Home

Senyum Online 

Denpasar – Istanbul

Reqgi First Trasia

“Assalamualaikum… Pak Haji…” goda salah satu teman kontrakan yang melihatku mengenakan peci hendak pergi shalat tarawih.

Gue belum haji, bro…”jawabku, “Tapi nggak apa-apa deh, Waalaikumsalam… Gue berangkat dulu ya…”

“Sendirian aja?”

Emang mau sama siapa?”

“Ya, kali aja ada calon istri. Haha..”

Udah deh jangan buat gue galau!”

Entah mengapa Ramadhan tahun ini aku begitu antusias mengikuti ritual ibadah. Aku tetap bahagia berjalan sendiri menuju masjid untuk shalat berjamaah sekalipun teman-temanku satu per satu mulai sibuk dengan skripsi mereka.

Di masjid, aku tergerak untuk mendekati seorang tua yang selalu menempati shaf dekat pilar. Hampir setiap hari aku melihatnya di tempat yang sama, tapi baru hari ini aku ingin mengajaknya bicara.

“Assalamualaikum, Pak,” sapaku.

“Waalaikumsalam warahmatullah.”jawab bapak itu singkat.

“Sendiri saja, Pak?”

Enggak, saya dengan istri di shaf belakang. Kalau adik?”

Aku perhatikan tubuh renta itu. Badannya sudah bungkuk. Lipatan kulit, kerutan di kening, rambut yang memutih, tanggalnya gigi, dan tremor dari tangannya sudah sangat menunjukkan bahwa perlahan tubuhnya termakan oleh usia. Aku lihat sorot matanya yang tajam, masih tersimpan garis-garis ketampanan di masa muda.

“Dik… Dik…” ucap Bapak itu membuyarkan lamunanku.

“Astagfirullah, maaf, Pak. Saya sendiri saja.”

“Oh, saya pikir bersama istrinya juga.”

“Hehe, belum, Pak. Saya belum menikah.”

Kumandang adzan menghentikan obrolan kami secara mutlak. Aku terdiam di samping Bapak itu. Telingaku mendengarkan adzan, sementara pikiranku melayang entah kemana. Istri, ya calon istri. Hari ini sudah dua orang yang mengucapkan kata “istri” di hadapanku. Hmm, usia sepertiku yang baru dua puluh dua tahun, wajarkah memikirkan calon pendamping hidup? Koas saja belum kelar, apalagi menikah. Kalaupun koas sudah kelar, hendak menikah dengan siapa? Sampai saat ini belum ada wanita yang menggugah hatiku untuk menyiratkan “Ya, aku jatuh cinta.” Begitu banyak muslimah luar biasa di Semarang, tapi belum sama sekali hatiku terhipnotis.

Sungguh, sepulang tarawih hari ini aku masih saja galau, apalagi setelah mendengar Bapak tadi mengatakan bahwa beliau tarawih bersama istrinya. Sudah setua itu, tapi mereka masih seiya sekata, selangkah, dan sejalan. Akankah aku bisa seperti itu bersama istriku nanti? Akankah ia akan tetap mendampingiku dengan senyum saat tubuhku yang mungil ini mulai rapuh?

Orang bilang, saat gundah, carilah Tuhanmu dan carilah media massa. Mengapa? Sebab Allah-lah pemilik segala takdir dan media massa-lah sumber rasa hatimu, begitu katanya. Media massa bisa membuatmu tertawa, menangis, bahkan marah. Aku ingin mencoba poin pertama, bahwa media massa mampu melukis tawa. Aku buka laptop dan menghubungkan koneksi internet. Aku awali “surfing”ku dengan membuka twitter. Aku lihat trending topic world widenya (TTWW). Ada #alay disana. Aku tertawa, pasti “hashtag alay” ini kerjaan orang Indonesia.

