Home

Sp. BS

Reqgi First Trasia

 

            Suasana pagi rumah sakit Sanglah selalu sama. Beberapa pasien rawat inap berjalan santai di taman ditemani oleh keluarga mereka hanya sekadar untuk menghirup udara segar. Kondisi bangsal dan aroma obat-obatan mungkin membuat mereka bosan berlama-lama di dalam kamar. Beberapa petugas kebersihan menunaikan kewajibannya, memisahkan sampah medis dengan non-medis, memotong rumput-rumput liar di taman, menyiram tanaman, membersihkan lantai dan debu di langit-langit bangsal.

            Pemandangan itu sudah tak asing bagi Syifa. Sudah hampir enam belas bulan ini dia akrab dengan rumah sakit. Bahkan setiap detail peristiwa di rumah sakit seperti sudah menyatu dengan aliran darahnya.

            Syifa menarik dan menghembuskan nafas panjang. Ia duduk di ruang tunggu dokter muda, menunggu panggilan untuk masuk dalam ruang pertemuan dengan para dosen. Ini adalah stase terakhirnya, stase neuro, saraf. Beberapa teman Syifa yang juga sedang menunggu, mengisi waktu mereka dengan memainkan blackberry dan android masing-masing. Ada juga yang memainkan tablet dan I-Pad. Sesekali Syifa berdiri, menengok ke dalam ruangan, lalu duduk lagi. Syifa berdiri lagi, lalu menghadapkan wajahnya ke salah satu kaca jendela rumah sakit untuk bercermin. Saat hendak membenarkan jilbabnya di depan cermin, satu bayangan seorang dokter hadir dalam cermin. Syifa berbalik dan menundukkan kepalanya.

            “Maaf, Dok. Saya cuma membenarkan jilbab.”

            “Iya, nggak apa-apa. Ayo masuk, rapatnya sudah mau dimulai.”

            Syifa tetap menunduk, tidak berani menatap wajah dokter residen itu. Syifa mengambil tas dan beberapa buku lalu berjalan mengikuti sang dokter dari belakang. Teman-teman Syifa juga berjalan menuju ruang pertemuan. Sang dokter menyuruh para co.ass masuk ke ruangan.

            “Kamu…”ucap sang dokter.

            “Iya, saya, Dok.”jawab Syifa dengan tetap menunduk.

            “Jangan terlalu sopan begitu. Biasa aja. Saya khawatir tidak semua dokter senang dengan caramu yang begitu, terutama saya. Kita semua disini adalah rekan sejawat, oke?”

            “Baik, Dok.” Kini Syifa mulai berani menegakkan kepalanya. Ia lihat wajah dokter yang menegurnya tadi. Cukup tampan, batinnya.

            “Saya dokter Baihaqi. Saya residen disini. Siapa namamu?”

            “Syifa, Dok.”

            Baihaqi membolak-balik beberapa lembar kertas, “Nah, ini dia,” gumamnya. Ia membaca halaman itu dengan seksama. Syifa diam. Baihaqi menatap Syifa setelah menutup kertas yang tadi dibacanya.

            “Jadi kamu yang namanya Syifa Eleanor?”

            “Benar, Dok.”

            “Oke, selama di stase ini, kamu di bawah bimbingan saya.”

            Syifa mengangguk. Baihaqi mulai memberikan beberapa materi tentang saraf. Syifa menyimak dengan serius. Sesekali Ia mencatat dalam buku kecil apa-apa yang dijelaskan oleh Baihaqi.

            “Materi anatomi saraf hari ini selesai dulu. Besok kita lanjut dengan fisiologinya. Sekarang kamu follow up pasien di bangsal ya.”

            “Siap, Dok.”

            Syifa bangkit dari duduknya dan segera menuju bangsal. Baihaqi tetap duduk di tempatnya.

            Usai follow up pasien, Syifa kembali menghadap Baihaqi untuk memberi laporan. Baihaqi yang sedari tadi masih betah duduk di kursi yang sama, melepaskan headset-nya saat melihat kehadiran Syifa.

