Home

Ramadhan

Di Samping Kandang Babi

Reqgi First Trasia

 

“Astagfirullah. Bau apa ini, guys?” tanya Fola.

“Ssst. Samping kita ini kandang babi,” jawab Nita.

            Fola, Nita, Dewi, Cici, dan sembilan kawan muslim lain kompak menutup hidung saat hendak melangkah memasuki wantilan. Dalam Bahasa Bali, wantilan berarti semacam pendopo yang biasa difungsikan seperti banjar (kantor kepala desa, red). Tiga belas mahasiswa/i muslim ini sama sekali tak bisa membayangkan akan bagaimana nasib mereka selama Ramadhan di Karangasem ini, di wantilan ini, dan di samping kandang babi ini!

            Karangasem, sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Bali ini kini mereka jejaki tanahnya. Sama sekali tak terlintas dalam pikiran mereka bahwa suasana lokasinya akan pilu, amat jauh berbeda dengan Denpasar dan segala kemudahan di dalamnya. Mereka beriringan menuju satu petak ruangan seukuran 3×4 meter yang selama satu minggu ini otomatis menjadi ruang multifungsi. Mereka akan sholat, tidur, makan, dan memasak di ruangan ini. Ruangan yang selalu mereka sebut sebagai istana.

            Istana ini sengaja dipersiapkan oleh panitia sebab tidak ada masjid di desa ini, di kelurahan ini, bahkan di kecamatan ini. Dalam hati mereka bersyukur tak dibiarkan sholat dengan menggelar sajadah di sembarang tempat yang selalu dilewati oleh anjing. Ya, anjing di Bali sudah seperti kucing di Jawa, begitu menjamur!

            Hal lain yang patut mereka syukuri adalah tersedianya kompor dan penggorengan di dalam ‘istana’ untuk persiapan sahur esok. Panitia hanya memberi jatah buka puasa. Yaaa, walaupun diantara mereka bertiga belas, hanya Fola yang selalu bangun lebih awal dan mengaplikasikan kemahirannya sebagai koki dadakan.

            “Alhamdulillah, di istana ini aroma kotoran babi gak terlalu menusuk,”ujar Cici sambil meletakkan ranselnya di sudut ‘istana’.

            “Iya, Alhamdulillah banget. Semoga hari-hari kita ke depannya bisa enteng. Hmm, tapi roman-romannya kita bakal sering tayamum nih soalnya daerah ini tergolong sulit air,”sahut Anto yang sedang menyandarkan tubuh disamping ranselnya.

            “Kenapa acara kampus ini pas Ramadhan ya?”tanya Abdul kesal.

            “Ya sudahlah, toh memang angkatan kita baru libur sekarang. Tenang aja, justru dengan kondisi kita yang seolah punya multiple burden ini, bakal banyak pahala yang bisa kita dapat, inshaAllah,”jawab Fahri dengan bijak.

            Benar, kondisi mereka memang penuh dengan multiple burden. Pertama, mereka hanya tiga belas muslim dari dua ratus mahasiswa yang mengikuti acara kerja sosial dan pengabdian masyarakat ini. Mereka jelas adalah minoritas. Kedua, acara angkatan ini tepat pada bulan Ramadhan dimana mereka harus puasa. Okelah kalau mereka puasa di wilayah yang udaranya mampu menyegarkan tubuh dan menentramkan kalbu. Tapi ini? Semakin dalam mereka hirup udaranya, semakin udara itu merangsang reflex muntah di otak, terutama bila angin selatan mulai berhembus membawa aroma menusuk dari kandang babi. Ketiga… Keempat… Kelima… Ah, terlampau banyak yang sesungguhnya bisa mereka keluhkan, tapi mereka lebih memilih bersyukur. Karena jika mereka bersyukur, maka keyakinan mereka akan meningkat bahwa Allah akan menambah nikmat bagi mereka.

            “Guys, sudah hampir Ashar nih. Kita belum sholat Dzuhur lho gara-gara kelamaan di perjalanan tadi,” ucap Harry mengingatkan kawan-kawannya.

            “Gimana kalau dijamak aja? Soalnya kan sebentar lagi kita harus bantu panitia untuk persiapan opening ceremony.”sambung Fadil.