Aku lanjutkan “surfing” ini dengan mengetikkan kata “alay” di sebuah search engine. Alhasil, aku temukan berbagai artikel “alay” disana. Setelah puas senyum-senyum nggak jelas membaca puluhan ke-alay-an dunia maya, aku masuk ke sebuah blog yang didalamnya ada keyword kata “alay” atas rekomendasi dari search engine itu. Hmm, blog ini bukan blog alay, hanya kebetulan terselip kata “alay” disana. Aku baca postingnya, lucu juga. Si penulis tampak begitu ekspresif bercerita tentang kesehariannya. Aku baca data diri si pemilik blog. Ternyata dia seorang mahasiswi kedokteran satu tahun di bawahku. Dalam biodatanya, Ia menuliskan sebuah Universitas negeri di Denpasar tempatnya kuliah. Dzahira Talita Zahra namanya, cukup unik. Sama sekali tak ada foto terpajang dalam blog itu. Namun aku bisa sedikit membayangkan gadis ini lewat tulisan-tulisannya. Dari penilaianku, Ia adalah seorang yang ekstrovert, memegang teguh prinsipnya, dan selalu berjuang untuk mencapai apa yang diimpikannya. Ya, ini adalah detik dimana aku mulai jadi stalker. Hampir setiap hari di hari-hari berikutnya sepulang koas, aku selalu menyempatkan diri untuk membuka blog Dzahira hanya sekadar untuk membaca kisah terbaru dari hidupnya tanpa aku tahu siapa dia sebenarnya.

Kembali ke kegalauan hari ini yang sedikit terhapuskan oleh kehadiran Dzahira, aku berlanjut ke halaman fesbuk. Aku buka salah satu grup di fesbuk. Aku lihat ada sebuah info yang menarik. International Camp for Medical Students in Istanbul. Mata yang hampir lima watt ini spontan terbelalak membaca persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi delegasi Indonesia dalam ajang bergengsi ini. Aku baca satu persatu. Ambisiku mulai menampakkan wujudnya. Aku akan coba penuhi persyaratan itu. Ya, aku harus bisa, insyaAllah! Malam ini aku akan tidur lebih awal dan esok pagi saat sahur, aku persiapkan segalanya sambil menunggu subuh.

Alhamdulillah, semua persyaratan sudah ku penuhi. Dari mulai esai, sertifikat TOEFL, sampai curriculum vitae, semua sudah beres. Pukul sembilan nanti aku akan kirimkan berkas ke panitia. Selanjutnya, tinggal menunggu dua minggu ke depan untuk mengetahui apakah aku akan lolos atau tidak.

* * *

Subhanallah! Campur aduk rasanya ketika aku dinobatkan sebagai salah satu delegasi yang berhak mewakili Indonesia untuk kuliah singkat di Istanbul. Aku langsung mengabari orang tuaku di Surabaya. Mereka ikut bangga dan memberiku izin untuk berangkat. Dua minggu lagi aku harus terbang ke Istanbul, jadi mulai hari ini aku sibuk mengurus paspor dan segala hal menyangkut keberangkatan. Setelah aku rasa cukup, aku kembali melihat daftar delegasi dari Indonesia. Selain dari Jogja, ada juga dari Padang, Surabaya, Riau, Bandung, Makasar, Pontianak, dan Bali. Mereka semua adalah mahasiswa/I kedokteran terpilih. Hmm, tunggu… Sepertinya aku wajib lebih cermat membaca daftar delegasi. Bali? Serius Bali? Mendengar kata “Bali”, aku langsung teringat pada Dzahira. Bukankah ia juga mahasiswi dari Denpasar? Aku baca ulang nama delegasi itu : Zasky Fakhirah. Ah, ternyata tidak seperti yang aku harapkan. Padahal aku berharap tertulis nama Dzahira si gadis blogger itu disana, tapi tak apa, siapa tahu Zasky mengenal Dzahira. Lebih tepatnya, mungkin aku bisa mengenal Dzahira lewat Zasky.

Sesuai permintaan panitia penyelenggara International Camp, delegasi dari tiap negara diharuskan datang dalam satu rombongan untuk kemudahan komunikasi. Itu artinya kami harus saling berkoordinasi untuk pemesanan tiket pesawat, minimal kami saling mengenal sekalipun hanya bertukar nomor hape atau chatting via dunia maya.

Satu persatu aku mulai mencari nama-nama delegasi itu di fesbuk. Beberapa dari mereka sudah ada yang terlebih dahulu menambahkan aku sebagai temannya. Kami mulai net meeting membahas persiapan keberangkatan dan presentasi tentang Indonesia di Istanbul nanti. Kami memutuskan untuk berkumpul terlebih dahulu di Bandara Soekarno-Hatta agar tidak hanya kenal di dunia maya dan lebih memudahkan koordinasi.