            “Permisi, Dok. Ini saya mau memberikan laporan kemajuan pasien rawat inap.”

            Baihaqi menerima map yang berisi laporan. Ia membaca dengan saksama.

            “Okay, good! Sekarang silakan istirahat.

            “Terimakasih, Dok.” Syifa tersenyum, tapi Ia belum beranjak dari tempatnya.

            “Kenapa kamu masih di sini?”

            “Sudah adzan, Dok. Mari sholat.”

            “Kamu saja. Saya masih harus membaca jurnal,”ucap Baihaqi menanggapi ajakan Syifa. Ia katakan hal itu sambil memasang kembali headset yang tadi dilepasnya.

            Syifa pamit undur diri. Dalam perjalanan menuju masjid, Syifa heran mengapa Baihaqi tidak sholat, padahal ia adalah seorang muslim. Sebenarnya Baihaqi tergolong orang yang ramah, tapi mengapa seolah ia tak peduli pada agama? Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Syifa. Syifa mencoba berpikir positif, mungkin saja Baihaqi akan sholat nanti setelah selesai membaca jurnal.

* * *

            Hari ke-dua stase neuro.

            Usai melapor pada Baihaqi mengenai perkembangan pasien hari ini, Syifa kembali ke tempat duduknya sambil membaca materi fisiologi saraf yang diajarkan Baihaqi pagi tadi. Baihaqi yang melihat keseriusan Syifa membaca, bangkit dari duduknya dan mendatangi Syifa.

            “Istirahat dulu, Dik. Jangan terlalu force tenaga. Ini coba kamu dengarkan lagu-lagu di I-pod saya, biar pikiranmu bisa sedikit fresh.”

            Syifa tersenyum. “Memangnya ada lagu apa saja, Dok?”

            Baihaqi membacakan playlist dalam I-podnya. Syifa menahan tawa mendengar dokter pembimbingnya ternyata menyukai lagu-lagu seperti itu.

            “Tidak usah, Dok. Terimakasih. Saya sedang tidak ingin mendengarkan lagu-lagu galau.”ujar Syifa sambil menggelengkan kepala.

            “Lho? Kenapa? Lagunya enak lho…”

            “Saya khawatir jadi makin galau, Dok.”

            “Emang sekarang kamu lagi galau?”

            Syifa tersenyum, tidak menjawab.

            “Galau kenapa?”

            “Waduh, Dok. Dokter ini kan residen pembimbing saya, bukan teman curhat saya.”

            “Anggap aja saya ini kakakmu sendiri. Ayo, cerita. Sebab galaumu apa?”

            “Hmm, 28 Oktober kemarin saya baru putus, Dok.”

            “Wow, keren dong?!”

            “Keren dari mana, Dok?”

            “Ya keren aja kalian berikrar untuk putus di saat para pemuda di Indonesia berikrar untuk sumpah pemuda, hahaha…”

            “Jangan tertawa, Dok.”

            “Ups, sori… sori… Emang putusnya ada masalah apa?”

            “Pacar saya, eh, mantan saya tidak bisa menolak perjodohan yang disodorkan oleh orang tuanya. Memang sih gadis yang menjadi tunangannya sekarang jauh lebih cantik dan lebih kaya, walaupun agak tulalit.”

            “Hush, nggak boleh menghina orang!”

            “Tapi itu kenyataan, Dok.”

            “Kok tragis banget ya kisahmu, hehe… Ya sudahlah, masih banyak laki-laki cerdas di dunia ini. Gak perlu kamu berderai air mata untuk laki-laki yang tidak bisa tegas seperti pacarmu itu.”

            “Mantan, Dok. Bukan pacar.”

            “Ah, iya. Apalah itu.”

            Obrolan asyik itu terpotong oleh suara alarm yang menandakan panggilan darurat untuk para dokter jaga.

“Kamu stay di bangsal ini ya, Dik!”

“Siap, Dok.”jawab Syifa tegas.

Baihaqi meletakkan I-pod dan hapenya di depan Syifa lantas berlari menuju UGD. Syifa lanjut membaca materi fisiologi saraf. Sesekali Syifa memejamkan mata, mencoba menyimpan semua materi itu dalam memorinya. Hafalan Syifa tiba-tiba terganggu oleh suara dari hape Baihaqi. Syifa hanya memandangi saja hape itu. Ia tak berani mengangkat bila memang ada telepon. Ia biarkan saja hape itu berbunyi lirih. Angkat.. enggak.. angkat.. enggak.. Syifa ragu.

“Bismillah,”bisiknya lirih sambil merengkuh hape Baihaqi.

Hmm, ternyata bukan telepon, melainkan alarm. Di layar hape tertulis “Ultah gue, 7 November”. Oh, ternyata hari ini dokter Baihaqi berulang tahun, gumam Syifa. Karena Baihaqi sudah sangat baik dalam memperlakukannya sebagai murid dan sebagai teman, Syifa berniat untuk memberi kado ulang tahun.

Syifa berdiri, memeriksa kesehatan pasien di bangsal, sekaligus pamit pada mereka untuk keluar sebentar.

Di toko perlengkapan ibadah muslim, Syifa membeli sajadah dan kertas kado. Syifa sendiri yang membungkus kado itu. Usai berurusan dengan kado, Syifa langsung kembali ke rumah sakit. Ia tahu apa konsekuensinya jika ia terlalu lama meninggalkan pasien di bangsal tanpa penjagaan, ia bisa dihukum!

Syifa duduk di kursi co.ass. Ia memasukkan kado ke dalam laci mejanya. Tak lama, Baihaqi datang.

“Assalamualaikum, Dok. Ada pasien apa tadi?”

“Ada pasien pediatric kejang. Alhamdulillah sekarang sudah lumayan.”jawab Baihaqi yang hendak duduk di kursi. Ia mencari-cari sesuatu di mejanya.

“Dokter cari ini?”tanya Syifa sambil mengangkat hape dan I-pod.

Baihaqi berjalan menuju meja Syifa.

“Tadi Dokter meninggalkannya disini dan langsung ke UGD.”

“Terimakasih ya.” Baihaqi mengambil hape dan I-podnya, lantas hendak kembali ke mejanya.

“Saya punya sesuatu untuk Dokter.”

Langkah Baihaqi terhenti. Ia membalikkan badan. Syifa mengeluarkan kado dari dalam laci dan menyerahkannya pada Baihaqi.

“Selamat ulang tahun, Dok.”

“Sekali lagi terimakasih. Ngomong-ngomong kamu tahu dari mana kalau hari ini saya ulang tahun? Saya sendiri saja lupa kalau hari ini ulang tahun.”ujar Baihaqi sambil membuka bungkusan kado.

“Jadi karena itu sampai-sampai Dokter memasang alarm untuk mengingat hari ulang tahun Dokter?”

“Oh, tadi alarm hape saya bunyi ya? Hahaha…”

Syifa tersenyum.

“Sajadah?”tanya Baihaqi heran, setelah mendapati isi kado itu.

“Benar, Dok. Apa Dokter senang?”

Ada raut kurang senang dari wajah Baihaqi dengan sajadah itu, tapi ia berusaha menutupinya, “Saya harus senang, karena ini kado pertama yang saya terima setelah hampir empat tahun tidak ada yang mengingat ulang tahun saya.” Baihaqi tersenyum.

Syifa kembali duduk. Baihaqi meletakkan sajadah itu di atas mejanya. Ia seakan acuh dengan kado ultahnya. Ia berjalan menyusuri bangsal dan beramah tamah dengan para pasien yang esok sudah bisa pulang dari rawat inap.

Dalam hati, Syifa merasa aneh sebab ia tak melihat antusiasme Baihaqi saat menerima kado itu. Tapi ia diam saja.

