Home

Kalau Aku

Dicium Pangeran…..

Reqgi First Trasia

 

“Kukuruyuuuk! Kukuruyuuuk!”

Alarm ayam jago berbunyi setiap menjelang subuh. Ibu mengetuk pintu kamarku. Seperti biasa, Ibu membuka selimut hangat dan mencium keningku.

“Ayo, ambil wudhu sana, kita sholat berjamaah. Itu Ayah sudah nunggu.”

Aku masih saja pura-pura tidur.

“Faeryn… Faeryn… Ayolah, bangun, kamu kan anak hebat!”

Aku masih senang menggoda Ibu dengan berpura-pura tidur. Ibu jengkel, Ibu menggendongku dan membawaku ke kamar mandi.

“Weeeeek! Ibu tertipuuu… Aku sudah bangun dari tadi, Bu… Hahaha…”

Ibu menggelengkan kepala tanda heran melihat kenakalanku. Ibu keluar dari kamar. Aku mengambil air wudhu dan bergegas ke ruang sholat di halaman belakang rumah. Ini adalah rutinitas keluargaku setiap pagi. Setelah itu kami sarapan, mandi, dan aku berangkat sekolah, sementara Ibu dan Ayah menjalankan usahanya.

Hal yang paling lama terlewati saat pagi adalah ketika Ibu dengan sabar, telaten, dan begitu rapinya memakaikan jilbab yang membalut kepalaku. Ibu sangat hati-hati karena Ibu tak ingin aku malu kalau sampai teman-teman tahu aku tak punya rambut. Hmm, dulu aku pernah punya, tapi setelah dokter sering menyuntikkan obat untukku, perlahan-lahan rambutku mulai rontok. Dokter bilang ini efek samping obat. Karena efek samping itu pula aku tak bisa lepas dari air minum. Mulut terasa begitu kering setiap saat. Aku sempat mengeluhkan hal itu pada Ibu, tapi Ibu bilang, “Kamu masih tetap bisa terlihat cantik kok dengan jilbab, kalau soal mulut kering kan bisa diatasi pakai air minum.”

Aku mengiyakan perkataan Ibu. Aku tahu apa yang sedang terjadi di dalam tubuhku. Itulah sebabnya aku tak ingin banyak merepotkan Ibu dengan ribuan tangis, walaupun sebenarnya aku ingin sekali bermain kejar-kejaran, petak umpet, lompat tali, dan lainnya bersama teman-temanku di sekolah. Namun, karena keterbatasanku, aku hanya diperbolehkan memainkan permainan-permainan ringan seperti masak-masakan, boneka-bonekaan, dan catur.

* * *

Beberapa bulan yang lalu, ketika aku masih dirawat di rumah sakit, aku merekam perkataan dokter yang sedang menjelaskan pada mahasiswa-mahasiswanya tentang penyakit yang aku alami. Ya, aku memang senang merekam peristiwa-peristiwa yang ku anggap unik dan menarik. Baik itu di sekolah, di tempat ngaji, di rumah, dan di rumah sakit ini. Ibu begitu baik karena memenuhi permintaanku untuk dibelikan alat perekam ini.

“Halo, Faeryn…”

“Halo, Dok…”

“Kenalin… ini Mba-Mba dan Mas-Mas dari fakultas kedokteran. Mereka ini mahasiswanya Dokter.”

“Hai, Faeryn…”sapa mahasiswa-mahasiswa itu. Salah satu dari mereka ada yang mencubit pipiku karena gemas katanya.

“Hai, kakak-kakak.” balasku sambil melambaikan tangan.

“Faeryn nanti kalo udah gede pengen gak jadi Dokter?”

“Pengen, Dok… Pengen banget…”jawabku antusias.

“Nah, adik-adik. Faeryn ini usianya sepuluh tahun. Dia mengidap leukemia myeloid kronik juvenilis. Seperti yang bisa adik-adik lihat, manifestasi klinis khasnya adalah adanya ruam kulit. Kalau dilakukan pemeriksaan fisik, bisa terlihat limfadenopati dan hepatosplenomegali. Pasien-pasien ini biasanya berisiko untuk terjangkit infeksi rekuren.”jelas Dokter pada mahasiswanya, “Dari apusan darahnya bisa dilihat ada monositosis. Ciri diagnostik yang paling penting adalah tingginya kadar HbF, kadar fosfatase alkali neutrofilnya normal, dan hasil uji kromosomnya menunjukkan Philadelphia negatif. Faeryn ini sudah menjalani transplantasi stem-cell dan sekarang dilanjutkan dengan kemoterapi saja.”

Ah, aku tak mengerti apa yang dikatakan oleh Dokter itu. Mungkin aku baru akan memahaminya jika aku masuk fakultas kedokteran kelak, tapi dari penjelasan yang rumit itu aku seperti bisa menebak bahwa ada sesuatu yang aneh dalam tubuhku, seperti ada monster!

* * *

Hari minggu ini adalah hari yang sibuk bagiku. Aku ditunjuk untuk mewakili sekolah di tingkat gugus untuk pertandingan catur. Mengapa aku? Ya pasti karena aku adalah juara bertahan dua tahun berturut-turut di sekolahku. Itulah mengapa hari ini aku harus banyak latihan untuk mempersiapkan pertandingan minggu depan. Aku merasa bahagia justru karena keterbatasanku tak bisa melakukan permainan yang menguras tenaga dan hanya diperbolehkan bermain catur, aku jadi terbiasa dengan pion-pion dan papan catur ini.

Seperti biasa, aku selalu latihan bersama Ayah. Ayah merasa bangga padaku karena hanya ada beberapa pecatur wanita di Indonesia ini. Ah, Ayah memang kadang terlalu berlebihan. Aku sebetulnya kurang nyaman dilatih oleh Ayah karena watak Beliau yang terlalu keras dan sering marah-marah jika aku salah melangkahkan buah catur. Seperti hari ini, Ayah melemparku dengan ster dan benteng catur karena aku tak memfungsikan keduanya dengan baik. Kata Ayah, aku terlalu obsesif untuk menyerang lawan, sementara strategi pertahanan caturku lemah. Satu persatu prajuritku ditumbangkan oleh Ayah. Aku kalah!

Ayah memang pecatur yang jika aku punya sepuluh jempol, aku akan acungkan kesepuluhnya untuk menyatakan bahwa Ayah hebat dan unbreakable. Itulah mengapa aku berusaha survive dan menahan air mata saat dimarahi Ayah. Karena aku ingin mengalahkan Ayah sebelum aku bertarung melawan pecatur-pecatur cilik di tingkat kecamatan! Aku membuka permainan baru. Aku mulai dengan pembukaan gambit menteri, 1. d4 d5 2. c4. Ayah banyak mengajarkanku jenis-jenis gambit. Ada gambit benko, gambit blackmar diemer, gambit Budapest, gambit Denmark, gambit raja, gambit evans, Latvia, morra, dll.

Aku mulai menyerang menggunakan serangan Grob 1.g4. Tak terlalu banyak mendukungku sebagai pemegang buah putih memang, tapi aku coba saja dulu. Ayah dengan mudah bertahan dan balik melakukan serangan. Ayah menghidupkan serangan Marshall 1. e4 e5 2. Kf3 Kc6 3. Gb5 a6 4. Ga4 Kf6 5. 0-0 Ge7 6. Be1 b5 7. Gb3 0-0 8. c3 d5. Serangan ini adalah perlawanan aktif perwira hitam terhadap raja putih. Aku mencoba bertahan dengan pembukaan Italia Giuco Piano, 1. e4 e5 2. Kf3 Kc6 3. Gc4 Gc5. Pertandingan kedua ini semakin sengit. Sengit! Sungguh sengit! Dan… aku masih kalah dari Ayah.

“Udah…udah… latihannya lanjut lagi besok. Sekarang Faeryn minum susu dulu. Gosok gigi, cuci kaki, terus tidur. Oke?” sela Ibu.

Ibu membawakan segelas susu. Ku minum habis dan aku beranjak menuju kamar mandi, melakukan apa yang aku lakukan setiap malam sebelum tidur. Seperti biasa, aku naik ke tempat tidur, Ibu membacakan dongeng. Cinderella, Pangeran Kodok, Beauty and The Beast, Putih Salju dan Tujuh Kurcaci, dan hari ini giliran dongeng Sleeping Beauty. Kisah tentang seorang putri yang terkena kutukan nenek sihir. Ia harus tenggelam dalam tidur panjang dan hanya bisa bangun jika dicium oleh pangeran yang tulus mencintainya.

“Bu, kalau nanti aku tidur panjaaaang, aku bisa bangun lagi kan kalau dicium pangeran?”tanyaku.

Ibu tidak menjawab tanyaku. Ibu hanya menangis, mengusap kepalaku yang tak berambut, memelukku, dan tangisnya makin menjadi-jadi. Ayah turut masuk ke dalam kamar. Melihat Ibu menangis, Ayah tampak tertegun. Ayah mencium kening Ibu dan ikut memelukku.

“Ibu sama Ayah kenapa nangis?”tanyaku tak paham.

“Gak apa-apa, sayang. Udah kamu tidur aja sekarang. Jangan lupa berdoa,” jawab Ibu.

“Iya, kamu istirahat dulu, besok kan harus tanding catur,”sambung Ayah.

Aku tertidur pulas malam itu. Mungkin karena aku terlalu lelah menghadapi Ayah tanding tadi, itupun aku belum bisa mengalahkan Ayah. Aku bedoa pada Allah, semoga besok aku bisa mengalahkan semua lawanku. Semoga aku bisa membuat semua teman dan guru di sekolahku tak menyesal sebab telah menjagokanku untuk membawa nama sekolah ini. Semoga aku bisa menghapus air mata Ibu dan Ayah dengan kemenanganku. Aminnn…

* * *

Pertandingan tingkat gugus pun dimulai. Aku melawan SD yang selama beberapa tahun ini menjadi juara bertahan dan mewakili gugus ke kecamatan. Lawan yang cukup berat. Aku memegang buah hitam. Itu artinya aku tidak bisa memulai langkah, tapi tak apa. