduhkan tubuh mereka di bawah mangkuk Monas yang sangat besar.

            “Mengapa kau bawa aku kesini, Mas?” tanya si gadis.

            “Kau sudah pernah melihat seluruh Jakarta dengan teropong di puncak sana?” si pria malah bertanya balik sambil menunjuk lantai teratas Monas.

            Si gadis menggeleng.

            “Nah, sore ini kita akan melihat seluruh Jakarta dari satu titik!”

            Mereka berdua berjalan menghampiri petugas penjaga Monas.

            “Maaf, Mas. Sore ini Monas tidak dibuka untuk umum.”

            Si pria memohon pada petugas, tapi tetap tidak diizinkan.

            “Sudahlah, Mas. Lain kali saja.” Bujuk si gadis.

            Si pria tetap bersikukuh ingin masuk. Ia mengajak si petugas menjauh dari si gadis. Si gadis hanya mematung dengan apa yang dilihatnya. Si pria tampak sedang menjelaskan banyak hal pada petugas. Sampai akhirnya, si petugas meluncurkan satu kata, “Silakan,”

            Mereka berdua langsung naik lift ke puncak Monas.

            “Apa yang kau katakan sampai petugas itu luluh, Mas?”tanya si gadis di dalam lift.

            Si pria hanya menggeleng dan tersenyum.

            Di puncak Monas, setelah si gadis berdecak kagum memandangi seluruh Jakarta, si pria mengeluarkan kotak beludru dari saku jaketnya.

            “Ini bukan permata,” si pria tersenyum, ”Hanya cincin sederhana. Apa kau suka, Dik?”

            Si gadis mengangguk, tersenyum amat lebar, menjulurkan tangannya. Ia mencoba memasangkan cincin tersebut. Ia menatap si pria dengan sumringah.

            “Itu akan menjadi cincin pernikahan kita.” Kalimat ini meluncur begitu saja dari bibir si pria. Ia lupa kalau selama dua bulan terakhir merencanakan banyak hal, termasuk menyiapkan prolog dan kalimat intro yang indah.

            Si gadis menatap si pria. Matanya binar, wajahnya merona, tersenyum, kemudian tersipu, mengangguk. Sungguh, sore itu Jakarta dan seisinya seolah tampak bertepuk tangan menyaksikan dua insan ini. Jakarta sesak dengan rasa bahagia, meluncur menghiasi angkasa.

            Si pria itu adalah Jatayu. Dan gadis itu? Ah, tentu sudah tertebak. Siapa lagi kalau bukan aku, Jazira.

 

Denpasar, 7 Desember 2012 – 13.00 WITA

            “Memangnya siapa sih yang datang, Sus?” tanyaku di dalam poli, sambil melakukan sedikit peregangan, memutar-mutar kedua tanganku. Aku lelah, hari ini pasien cukup banyak.

            “Saya belum sempat tanyakan namanya, Dok, tapi Bapak itu sudah sejak pukul delapan pagi menunggu dokter,”

            Aku yang penasaran langsung membuka pintu poli. Betapa terkejut diriku ketika tahu bahwa tamuku adalah Jatayu.

            “Mas?”

            “Dik?” Jatayu heran melihatku, entah mengapa.

            “Ada perlu apa Mas datang kesini?” tanyaku sambil melipat kedua tangan.

            “Aku ingin bicara banyak denganmu, Dik,”

            “Kita sudah terlalu banyak bicara, Mas,”

            “Aku mohon…”

            “Aku sibuk. Jika kau tidak keberatan, tunggu aku hingga jam praktikku usai. Sekarang aku ingin istirahat sebentar. Aku ingin sholat, ingin menenangkan diri setelah beberapa detik yang lalu aku dikejutkan oleh mimpi buruk…”

            Jatayu membisu.

 

Jakarta, 7 Januari 2006

            Sungguh lelucon cinta yang tidak lucu.

            “Maafkan aku, Dik,” Jatayu berkata pelan, “Aku… Aku mencintainya,” Jatayu menghela napas, “Kau tahu, akan lebih menyakitkan bila kita tetap menikah dengan kenyataan bahwa aku mencintainya.”

            ‘Luar biasa’! Jatayu mencintai gadis itu hanya dengan pertemuan tujuh hari?

            “Maafkan aku,” Suara Jatayu bergetar, “Aku pikir semua rencana pernikahan kita keliru,”

            Jatayu membatalkan pernikahan tepat ketika gelar dokter umum baru saja disematkan di awal namaku, begitu saja. Lihatlah, saat kawan-kawanku sibuk berfoto dengan toga, lantas berganti dengan jas putih (jas dokter), aku malah tersungkur di sudut aula tempat wisuda. Ibu dan Ayah memelukku iba. Pakaian pengantin dikembalikan. Undangan, gedung, katering yang sudah dipesan, dibatalkan. Menyisakan jutaan tanda tanya di benak teman-teman. Menorehkan malu di wajah keluarga. Itu sungguh masa-masa yang sulit.