* * *

Ini adalah hari terakhir aku koas di semester delapan karena dua hari lagi aku mengajukan permohonan izin untuk berangkat ke Istanbul. Hari yang cukup santai di stase Obsgyn ini tiba-tiba dikejutkan oleh seorang ibu yang hendak partus dengan pendarahan hebat. Aku yang sedang asyik menghafalkan sedikit bahasa Turki langsung beranjak bangkit dari tempat duduk untuk membantu dokter di kamar operasi. Aku lihat para perawat membawa ibu yang tampak kelelahan itu. Jilbabnya basah karena keringat, ia menahan rasa nyeri, mungkin karena kontraksi di rahimnya.

Sebelum memasuki kamar operasi, aku kenakan pakaian steril, mencuci tangan, memakai sarung tangan, dan tentu mengucap “Bismillah” agar segalanya bisa lancar. Seorang perawat memberitahuku bahwa ini kondisi plasenta previa dengan kehamilan kembar.

“Benar begitu, dok?”tanyaku pada dokter spesialis kandungan di depanku.

Dokter itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Aku cukup paham anggukannya. Itu artinya harus dilakukan seksio. Tanpa bicara banyak, aku langsung memersiapkan peralatan seksio. Aku sempat panik terutama saat melihat air mata ibu itu mulai menetes. Sebegitu sakitnya kah? Benarkah rasanya mirip seperti mematahkan sepuluh tulang vertebra? Ah, aku tak sanggup membayangkan, sungguh.

Dokter menyuruhku melakukan anastesi epidural. Aku kaget, “Serius, dok?”tanyaku tak percaya.

Lagi-lagi dokter hanya mengangguk. Bismillah, setelah aku persiapkan anastesinya, aku mulai menyuntikkan jarum epidural itu di antara Lumbal 4 dan 5. Alhamdulillah, separuh bagian bawah sang ibu pun mulai terblok sarafnya. Dokter obsgyn langsung melakukan prosedur aseptik dan menorehkan sayatan horizontal di bagian atas dari vesika urinaria. Metode ini digunakan oleh dokter untuk meminimalkan pendarahan dan mempercepat proses penyembuhan.

Selepas kedua bayi kembar laki-laki dan perempuan itu dilahirkan, aku merasa lega. Aku tersenyum pada ibu si bayi dan berkata, “Alhamdulillah, Bu. Kedua anak Ibu sehat.”

. “Alhamdulillaaah.”ujarnya bahagia

“Saya pamit dulu, Bu. Semoga nanti keduanya bisa menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Assalamualaikum.”

Aku keluar dari kamar operasi mengikuti dokter obsgyn. Aku melepas pakaian dan mencuci tangan. Dokter mengabarkan berita gembira itu pada sang suami. Aku pun turut mengucapkan selamat.

Belum ada sepuluh langkah, salah seorang perawat memanggilku, “Koas Raghuf!”

Aku menengok ke belakang, “Iya, ada apa?”

“Ibu yang tadi ingin bertemu.”

Aku berbalik dan menghampiri ibu si kembar. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?”tanyaku.

“Namamu siapa, Dik?”

“Saya Raghuf Zhaahir, Bu.”

“Artinya?”

“Artinya menyenangi segala hal yang dilakukan untuk masa depan yang terang, insyaAllah.”

“Boleh Ibu pakai namamu untuk anak Ibu?”

“Silakan, Bu. Dengan senang hati.”jawabku sambil tersipu.

“Kamu punya usul untuk nama anak Ibu yang perempuan?”

“Beri saja nama Dzahira Talita Zahra, Bu. Bagaimana?”

“Artinya?”

“Artinya seorang gadis yang istiqomah berdoa layaknya setangkai bunga.”

“Subhanallah… Terimakasih, Dik. Bagaimana Ibu bisa membalas kebaikanmu?”

Nggak perlu, Bu. Saya ikhlas.”

“Bagaimana kalau Ibu balas dengan doa? Apa yang menjadi hajatmu, Dik?

“InsyaAllah dua hari lagi saya studi di Istanbul, Bu. Doakan saja supaya segalanya dipermudah oleh Allah.”