* * *

            Hari ke-tiga stase neuro.

            “Jangan pergi dulu, Dik. Ada yang saya ingin bicarakan sama kamu.”cegah Baihaqi saat melihat Syifa hendak pergi setelah Baihaqi memberi materi tentang patofisiologi saraf.

            “Ada yang bisa saya bantu, Dok?”

            “Begini, minggu depan saya harus ujian. Kasusnya berat. Saya mau kamu bantu saya selama operasi.”

            “Kasus apa, Dok?”

            Baihaqi membuka medical record si pasien dan menunjukkannya pada Syifa. “Pasien ini laki-laki, enam puluh sembilan tahun. Dia dirawat karena hematoma subdural kronis, aneurysmanya pecah,” Baihaqi memberi penjelasan. Ia mengeluarkan hasil CT-Scan pasien. “Coba kamu lihat ini, Dik,”ujar Baihaqi sambil menunjuk salah satu bentuk pembuluh darah abnormal dalam hasil foto kepala pasien. “Dua bulan lalu, pasien mengalami stroke hemoragic karena pecahnya pembuluh ini. Dokter-dokter bedah saraf sudah mengoperasinya dan berhasil. Post-operasi diperiksa lagi, ternyata muncul aneurysma baru di bagian pembuluh yang lain. Satu minggu berikutnya, dokter mencoba meletakkan clip di leher aneurysma, tapi gagal. Para dokter mencoba cara lain. Mereka melakukan wrapping, coating, dan trapping pada aneurysma agar tidak menimbulkan komplikasi untuk kesehatan pasien ke depannya.”

            Syifa sangat serius mendengarkan penjelasan itu.

            “Setelah beberapa hari rawat inap dan kondisi pasien mulai stabil, pasien diizinkan pulang. Dokter memberinya beberapa profilaksis kejang karena pasien punya riwayat kejang saat berumur empat puluhan. Empat hari lalu, hmm, sehari sebelum kamu masuk ke stase ini, pasien itu datang lagi. Ia datang dengan deficit neurologi yang sangat parah. Kami tidak bisa melakukan operasi sebelum tekanan intrakranialnya kembali normal. Diperkirakan, dua atau tiga hari lagi, setelah kondisinya stabil, ia harus segera dioperasi. Seharusnya, ia ditangani oleh dokter-dokter yang dua bulan lalu merawatnya, tapi apa daya, dokter-dokter itu sekarang sedang di Hongkong untuk mengahadiri symposium. Tanggung jawab itu akhirnya dibebankan, hmmm, didelegasikan kepada residen, khususnya saya. Kasus ini sekaligus menjadi bahan ujian untuk saya. Para dokter senior tidak akan menyalahkan saya jika operasi ini gagal, sebab prognosis pasien dengan riwayat yang demikian complicated memang sangat buruk. Jika operasi ini berhasil, mereka berjanji akan memberi saya nilai A dan akan mempromosikan saya untuk lanjut sekolah konsultan. Tapi saya ragu, saya merasa dimanfaatkan agar para dokter senior itu terlepas dari tanggung jawab jika pasien meninggal di meja operasi.”

“Tapi kenapa harus saya, Dok?”

“Saya akan beri alasannya, asal kamu tidak marah.”

Syifa mengangguk, menunggu jawaban Baihaqi.

“Untuk operasi nanti, pihak rumah sakit hanya menyediakan satu spesialis anastesi, satu mekanik, dan satu perawat. Saya rasa itu kurang. Saya ingin kamu melengkapi tim itu. Saya ingin kamu menemani saya karena…”

“Karena?”

“Karena, entah mengapa, saya lebih tenang bila ada di dekat kamu, Dik.”

Wajah Baihaqi memerah setelah mengatakan itu. Ia tak berani menatap mata Syifa. Sementara Syifa terkejut dan salah tingkah.

“Tapi kalau Dik Syifa keberatan, saya tidak akan memaksa.”

“Saya bersedia, Dok.”