            “Kita mungkin tidak berjodoh,” Dan Jatayu pergi siang itu.

 

Tanah Lot, 7 Desember 2012 – 17.00 WITA

            Aku dan Jatayu duduk di dalam mobil menuju Tanah Lot. Perjalanan Denpasar – Tanah Lot memakan waktu sekitar 45 menit. Aku menghela napas perlahan, bertanya perlahan, berusaha memecah suasana canggung sepuluh menit terakhir, “Apa kau baik-baik saja, Mas?”

            Jatayu mengangguk, “Apa kau baik-baik saja, Dik?” Jatayu balik bertanya pelan.

            Aku tertawa getir, menggeleng. Sunyi sejenak. Duhai, hatiku tidak baik-baik saja.

            “Maafkan aku,” Jatayu berucap.

            Aku tatap wajahnya, “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah berlalu, tertinggal jauh di belakang,” Aku menelan ludah, sok bijak. Aku tahu itu bohong.

            Suasana senyap kembali hingga sampailah kami di Tanah Lot. Kami duduk berhadapan di salah satu rumah makan yang terletak persis di dekat pantai yang eksotis ini. Suara ombak terdengar merdu, tapi obrolan kami menciptakan hening tiada tara.

            “Sungguh, maafkan aku,” Jatayu menyeka sudut matanya, “Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini jadinya,”

            Aku menggeleng, “Kau tidak harus meminta maaf. Meskipun seharusnya kau tahu, sehari setelah kau memutuskan pergi, aku lelah melihat orang-orang silih berganti menghiburku. Tapi percuma, menyakitkan. Sesak sekali. Kau tahu? Poin depresi tertinggi bukanlah ketika hutang kita menumpuk, bukan ketika kita jatuh miskin, bukan pula ketika kita lumpuh, tapi poin depresi tertinggi adalah ketika kita kehilangan orang-orang yang kita cintai. Orang tua kita, kakak-adik kita, kakek-nenek kita, dan… dan kamu, Mas,”

            Ombak menghantam bibir pantai makin kencang. Senja mulai membungkus Tanah Lot. Lautan kosong sejauh mata memandang, tapi di bibir pantai, penuh lautan manusia yang hendak mengabadikan sang surya tenggelam.

            “Kau tahu, aku melewati bulan-bulan menyedihkan itu. Dan yang lebih membuat semuanya terasa menyedihkan, kau pergi dengan sebuah alasan yang memuakkan. Sungguh aku tak pernah baik-baik saja. Tujuh bulan berlalu, hanya berkutat mengenangmu. Hidupku jalan di tempat.”

            “Maafkan aku,” Suara Jatayu bahkan kalah dengan hembus angin, matanya mulai basah.

            “Tidak ada yang perlu dimaafkan,” Aku mendongak keluar, mengambil kamera SLR dari dalam tas. Aku menatap matahari yang sungguh indah hendak bersembunyi di balik cakrawala. Aku memotretnya berkali-kali. Berusaha mengusir sesak yang tiba-tiba menyelimuti kalbu. Sudahlah, buat apa diingat lagi. Kemudian kembali menatap wajah Jatayu, tersenyum, “Kau tahu, Mas? Hampir semua momen indah dan busuk kita dulu terjadi tepat pada tanggal 7? Itulah mengapa semenjak kau pergi, aku mendadak fobia dengan angka 7. Aku mendadak tak suka dengan iklan yang mencontoh adegan James Bond 007, tak suka dengan lagu Ada Band yang berjudul Langit 7 Bidadari, muak dengan dongeng Snow White dan 7 Kurcaci, sebal dengan group band Sheila on 7, memaki-maki partai dengan nomor urut 7, benci dengan film Rumah ke 7, aku tak percaya lagi dengan 7 keajaiban dunia, dan… Ah, sudahlah. Konyol sekali kelakuanku itu!”

            Jatayu mengangkat kepalanya, ikut menatap matahari yang hendak tenggelam. Ia bertanya ragu-ragu, cemas, “Apa di hatimu masih ada ruang untukku, Dik?”

            Aku terdiam, mengusap wajah. Aku sungguh tidak menduga. Setelah tujuh tahun berhasil pergi dari segala kesedihan itu. Setelah susah payah menyingkirkan luka lama yang enggan pergi di malam-malam senyap. Jatayu mendadak kembali, meminta kami bicara sore ini. Dan aku sungguh tidak mengerti mengapa aku harus menemuinya. Semua itu sudah tuntas. Pohon hubungan kami sudah tumbang, bahkan akarnya pun tak ada lagi. Tercerabut tujuh tahun silam, tetapi aku toh tetap menemuinya. Mengapa? Entahlah, mungkin karena aku tak tega sebab ia sudah jauh-jauh dari Jakarta ke Denpasar hanya untukku.

            “Apa di hatimu masih ada ruang untukku, Dik?” Jatayu bertanya lagi. Kali ini sepertinya bertanya kosong.

            Aku hanya diam. Jatayu mengenakan kemeja merah marun. Matanya sembap. Wajahnya sendu. Jatayu menceritakan banyak hal, meski lebih banyak menahan tangis. Dulu, setiap melihatnya gelisah, aku pasti bergegas menghiburnya, berusaha melucu, memberikan kata-kata motivasi, apa saja. Sore ini, aku hanya menatap kosong ke arah lautan, menepuk-nepuk pundaknya, lantas diam. Apa yang harus aku perbuat? Apa yang Jatayu harapkan? Ketika hati itu terkoyak tujuh tahun lalu, aku sudah bersumpah untuk menguburnya dalam-dalam. Berjanji berdamai dengan masa lalu meski tak akan pernah sanggup melupakan. Sore ini saat Jatayu mengatakan hubungan hebatnya dengan gadis menawan itu gagal, aku sungguh tak tahu harus berbuat apa. Apa aku harus senang? Sedih? Marah? Acuh? Astagfirullah, ini semua sungguh memilukan.

            “Apa… apa di hatimu masih ada ruang untukku, Dik?” Suara Jatayu lirih. Tertunduk.

            Aku menggeleng, “Kau ingat, Mas? Menara Eiffel itu adalah impian kita berdua setelah kau melamarku di puncak Monas. Paris itu impian kita, tapi kau malah pergi dengan siapa? Gadis pemilik butik yang berharap melebarkan sayapnya di Prancis. Sungguh, kau meraih impian itu seorang diri, tanpa aku. Beruntunglah aku bisa bangkit dan melanjutkan cita-citaku untuk kuliah residen anak. Aku pergi jauh-jauh menghindari Jakarta dan semua kenangan di dalamnya, lalu menetap di Denpasar. Aku akhirnya menyadari, aku tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup dengan asa yang hanya tersisa secuil. Maka aku memutuskan untuk merajut asa yang baru. Ya, asa yang benar-benar baru.”

            “Apakah dalam asa yang baru itu masih tersisa namaku?” Jatayu cemas mendengar intonasi suaraku.

            Aku masih membisu. Lihatlah, Jatayu dicampakkan begitu saja. Itu menurut pengakuannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak tahu. Itu bukan urusanku. Di tengah kesunyian kami, seorang gadis kecil berlari menghampiriku, berteriak, “Bundaaa!”

            Jatayu terperanjat melihat gadis kecil itu sontak memelukku. Aku balas mencium kening mungilnya.

            “Maafkan aku, Mas. Aku sudah menikah. Bukan dengan seseorang yang amat aku cintai, tapi setidaknya ia bisa menyuguhkanku setitik asa yang baru. Maafkan aku. Kau lihat gadis tiga tahun ini?” Aku menelan ludah.

            Senyap sejenak. Jatayu membeku. Aku mengangkat bahu. Jatayu menyeka ujung-ujung matanya, mengangguk pelan. Sore ini semua sungguh terasa amat menyesakkan. Pria itu berdiri dari tempat duduknya, beranjak pergi. Aku menatap punggungnya hilang dari balik pintu rumah makan tepat saat matahari tenggelam sempurna.

            “Maafkan aku, Mas,” Aku berbisik lirih menatap cakrawala.

            Gadis kecil itu membuyarkan lamunanku, “Bunda sedih?”

            “Enggak, sayang. Kamu kesini sama siapa?” tanyaku sambil mencubit pipi tembamnya.

            “Sama mama – papa. Mereka lagi duduk di meja sana,” jawabnya sambil menunjuk salah satu meja di tengah ruangan.

            Ya, gadis ini bukan anakku. Ia salah satu pasienku dulu. Aku memang sengaja meminta pasien-pasienku memanggilku dengan sebutan ‘Bunda’. Jika mereka sudah memanggil ibu kandungnya dengan sebutan ‘bunda’, maka mereka memanggilku ‘bunda dokter’. Ada gunanya juga aku meminta pasien-pasien memanggilku ‘bunda’.

            Sedikit banyak apa yang dituliskan Tere Liye ada benarnya : Aku belum menikah. Aku selalu mengharapkan kau kembali. Selalu. Hingga detik ini. Tetapi sore ini, ketika melihat wajah sendumu dan mendengar semua cerita tidak masuk akal itu, aku baru menyadari, cinta bukan sekadar soal memaafkan. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna.

            Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang. (Tere Liye)

            Kenangan indah bersamamu akan kembali memenuhi hari-hariku entah hingga kapan. Itu benar. Membuatku sesak. Tapi aku tidak akan membiarkan hidupku kembali dipenuhi harapan hidup bersamamu. Sudah cukup. Biarlah sakit hati ini menemani hari-hariku. Biarlah aku menelannya bulat-bulat sambil sempurna menumbuhkan hati yang baru, memperbaiki banyak hal, memperbaiki diri sendiri. Apa pepatah bilang? Ah iya, patah hati tapi tetap sombong, patah hati tapi tetap keren. (Tere Liye)

 

Reqgi First Trasia

Denpasar, 7 Desember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s