“Aminnn… Kamu sudah berjodoh, Dik?”

“Belum untuk saat ini, Bu.”

“InsyaAllah nanti di Istanbul kamu akan menemukan jodohmu.”

“Aminnn.”jawabku sambil tersenyum.

* * *

Hari ini kami, para delegasi Indonesia, sudah berkumpul di Bandara Soekarno Hatta. Untuk pertama kalinya aku bertatap muka dengan mereka, termasuk dengan Zasky Fakhirah, delegasi dari Bali. Kami semua saling bercengkrama menanyakan hal-hal dasar yang memang patut untuk dipertanyakan satu sama lain sambil menunggu penerbangan ke Turki.

Setelah puas berbincang, kami pun check-in. Aku mendapatkan tempat duduk di samping Zasky. Itu artinya selama tiga belas jam aku akan terus berada di sampingnya. Hmm, semoga dia bukan orang membosankan, minimal bisa diajak ngobrol.

            Pesawat pun mulai take off. Bibirku tak henti-henti mengucap Bismillah. Beberapa menit kemudian aku lirik di samping kiriku, Zasky masih saja diam seribu bahasa. Aku berusaha membuka percakapan, semoga ada feedback.

            “Kok diam saja, Zasky?”

“Mas Raghuf juga diam saja dari tadi.”jawabnya sambil tersenyum.

Kami pun sedikit tertawa.

“Kemarin dari Bali sampai Jakarta naik apa, Zasky?”

“Naik pesawat promo, Mas. Hehe… Kalau Mas?”

Obrolan kami pun berlangsung. Aku lebih banyak bercerita tentang diriku dan keluargaku, sementara Zasky menjadi pendengar yang baik. Baru kali ini aku bisa berbicara panjang lebar pada orang yang baru ku kenal. Sesekali aku menanyakan bagaimana kehidupan Zasky. Ia menjawab seperlunya saja, Ia tergolong orang yang tak banyak bicara, berbeda dengan Dzahira yang begitu antusias menceritakan kisahnya di blog. Ya, Dzahira! Mengapa aku tak bertanya pada Zasky? Mungkin saja dia bisa menjadi perantara untukku bertemu Dzahira.

“Hmm… Zasky, kamu kenal Dzahira Talita Zahra?”

“Talita?”jawabnya tenang.

“Oh, dipanggilnya Talita ya? Bukan Dzahira?”

“Sama aja sih. Emang kenapa, Mas? Mas kenal dari mana?”

Aku mulai menceritakan kronologis bagaimana aku bisa mengenal Dzahira. Aku melihat raut wajah Zasky yang sedikit tersenyum mendengar ceritaku. Aku katakan pada Zasky bahwa Dzahira adalah satu-satunya perempuan yang bisa membuatku menjadi seorang stalker. Aku katakan pula bahwa Dzahira adalah sosok perempuan unik yang pernah ku kenal, terutama dari cara pandangnya terhadap sebuah permasalahan dan cara dia menyikapi hal itu.

“Selama ini aku cuma baca blognya aja. Aku sudah coba cari di fesbuk dan twitter, tapi aku gak nemu. Gak mungkin kan mahasiswi zaman sekarang cuma punya blog tanpa twitter dan fesbuk? Padahal aku pengen minimal bisa sharing sama dia.”tanyaku.

“Tapi dia punya YM lho, Mas.”

“Oh, iya, YM! Kenapa aku gak kepikiran ya?”

* * *

Kami tiba di Attaturk Airport. Alhamdulillah, inilah Istanbul, kota yang menjadi pusat peradaban dunia dua abad yang lalu. Kota yang dulu bernama Konstantinopel ini sungguh sangat menggugah mata.

Kami dijemput oleh beberapa orang panitia untuk dibawa ke asrama. Sesampainya di asrama, aku langsung menyegarkan badan yang cukup berkeringat karena saat ini Turki sedang musim panas. Selepas itu, aku masih punya waktu rehat sekitar tujuh jam sebelum opening ceremony dimulai. Aku gunakan waktu itu untuk mencari YM Dzahira seperti saran Zasky tadi. Tak lama, Dzahira menerima pertemanan di YM. Aku membuka percakapan.

Assalamualaikum… Dzahira… Salam kenal J

            Waalaikumsalam wr wb… Salam kenal juga… Ini dengan siapa?

            Aku Rhaghuf, FK di Semarang. Aku tahu kamu dari blogmu.

            Wah, blog ya? Hehe, maaf blog saya memang sedikit lebai…

            Ah, nggak kok… biasa aja… Btw, apa kabar Denpasar?

            InsyaAllah baik2 aja. Saya kurang tahu soalnya sedang tidak di Denpasar.

            Oh, lagi pulkam buat liburan ya?

Begitulah, aku dan Dzahira memulai percakapan. Sesekali aku meminta izin untuk offline karena agenda di Istanbul sudah menunggu.

Ya, sungguh menyenangkan berada disini. Sekalipun cukup melelahkan karena kami harus sering berjalan kaki dan tak bisa menjumpai nasi, hanya roti yang digunakan sebagai sumber karbohidrat, kami tetap happy. Kuliah, diskusi, workshop dan seminar pun kami jalani dengan suka cita. Terlebih lagi ketika sudah memasuki sesi “melancong”. Subhanallah… Aya Sofya, Masjid Suleymani, Masjid Sultan Ahmed, Masjid Fatih, Topkapi Palace, dan Selat Bosphorus sungguh indah. Ah, terlalu panjang jika ku ceritakan semua lokasi itu. Namun sungguh, apa yang kau rasakan ketika kau berada diantara dua benua? Ketika kau tahu bahwa saat kau menengok ke kiri, ada benua Asia disana, dan saat kau menengok ke kanan, ada benua Eropa disana? Bagaimana? Ketika burung-burung seagull beterbangan diatasmu dan lumba-lumba menari dibawahmu? Indah bukan? Itulah Bosphorus, kawan. Itulah Istanbul!

* * *

Hmm… ini adalah hari dimana aku harus meninggalkan Istanbul sebab masa studiku telah berakhir. Berat rasanya meninggalkan keunikan kota ini, tapi apa daya, mungkin waktu belum tepat. InsyaAllah aku akan kembali ke sini, entah kapan. Mungkin saja aku akan jadikan Selat Bosphorus sebagai tempat Ijab Kabul.

Aku dan delegasi dari Indonesia lainnya sudah berada dalam pesawat menuju Jakarta. Kali ini Zasky tak lagi mendapat nomor kursi di sampingku. Kami pun belum terlalu antusias untuk bercerita. Ya, kami cukup lelah fisik, walau hati mungkin tersenyum. Sepanjang jalan kami tertidur pulas. Barulah sekitar dua sampai tiga jam sebelum mendarat, kami terbangun dan mencuci muka.

Akhirnya, sampailah kami di Bandara Soekarno-Hatta. Disana kami saling berpamitan dan berharap bisa bertemu kembali di lain kesempatan. Aku pribadi tak langsung ke Semarang. Aku ingin mampir ke tempat lain.

“Zasky, kamu langsung pulang?”tanyaku.

“Iya, Mas. Kenapa?”

“Saya mau ikut ke Denpasar.”jawabku singkat.

“Untuk apa?”

“Untuk menanyakan kesediaan Dzahira menjadi pendamping saya.”

“Serius? Bukannya Mas baru sekitar dua bulan mengenalnya via YM?”

“Iya, memang, tapi insyaAllah saya sudah memantapkan hati.”

“Seandainya dia tidak berwajah cantik?”

“Mungkin dia tidak secantik kamu, Zasky. Tapi itu tidak menjadi soal.”

“Sudah baca posting terbarunya di blog?”

“Belum, kenapa?”

“Coba baca saja dulu.”

Aku mengeluarkan tablet dan membaca posting terbaru di blog Dzahira. Dari judulnya saja aku merasa aneh “Romantisme Ukhuwah Diantara Dua Benua – Selat Bosphorus”. Aku simak posting itu. Aku hampir tak percaya.

“Ini maksudnya apa, Zasky?”

“Ya, sayalah Dzahira Talita Zahra, Mas. Itu nama pena saya. Maaf kalau saya tidak memberitahukan sejak awal. Apa Mas berubah pikiran?”

“Tidak, Zasky. Justru saya semakin memantapkan hati. InsyaAllah.”

* * *

Reqgi First Trasia

Denpasar, 7 Agustus 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s