            “Boleh. Boleh. Tapi kita bareng-bareng ya cari tempat wudhunya, soalnya disini kan gak ada air. Siapa tahu di rumah penduduk ada yang masih punya persediaan air.”sahut Daus.

            Mereka beringsut meninggalkan ‘istana’ sambil mengoleskan minyak kayu putih di bawah hidung agar aroma babi tak terlalu menusuk. Mereka berjalan melewati wantilan, belok ke kiri, menuruni jalan yang cukup landai. Mereka masih bisa mencuci mata dengan pemandangan tumbuhan-tumbuhan hijau yang rindang, yang tentu akan sukar mereka temui di perkotaan. Mereka masih bisa menikmati ‘sajian’ rumah-rumah sederhana dengan arsitektur Bali yang sangat kental. Kadang aroma babi diselingi oleh aroma dupa yang diletakkan di atas banten (sesajen, red) dan selalu diganti setiap dupa habis, selalu di setiap pintu depan rumah, juga tempat-tempat sakral yang mereka anggap perlu diberi sesajen kembang tujuh rupa itu. Sesekali mereka mengarahkan pandangan ke arah gadis-gadis Bali yang begitu anggun mengenakan kebaya dan laki-laki yang mengenakan udeng di kepalanya untuk sembahyang, karena hari itu adalah hari dimana bulan purnama akan muncul. Para penganut Hindu memanfaatkan bundarnya bulan untuk berbagai upacara odalan.

            Mereka tiba di salah satu rumah penduduk. Ahmad memberanikan diri untuk meminta izin pada si empunya rumah.

            “Om swastiastu.” ujar Ahmad sambil mengetuk pintu rumah.

            Si pemilik rumah keluar dengan pakaian rapi hendak sembahyang. “Ada apa ya?”

            Setelah Ahmad menjelaskan maksud kedatangan rombongannya, si pemilik rumah mempersilakan mereka untuk berwudhu. Tapi mereka cukup tahu diri sebab wilayah ini kekurangan air, sehingga mereka berwudhu seperlunya saja. Usai menyampaikan puluhan terimakasih, mereka kembali menanjaki jalanan menuju ‘istana’ untuk sholat.

* * *

            Selagi teman-temannya sibuk mengikuti opening ceremony, Fola meninggalkan acara itu. Ia mencari bahan makanan yang akan dimasak untuk sahur ketiga belas temannya. Fola keluar dari wantilan, berbelok ke kanan, mendaki jalanan yang sedikit curam, lalu menyebrang ke kiri. Di situlah warung penjual bahan makanan mentah berada.

            “Yang ini berapa harganya, Bu?”tanya Fola sambil mengangkat sayur kacang panjang dan empat bungkus tempe.

            Si penjual itu menatap Fola dengan mata bingung dan heran. Fola mengulangi pertanyaannya. Si penjual malah menggelengkan kepala. Seorang laki-laki yang menyaksikan adegan itu dari kejauhan memutuskan untuk terlibat. Ia berbicara dengan Bahasa Bali sambil menunjuk belanjaan yang dipegang Fola. Fola hanya terdiam. Sekilas Fola menangkap laki-laki itu seolah sedang menawar harga.

            “Semuanya tiga belas ribu,”ujar laki-laki itu pada Fola.

            Fola spontan mengambil dompet dan mengeluarkan uang sejumlah yang disebutkan. Ia memberikan uang itu pada si penjual sambil tersenyum. Sebelum pergi, Fola tak lupa berterimakasih pada laki-laki yang telah menyelamatkannya dari komunikasi lintas bahasa.

            “Sama-sama. Ohya, kenalkan. Aku Archard,”ujar laki-laki itu sambil menelungkup-kan kedua tangannya di depan dada, khas gaya orang muslim saat berkenalan.

            “Fola…”jawab Fola dengan gaya serupa.

            Fola sempat gugup saat berkenalan. Ia melihat Archard menatapnya dengan pandangan yang aneh. Laki-laki di hadapannya itu cukup tampan. Kombinasi wajah Pakistan dan pribumi, sungguh menyilaukan mata setiap gadis yang memandangnya. Postur tubuhnya cukup ideal, sekitar lima belas senti lebih tinggi dari Fola. Tindak-tanduknya pun cukup sopan. Dari penampilannya, terlihat bahwa ia tak hanya tampan, tapi juga mapan. Adalah hal wajar bila banyak gadis yang menjadikannya sebagai idola. Tapi untuk apa semua itu? Batin Fola. Jika memang laki-laki itu memiliki triple ‘-pan’ : tampan, sopan, dan mapan, tapi dia bukan Islam, Fola akan menolak mentah-mentah. Ia menginginkan laki-laki yang 3T (tampan, tajir, dan taqwa). Tapi tunggu. Archard tadi berkenalan dengan menelungkupkan kedua tangannya, bukan dengan bersalaman. Apakah itu berarti dia muslim? Ah, belum tentu! Hampir setiap suku di Indonesia punya cara demikian untuk berkenalan.

            “Hey, Fola!”ucap Archard dengan nada yang sedikit ditinggikan untuk membuyarkan lamunan Fola.

            “Eh, iya, maaf… maaf…”

            “Ibu penjual sayur tadi gak bisa bahasa Indonesia. Beliau cuma bisa bahasa Bali.”

            “Iya, makasih ya Bli Archard sudah bantu saya tadi.”

            “Eits, jangan panggil saya ‘Bli’. Saya bukan orang Bali. Saya asli Jogja. Panggil saja ‘Mas’ kalau kamu gak keberatan.”

            “Tapi tadi bahasa Bali Mas lancar banget.”

            “Ya, itu karena saya sudah empat tahun tinggal di Karangasem.”

            “Oh.”

            “Lho kok cuma ‘oh’ sih?”

            “Lalu saya harus menanggapi apa, Mas?”

            “Okay, fine. Ohya, kamu mahasiswi yang KKN disini?”

            “Bukan KKN, cuma sekadar kerja sosial saja.”

            “Oh.”

            “Lho kok cuma ‘oh’ sih, Mas?”

            “Gak apa-apa, saya cuma mau balas kata-katamu aja.”

            Mereka berdua saling tertawa. Kekakuan yang ada di awal tadi sudah retak dengan canda. Fola pamit kembali ke wantilan. SebelumArchard mempersilakan Fola berbalik, ia berjanji, janji yang dibuatnya sendiri tanpa Fola minta, akan datang ke warung yang sama, di jam yang sama untuk membantu Fola menawar harga ke si penjual sayur.

            Fola masuk ke ‘istana’ dengan senyum merekah di bibirnya. Walau hari sudah sore dan ia hanya bisa mendapatkan sayur kacang panjang sisa pagi, ia tak menyesal, sebab ia bisa bertemu… Ah, Fola tersipu mengingat nama laki-laki itu.

            Ya, bukan hanya di Bali, tapi di setiap tempat di Indonesia, tentu warung-warung yang menjual sayur mentah hanya memiliki banyak stok di saat pagi. Bila hari menjelang siang, atau bahkan sore, maka siapapun pembeli yang datang, harus rela membeli apapun yang tersisa dari penjualan tadi pagi, seperti Fola. Itulah mengapa besok Fola ingin belanja lebih siang, tidak sore seperti hari ini. Tapi Archard kan berjanji datang sore? Lalu siapa yang akan membantunya bicara kepada penjual sayur? Ah, peduli amat! Fola bisa meminta tolong salah satu dari dua ratus teman angkatannya yang asli Bali untuk membantu. Lagipula belum tentu esok Archard akan menepati janjinya.

* * *

            Pukul tiga pagi Fola bangun. Ia langsung memasak untuk sahur. Sambil memasak, ia lihat teman-temannya masih pulas di dalam sleeping bag. Mereka berjajar seperti ikan pindang yang hendak dipresto, atau seperti sate yang hendak dipanggang. Fola tersenyum geli melihat teman-temannya yang berada di alam mimpi dalam berbagai posisi dan aksi.

