Home

Minggu, 4 November 2012

…………air mata masih belum tuntas. Aku mencoba menghentikannya dengan berlembar-lembar tisu tapi ia tak mau padam. Kasihan lantai ini, baru tadi sore aku mengepelnya, kini ku banjiri ia dengan air mata. Kasihan bantal dan guling ini, baru kemarin aku jemur mereka di bawah terik matahari, kini ku guyur mereka dengan air mata. Aku ingin syahid, tapi…

 

Sebulan yang lalu

            Selalu ada kabar terbaru setiap aku membuka grup FULDFK. Hari ini ada foto yang diunggah di grup. Foto, atau pamphlet lebih tepatnya, ini memuat kabar soal acara FULDFK yang paling aku tunggu. Apalagi kalau bukan Antibiotik! Tahun ini adalah Antibiotik ke-8. Aku cermati isi pamphlet itu. Aku baca setiap detail kalimatnya. Aku unduh, lalu aku baca ulang. Aku merasa ada yang aneh, tapi apa? Aku cermati lagi. Ah, aku tahu. Aku tak suka dengan warna hitam. Aku sangat tidak sreg dengan warna latar pamphlet ini. Namun, ketidaksukaan itu tak mampu mengalahkan obsesiku untuk menghadiri Antibiotik 8.

            Sudah jauh-jauh hari aku mempersiapkan apa-apa saja yang sekiranya mencukupi untukku berangkat menuju Purwokerto, khususnya dana. Hmm, sudah menjadi rahasia Indonesia bahwa organisasi kerohanian Islam di Universitas Udayana tak diakui keberada-annya oleh rektorat. Begitu pula dengan IMA (Islamic Medical Activists) yang tak diakui keberadaanya oleh dekanat FK Unud. Label ‘tidak-diakui’ otomatis tak memberikan kesempatan pada kami untuk bermimpi ada kucuran dana bagi setiap kegiatan, apalagi pendelegasian macam ini.

            Aku memutar otak, bagaimana cara agar aku bisa mendapat dana? Mengajukan proposal ke dokter-dokter muslim rasanya tak mungkin. Beberapa minggu lalu, beliau-beliau sudah direpotkan oleh adik-adikku yang menyelenggarakan kegiatan intern lain. Lagipula, aku tak sudi kalau IMA terus menerus dicap ‘pengemis’ oleh para senior yang sudah mentereng dengan gelar dokternya. Aku ingin mereka punya cukup inisiatif dalam menggerakkan hati untuk membantu kami.

            Lalu apa yang harus aku perbuat? Aku tergolong tipe anak yang ‘gengsi’ meminta pada orang tua uang lebih dari yang seharusnya menjadi jatahku. Setelah cukup mengerahkan seluruh pemikiran, aku sampai pada keputusan bahwa aku harus bekerja. InshaAllah satu bulan bekerja paruh waktu cukup untuk mendanaiku berangkat ke Unsoed. Itu lebih baik dibanding aku terus berkutat dengan pertanyaan “Uang dari mana?” Karena jawabannya sudah sangat jelas, “Uang dari Allah! Hasbiyallah.Cukup Allah bagiku.”

* * *

            Aku mulai pekerjaan paruh waktu ini dengan senang hati. Aku mulai mengajar les privat seorang anak laki-laki yang sedang duduk di bangku SMP kelas 2. Banyak pelajaran yang aku dapat dari muridku bernama Bagus ini. Seorang anak dari orang tua mualaf yang memiliki kasta tinggi di Bali. Kalau aku putar kembali pelajaran semasa SD, aku jadi ingat bahwa kasta Ksatria (kasta dari Bagus) adalah kasta yang melebihi dua kasta lain, waisya dan sudra. Mereka adalah golongan kerajaan, kalau orang Jawa bilang priyayi, ningrat!