“Terimakasih,”ucap Baihaqi bahagia.

“Asal permintaan saya bisa Dokter penuhi.”

“Permintaan apa?” Kening Baihaqi mulai berkerut.

“Dokter harus berjanji pada diri sendiri untuk sholat lima waktu.”

Baihaqi berpikir sejenak, seperti sedang menimbang sesuatu, “Oke, deal!”

* * *

            Hari ke-empat stase neuro.

            Baihaqi mengajari Syifa cara melakukan pemeriksaan fisik neurologi. Ada yang sedikit berbeda dari proses belajar mengajar kali ini. Tatapan Baihaqi pada Syifa bukan lagi tatapan senior pada juniornya, tapi tatapan kakak pada adiknya, bahkan mungkin lebih dari itu.

Baihaqi mulai menaruh perhatian dengan mengomentari penampilan Syifa.

“Semalam kamu jaga ya?”

“Iya, Dok.”

“Pantas saja, kamu masih pakai jilbab yang sama seperti kemarin.”

“Saya belum sempat pulang ke kos untuk berganti jilbab. Maaf.”

“Saya punya ini buat Dik Syifa,” Baihaqi menyodorkan bungkusan jilbab.

Syifa menerimanya dengan hati mengembang, “Wah, terimakasih banyak, Dok.”

“Anggap saja ini bentuk rasa terimakasih saya karena besok kamu bersedia membantu saya operasi.”

Syifa tersenyum.

“Ayo kita sholat,”ajak Baihaqi.

Syifa senang Baihaqi sudah menepati janjinya untuk sholat lima waktu. Mereka berdua berjalan bersama menuju masjid. Di perjalanan, Syifa memberanikan diri bertanya pada Baihaqi.

“Maaf, Dok. Kalau saya boleh tahu, dan kalau Dokter tidak keberatan untuk bercerita, kenapa Dokter hampir tidak pernah sholat dulu?”

“Dulu saya tidak begini, Syifa. Tapi semenjak kejadian itu, saya jadi malas untuk sholat.”

“Kejadian apa, Dok?”

“Empat tahun lalu, orang tua dan calon tunangan saya meninggal dalam kecelakaan kereta api saat hendak menjenguk saya di Jakarta. Waktu itu, usia saya genap dua puluh satu tahun, seperti kamu sekarang. Kunjungan mereka ke Jakarta sekaligus merayakan ulang tahun saya, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Saya sangat terpukul. Saya ini anak tunggal dan saya tidak punya siapa-siapa lagi setelah Allah mengambil semua orang yang saya sayangi. Bulan berikutnya, saat pelantikan dokter, saya iri melihat teman-teman didampingi oleh keluarga dan calon istri/suami mereka, sedangkan saya seorang diri.”

“Maaf, Dok. Saya tidak bermaksud….”

“Nggak apa-apa, Dik.” Baihaqi melanjutkan ceritanya, “Semua warisan papa jatuh ke tangan saya. Walau saya kecewa dan sangat menggugat takdir Allah, saya tidak lantas terjun ke hal-hal negatif, karena saya tahu papa dan mama sangat ingin anaknya menjadi spesialis bedah saraf. Saya berusaha mewujudkan keinginan terakhir orang tua. Rumah milik orang tua, saya wakafkan untuk jadi panti asuhan. Saya tidak ingin mengurus surat-surat rumah yang rumit, jadi ya saya wakafkan saja agar saya bisa fokus kuliah residen. Beberapa usaha milik papa, saya jual asetnya dengan harga tinggi. Saya cukup tahu diri, saya tidak pandai berbisnis, jadi ya saya jual saja dari pada usaha papa bangkrut di tangan anaknya sendiri dan tidak menjadi apa-apa. Ratusan milyar warisan papa dari rekening beliau, ditambah asset-aset yang saya jual. Uang itu saya tabung, saya ambil sebagian untuk mendaftar kuliah spesialis dan untuk hidup saya sampai lulus, sebelum saya punya penghasilan sendiri. Saya memilih untuk kos di tempat yang sederhana karena saya akan merasa semakin sepi jika tinggal di rumah yang besar seorang diri.”