            Usai memasak, Fola tak langsung membangunkan teman-temannya. Ia berjalan ke depan wantilan dengan membawa segelas teh hangat. Ia duduk di bale bengong sambil sesekali menyeruput teh buatannya. Ia menatap ke langit malam sambil merapatkan jaketnya. Benar ternyata, bulan purnama yang kemarin sempat diperbincangkan memang sangat indah. Di tengah tiupan angin selatan yang membawa aroma babi, di tengah gonggongan anjing malam yang bersahutan dengan dengkuran babi di kandang sebelah, bulan purnama memberi nuansa berbeda. Fola masih menatap bulan sambil merangkai agenda-agenda yang akan ia jalani hari ini dan enam hari ke depan. Hari ini ia harus memberi penyuluhan tentang kesehatan kepada anak-anak SD. Esok ia harus memberi pelayanan kesehatan gratis kepada warga. Lusa adalah jadwal untuk kerja bakti bersih desa. Hmm, sebagai mahasiswa kedokteran, semua itu adalah sebuah keharusan. Mengabdi kepada masyarakat dengan berusaha secara optimal meningkatkan taraf kesehatan mereka adalah hal yang mutlak diperbuat oleh calon dokter, begitu pikir Fola.

            Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Fola bergegas kembali ke ‘istana’ untuk membangunkan teman-teman muslimnya. Mereka makan sahur bersama. Mereka sungguh menikmati momen ini. Sebuah kebersamaan Ramadhan yang mungkin tak akan dimiliki dan dirasakan oleh mahasiswa/i muslim kedokteran di Pulau Jawa yang selalu dimanjakan posisinya sebagai mayoritas. Dengan menu ala kadarnya, mereka dengan lahap menyantap makanan itu dengan penuh suka, dengan penuh keceriaan, seolah lupa bahwa babi-babi di kandang sebelah turut mendengarkan obrolan mereka.

* * *

            Siang ini, selepas Fola memberikan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis kepada warga sekitar, ia langsung menyerbu warung penjual sayur mentah. Ia berharap bisa mendapatkan sayur dengan variasi yang lebih baik ketimbang menu sahur kemarin. Beruntunglah ia, masih ada wortel dan buncis disana. Saat hendak menanyakan harga, Fola baru ingat kalau ia tidak bisa berbahasa Bali. Ia lupa mengajak temannya yang asli Bali untuk membantunya menjadi pengalih bahasa, menjadi penerjemah. Archard tak mungkin datang siang ini sebab kemarin ia berjanji akan datang sore, bukan siang. Fola limbung, kalau ia meletakkan kembali wortel dan buncis yang ada di tangannya, ia khawatir sayur itu akan dibeli orang lain. Di tengah kebimbangan itu, putri si ibu penjual sayur keluar.

            “Beli apa, Mba?”

            “Bisa bahasa Indonesia?”tanya Fola heran.

            “Kalau saya bisa, Mba. Yang nggak bisa itu Ibu saya.”

            “Oh, Alhamdulillah. Saya beli ini aja. Berapa harganya?”

            Fola lega. Kehadiran putri si ibu penjual sayur membuatnya lebih percaya diri untuk kembali ke warung itu kapanpun. Ia tak butuh bantuan temannya yang asli Bali. Ia tak butuh bantuan Archard.

            Sepulang berbelanja. Ia meletakkan belanjaan itu di dalam ‘istana’ dan duduk bersama kawan-kawan muslimnya.

            “Guys, hari ini kita belum mandi sama sekali kan? Haduh, ini badan lengket semua,” keluh Mizan.

            “Santai dong, bro. Gue aja nggak mandi tetap ganteng. Slow aja lagi, berdoa tuh supaya Allah kirim hujan ke Karangasem. Betul kan?”sambung Zaki.

            Mereka semua melepaskan penat dengan tertawa.

* * *

            Seperti biasa, setelah memasak untuk sahur, Fola ‘nongkrong’ di bale bengong sambil menyeruput teh hangat seorang diri. Hampir semua kondisi yang dipandang dan didengar Fola di kala malam masih sama. Hanya bundarnya bulan tak sesempurna kemarin. Fola yang menghayati ketenangan itu, beberapa saat kemudian merasa ada kejanggalan yang menjalari kulitnya. Ia melihat seorang laki-laki berjalan ke arahnya dengan langkah cepat. Fola gugup. Ia meletakkan gelas teh yang sedari tadi dibawanya. Ia bangkit dari duduk. Terlihat laki-laki itu semakin dekat. Fola merapatkan sandal, mengambil ancang-ancang untuk lari. Ia ketakutan. Saat ia memutar badan dan mengambil langkah pertama untuk berlari, terdengar suara laki-laki itu.

            “Fola!”

            “Mas Archard?”

            “Fola, kamu harus bantu saya sekarang. Di Puskesmas ada dua ibu yang partus. Cuma ada satu bidan disana. Dia sudah coba bantu satu ibu, tapi ternyata pendarahan postpartum. Satu ibu yang lain masih kala satu fase aktif.”

            “Saya?”tanya Fola heran.

            Archard tak banyak bicara. Ia langsung menarik tangan Fola. Mereka berlari menuju Puskesmas. Sesampainya di Puskesmas, si Bidan tampak gugup. Sarung tangannya sudah bersimbah darah. Ia hanya bisa membersihkan darah yang tercecer dan terus merembes di tempat tidur pasien. Sementara si pasien sudah hampir tak sadarkan diri karena hypovolemic shock. Archard meminta si Bidan untuk mengawasi ibu yang lain, biar pasien ini Archard dan Fola yang mengambil alih.

            Fola memasang infuse dan memasukkan cairan kristaloid secara intravena untuk mengembalikan fungsi sirkulasi darah pasien.

Archard melakukan pemeriksaan fundus, tidak teraba kontraksi otot rahim. Ia melakukan kompresi bimanual. Tangan kanannya mendorong rahim dari dalam vagina. Tangan kirinya menekan fundus dari luar. Archard menggelengkan kepala pertanda kompresi bimanualnya tak berhasil.

Fola menyuntikkan 5 unit bolus oksitosin intravena dan 10 unit intramiometrial diberikan transabdominal. Masih belum ada reaksi! Walau si ibu sudah mulai sadar, tapi pendarahannya masih belum tuntas. Archard melakukan eksplorasi manual. Ia mengevakuasi sisa plasenta dan bekuan darah dari uterus. Pendarahan masih berlanjut. Langkah terakhir. Fola menyuntikkan ergotamine 0,25 mg intramuskular. Mereka berdua menunggu reaksi obat sambil membersihkan sisa pendarahan di meja. Satu… dua… tiga… Alhamdulillah! Pendarahannya usai!

“Terimakasih, Fola.”ucap Archard.

“Sama-sama, Mas. Eh, Dok.”timpal Fola memperbaiki panggilannya pada Archard.

Archard tersenyum. Kini perkataannya beralih pada si Bidan.

“Bagaimana persalinannya, Bu?”

“Ini kepalanya sudah lahir, Dok. Tapi…”

Archard dan Fola kembali tegang. Tanpa mereka sadari, mereka meneriakkan pertanyaan yang sama, “Tapi apa?”

“Bahunya dari tadi belum lahir. Si ibu sudah kehabisan tenaga, Dok.”

Archard dan Fola langsung paham. Ini kasus distosia bahu, pikir mereka. Archard menyuruh si Bidan dan suami si ibu untuk mengangkat paha ibu. Archard hendak menyuruh melakukan Manuver Mc Robert. Fola bersiap-siap mengambil bayi jika manuvernya berhasil. Tapi ternyata persalinan ini tak semudah yang mereka bayangkan. Archard melakukan Maneuver Massanti dengan menekan suprapubik ibu pada bagian belakang bahu depan bayi untuk membebaskan jalan lahir bayi. Fola menelusuri kepala bayi dengan jari, masuk ke dalam vagina, mencari bahu bayi dan mendorongnya ke arah dada.

Alhamdulillah, bayi itu lahir dan mulai menangis. Kesunyian di Puskesmas pecah oleh tangis kedua bayi yang baru saja lahir. Archard meminta tolong pada Bidan untuk menindaklanjuti penanganan berikutnya karena ia harus mengantar Fola kembali ke wantilan.