            Dari muridku ini, aku belajar tentang keikhlasan. Memang, di mata orang luar, kekayaan berlimpah dan istana yang megah adalah potret kebahagiaan duniawi, tanpa mereka tahu bagaimana kondisi psikologis makhluk-makhluk di dalamnya. Ya, Bagus adalah anak dari istri ke-dua. Ayahnya murtad dari Hindu karena menikah dengan ibunya. Empat belas tahun hidup bergelimang uang yang cukup tidak lantas membuat Bagus menjalani hari-harinya dengan penuh senyum. Hidup berdampingan dengan ibu kandung, adik-adik kandung, ibu tiri, dan saudara-saudari tiri tidaklah mudah, kesenjangan itu pasti ada. Ya, pasti ada! Tapi Bagus mencoba memasang topeng gembira, aku bisa pahami itu. Aku tak yakin bisa bertahan penuh keikhlasan jika harus berada di posisi Bagus, meski hanya satu hari, bahkan satu jam.

            Sudah seminggu aku mengajar Bagus. Setiap pulang mengajar, aku selalu melewati rumah-rumah mewah, perkantoran megah, pertokoan keren, termasuk restoran-restoran mahal. Maklum saja, rumah Bagus terletak di salah satu kawasan paling elite di Denpasar. Begitu banyak restoran berjajar, hanya satu restoran yang sedikit bisa menyedot perhatian-ku. Sebut saja restoran Lontara. Setiap motorku melewati restoran Lontara, aku sempatkan sudut mataku melirik restoran ini. Hmm, restoran mahal, sekali saja aku makan di restoran ini, bisa-bisa satu minggu aku harus menahan lapar di kos. Gila saja jika aku harus meng-habiskan sekitar 70-100 ribu untuk satu kali makan, bisa langsung kempes dompetku.

            Ini adalah minggu ke dua aku mengajar. Restoran Lontara tak jemu mencuri perha-tianku. Sepulang mengajar, aku coba menepi sekitar tujuh meter dari restoran Lontara. Aku hitung lembar demi lembar uang di dompetku. Cukup sih untuk bisa makan di Lontara tanpa harus menahan lapar di kemudian hari, lagipula dua minggu lagi kan aku dapat gaji dari hasil mengajar. Aku tersenyum. Aku julurkan leherku untuk melihat ke arah Lontara. Aku lihat kembali sepeda motor yang aku tunggangi. Aku menggelengkan kepala. Tidakkah aneh jika sepeda motor mungilku ini parkir diantara mobil-mobil mewah di Lontara? Ah, sudahlah, pede saja. Aku nyalakan mesin motor. Saat hendak menancap gas, aku terbayang wajah-wajah delegasi FULDFK saat Muskerwil DEW 5 di Universitas Jember tiga tahun lalu. Wajah-wajah penuh suka, sangat friendly, walau kami baru saja saling mengenal. Aku ingin kembali mengulang masa-masa itu di Antibiotik 8 nanti. Uang ini sebaiknya aku simpan saja untuk tambahan berangkat ke Purwokerto. Aku tancap gas. Bukan untuk ke Lontara, tapi kembali ke kos!

            Minggu ketiga aku mengajar, keinginan untuk bisa mencicipi makanan di restoran Lontara belum usai. Lagi-lagi, sepulang mengajar aku berhenti tujuh meter dari Lontara. Aku mengulang adegan yang sama, menghitung uang di dompet, tersenyum, menatap mobil-mobil mewah di parkiran, menggelengkan kepala, lantas menancap gas menuju kos. Huh! Kali ini bukan hanya wajah kawan-kawan saat Muskerwil DEW 5 yang muncul, rona-rona ukhuwah saat Munas 7 FULDFK di Jogja juga melintas. Sungguh, aku ingin kembali mengulang memori indah itu. Entah mengapa ada rasa yang kuat untuk menarikku terjun dalam ikatan-ikatan yang dipersatukan oleh Allah, walau durasi pertemuannya amatlah singkat. Aku teringat salah satu surah :

Dan Dia ALLAH yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi ALLAH telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Mahabijaksana. Wahai Nabi Muhammad Cukuplah ALLAH menjadi pelindung bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.. (Al Anfal : 63 – 64)

Okeh! Sampai bertemu di lain kesempatan, duhai restoran Lontara. Aku ingin menyimpan dulu uang ini untuk bekal berangkat ke Purwokerto, inshaAllah.

* * *

Kamis, 1 November 2012

            Hari ini cukup meresahkan. Saat di rumah sakit, di bawah langit Denpasar yang tak mau kompromi menghembuskan hawa sejuknya, dengan peluh yang membasahi jilbab, aku mondar-mandir mencari dokter pembimbing yang ternyata bukan hanya tidak ada di rumah sakit, tapi tidak ada di Denpasar, bahkan di Bali. Hmm, dokter yang seharusnya menjadi pembimbingku kali ini adalah seorang spesialis Obgyn yang sedang melanjutkan kuliah konsultan di Surabaya. Terpaksa, aku harus mencari penggantinya. Setelah ngalor-ngidul tanpa kepastian, aku malah disuruh kembali hari jumat besok untuk tahu pasti siapa pembimbing-ku. Well, aku pulang ke kos dengan tangan hampa, wajah hampa, dan nafas hampa.

            Sesampainya di kos, usai shalat Dzhuhur, aku rebahkan diri di atas tempat tidur, aku tarik nafas panjang. Hmm, bagaimana tidak hampa? Malam ini, sepulang aku menerima gaji hasil mengajar, aku mau langsung ke terminal dan mencari bus tujuan Purwokerto. Kalau besok aku harus ke rumah sakit, apa hanya karena itu aku harus batal menghadiri Antibiotik 8? Aku sudah relakan sebagian waktuku untuk mengajar demi mengumpulkan dana. Aku sudah pasrahkan lidahku yang tak bisa menikmati lezatnya masakan Lontara. Haruskah berakhir seperti ini? Ah, mungkin ini saatnya aku mengaplikasikan ilmu ikhlas, seikhlas Bagus, muridku, menjalani hari-harinya selama empat belas tahun.

            Sepertinya Allah membaca kegundahan hati hambaNya. Lamunanku dipupuskan oleh Allah lewat dering SMS dari hape. Aku raih hapeku. Ada SMS dari Pamanku di Sidoarjo

Assalamualaikum, Reqgi. Kamu punya uang nganggur gak? Om boleh pinjam?

            Tanpa bertanya ‘untuk apa’, aku langsung membalas.

            Waalaikumsalam wr wb. inshaAllah ada, om. Berapa?

            Pamanku menyodorkan sebuah nominal yang setara dengan setengah gajiku mengajar. Aku mengiyakan dan aku berjanji akan mentransfer uang keesokan harinya. Aku paham, Paman pasti lebih membutuhkan uang itu. Jika tidak, tak mungkinlah seorang Paman merendahkan dirinya untuk meminjam uang pada ponakan kalau tidak benar-benar kepepet.

            Malam hari selepas aku menerima gaji, aku pisahkan setengah gajiku untuk mentransfer Paman. Aku tarik nafas sedalam-dalamnya. Baiklah, kini aku punya dua alasan mengapa tidak berangkat ke Antibiotik 8. Pertama, aku harus bertemu dosen. Kedua, aku tidak punya cukup uang untuk berangkat. Uang yang sudah aku kumpulkan, harus beralih ke tangan Paman yang inshaAllah akan lebih bermanfaat.

            Pukul 21.00 WITA, sudah saatnya mataku terpejam. Baru sekejap aku terbuai dalam kasur setelah lelah membongkar kembali barang-barang yang kemarin sudah aku packing untuk berangkat ke Unsoed. Ya, baru sekejap, aku terbangun oleh suara SMS dari kawanku

            Reqgi, besok datang ya ke acara ultahku. Oke-oke?😀

            InshaAllah aku datang. Jam berapa? Dimana? Cieee yang mau nambah tua :p

            Hehe, jam 6 sore, Reqgi. Di Restoran Lontara, ruang VIP lt.2 yang ada karaokenya.