“Jadi Dokter merasa Allah tidak adil sehingga Dokter meninggalkan sholat?”

“Kurang lebih seperti itu, tapi kini saya sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Mungkin jalan ini yang Allah pilih untuk mempertemukan saya sama Dik Syifa.”

Mereka sholat berjamaah di masjid mungil. Dua insan yang pernah memiliki masa lalu menyakitkan, kini sedang tunduk sujud di rumah Allah.

* * *

            Hari ke-lima stase neuro.

            Setelah Baihaqi mengajari Syifa bagaimana cara mendiagnosis pasien dengan gangguan saraf, ia langsung menyuruh Syifa menuju kamar operasi.

            Hari ini adalah hari dimana Baihaqi harus melakukan yang terbaik untuk kasus yang berat. Tim operasi sudah siap di ruangan, sementara Syifa masih berganti pakaian. Spesialis anastesi hendak menyuntikkan obat, tapi Baihaqi mencegahnya.

            “Tunggu, Dok. Saya tidak akan memulai operasi ini jika dokter muda Syifa belum hadir.”ucap Baihaqi cepat.

            Dalam hitungan detik, Syifa masuk ke ruang operasi. Baihaqi tersenyum.

            “Anastesi…”seru Baihaqi.

            Dokter spesialis anastesi memulai biusnya. Syifa dan Baihaqi mengangkat kedua tangannya, berdoa agar Allah mengirimkan bala tentara-Nya untuk membantu berjalannya operasi. Setelah bius berhasil, Baihaqi pun memulai perjuangannya. Syifa dan seorang perawat dengan cekatan membantu Baihaqi. Spesialis anastesi terus memonitor stabilisasi hemodinamik pasien. Sungguh, kerja tim yang kompak.

            Tujuh jam kemudian. Operasi itu berjalan lancar dan sukses. Tidak ada komplikasi yang terjadi pasca operasi. Pasien dapat selamat.

* * *

            Hari ke-enam stase neuro.

            Syifa masuk ke ruang pertemuan. Ia lihat banyak sekali dokter senior yang menjabat tangan Baihaqi dan mengucapkan selamat atas suksesnya operasi kemarin. Dengan rendah hati, Baihaqi mengatakan bahwa itu semua berkat bantuan Allah, bukan semata-mata keahliannya. Syifa senang melihat peristiwa itu. Ia tersenyum melihat Baihaqi bahagia.

            “Hey, Syifa. Assalamualaikum,”sapa Baihaqi dengan melambaikan kedua tangannya. Baihaqi izin pamit dan memisahkan diri dari teman-teman residen dan dokter-dokter senior.

            “Waalaikumsalam warahmatullah. Selamat ya, Dokter Baihaqi Spesialis Bedah Saraf”

            “Terimakasih, Dik. Ini semua tak lepas dari bantuanmu.”

            Syifa tertunduk malu. Tanpa sengaja ia melihat buku yang ada di tangan kiri Baihaqi.

            “Sama-sama, Dok. Ehm, mentang-mentang sebentar lagi resmi jadi spesialis, buku agendanya langsung ditulisin ‘BS’. Memang sih, Bedah Saraf adalah spesialis yang keren.”

            “Maksud kamu buku ini?”tanya Baihaqi sambil mengangkat bukunya. Ia tertawa. “Hampir setiap orang mengira BS disini adalah Bedah Saraf, tapi bukan itu sebenarnya.”

            “Lalu?”

            “BS = Baihaqi dan Syifa, hehe… Ohya, ini undangan buat kamu. Minggu depan saya minta kamu mendampingi saya untuk pelantikan dokter spesialis. Bisa?”

            “InshaAllah, Dok.”jawab Syifa tersipu.

 

Denpasar, 28 Oktober 2012

Reqgi First Trasia

 

        

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s