Dalam perjalanan menuju ke ‘istana’, Archard dan Fola sedikit berbincang.

“Kenapa kamu buru-buru, Fola?”

“Saya harus membangunkan teman-teman untuk sahur.”

Archard melihat jam tangannya. “Tenang, masih ada waktu tiga puluh menit,”

“Tapi di sini tidak ada masjid. Tidak ada yang adzan subuh. Tidak ada yang mengingatkan tibanya waktu imsak. Jadi kami harus makan sebelum fajar.”sahut Fola sambil terus berjalan cepat.

“Saya boleh ikut makan sahur bersama kalian?”

Langkah gesit Fola terhenti. Archard ikut berhenti melihat Fola mematung. Fola menatap Archard dengan pandangan penuh tanya. Archard mengerti maksud tatapan itu. Fola melanjutkan langkahnya. Archard mengikuti dari belakang.

“Saya juga muslim, Fola.”

Dalam hati, Fola sebenarnya senang mengetahui Archard seorang muslim. Entah apa sumber senangnya, ia pun tak paham. Fola hanya sedikit kesal sebab Archard tak memberi tahu identitasnya bahwa ia adalah seorang dokter.

“Tapi tidak ada makanan mewah di wantilan. Semua menu ala mahasiswa. Tidak cocok untuk seorang dokter.”

“Apa ada yang salah dengan profesi saya sebagai dokter?”

“Kalau Mas, eh, maksud saya… Kalau Dokter dari awal memberi tahu saya tentang profesi Dokter, saya tentu akan lebih memposisikan diri saya untuk hormat pada Dokter.”

“Saya bukan dokter yang gila hormat, Fola. Kamu salah menilai saya.”

“Dokter tahu dari mana kalau saya sedang berada di bale bengong tadi?”

“Saya… Saya…”Archard bingung menjawabnya, “Setiap pukul tiga pagi saya melihat kamu selalu duduk di bale bengong sambil menatap langit dan minum teh. Itulah mengapa saya tahu harus mencari kamu dimana saat saya butuh bantuan kamu di jam-jam itu.”

Mereka tiba di ‘istana’. Setelah sukses membangunkan teman-temannya, Fola dan Archard duduk membaur dengan mereka. Dua belas mahasiswa/i itu saling bertatapan. Mereka heran dengan kehadiran Archard. Fola cukup peka dengan situasi itu.

“Ohya, teman-teman, kenalkan ini Dokter Archard. Dia orang Jogja. Sekarang jadi kepala Puskesmas di kecamatan ini.”

Archard mengangguk, tersenyum pada mereka, dan mulai angkat bicara. “Saya boleh kan ikut sahur bersama kalian?”

“Boleh kok, Dok.”jawab Dewi.

Baru beberapa menit yang lalu kenal, keakraban sudah sangat menyelimuti mereka dalam ‘istana’ itu. Indah. Sungguh indah melihat mereka bercengkrama!

“Saya senang mengenal kalian.”ujar Archard.

“Mengenal kami atau mengenal Fola, Dok?”goda Arif.

Archard kaget mendengar pertanyaan itu. Fola melototkan matanya ke arah Arif.

“Mengenal kalian semua, termasuk Fola.”jawab Archard berusaha tenang.

“Termasuk Fola atau terutama Fola, Dok?”goda Danar tak mau kalah.

Seisi ruangan tertawa. Wajah Fola memerah. Archard pun salah tingkah. Tawa itu sempurna menyatukan mereka dalam ikatan persaudaraan yang erat. Tawa itu positif menghancurkan kerisauan akan Ramadhan yang mereka jalani. Ramadhan yang semula tampak seperti multiple burden, kini berubah menjadi Ramadhan Mubarak, penuh berkah. Mereka punya Archard, dokter yang sekaligus menjadi saudara mereka, dokter yang hampir setiap hari open house untuk mempersilakan teman-teman Fola mandi dirumahnya, dokter yang menunjukkan pada mereka lokasi-lokasi super di Karangasem, sehingga kerja sosial ini malah justru terasa seperti liburan gratis. Alhamdulillah…

 

Reqgi First Trasia

Denpasar, 23 September 2012           

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s