            Aku terperanjat kaget. Restoran Lontara yang selama sebulan ini aku idam-idamkan akhirnya besok tidak hanya membuatku menelan ludah saja, tapi akan menelan ludah bercampur nikmatnya tiap gigit makanan Lontara. Subhanallah, bibirku tak henti-hentinya melantunkan “Fa bi ayy ala I rabbikuma tukadziban… Fa bi ayy ala I rabbikuma tukadziban… Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?” Aku tersenyum, memejamkan mata, dan bergumam, “Lontara, I’m coming!”

* * *

Minggu, 4 November 2012

            Aku membantu Bagus mengerjakan tugas IPS tentang kebutuhan manusia, dari mulai primer, sekunder, sampai tersier. Dering SMS kembali menggodaku untuk meraih hape. SMS dari Mba Cherish, Kadept-ku selama di kepengurusan P dan K DEP FULDFK. Ah, pasti SMSnya soal evaluasi kerja staf, atau ngajak NM RMDFK yang sungguh tak kelar-kelar, atau soal laporan PLDF DEW 5, atau……. Ternyata semua dugaanku meleset. Mba Cherish memberi kabar tentang kecelakaan bus yang membawa rombongan delegasi FULDFK seusai city tour rangkaian acara Antibiotik 8. Tangan kananku yang menggenggam hape terasa lunglai. Aku terdiam.

            “Ada apa, ustadzah?”tanya Bagus yang melihatku bengong. Ia masih ragu, antara memanggilku ustadzah atau hanya ‘bu guru’, sebab mulai minggu ini aku tak hanya mengajar mata pelajaran di sekolahnya, tetapi juga menyimaknya saat membaca Quran, padahal kedua panggilan itu memiliki arti yang sama.

            “Nggak… Nggak apa-apa… Ini udah selesai PR IPS-nya?”

            Bagus mengangguk.

            “Boleh aku pamit dulu?”

            Aku bergegas pulang seusai menunaikan kewajibanku untuk mengajar Bagus. Aku melaju di dinginnya malam Denpasar dengan dada yang sesak, sama sekali tak lapang. Aku berada di antara dua kubu. Pertama, aku merasa bersyukur karena batal pergi ke Unsoed dan tak terlibat dalam peristiwa naas itu. Kedua, aku merasa iba membayangkan proses evakuasi korban, membayangkan paras-paras cantik delegasi akhwat yang kebahagiaan ukhuwahnya dihentikan secara sepihak oleh Allah melalui blongnya rem bus.

            Aku tiba di kos dan langsung memeluk guling, mencurahkan air mata yang sedari tadi tertahan. Kini ada perasaan ketiga yang menyelinap dalam relung. Rasa iri. Rasa iri mendengar mereka yang inshaAllah berpulang dalam syahid, terluka dalam jihad, ketakutan dalam jalan Allah. Aku iri. Aku iri mengingat janji Allah bagi mereka.

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (QS.3:169-171)

Aku resah mengingat diriku disebut sebagai “Orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka”. Aku berduka. Air mata masih belum tuntas. Aku mencoba menghentikannya dengan berlembar-lembar tisu tapi ia tak mau padam. Kasihan lantai ini, baru tadi sore aku mengepelnya, kini ku banjiri ia dengan air mata. Kasihan bantal dan guling ini, baru kemarin aku jemur mereka di bawah terik matahari, kini ku guyur mereka dengan air mata. Aku ingin syahid, tapi… Tapi Allah belum menunjukkan jalanku untuk syahid. Meski demikian, aku ingin syahid tanpa ‘tapi’.

 

Reqgi First Trasia

Denpasar, 10 – 11 – 12

One thought on “Aku Ingin Syahid, tapi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s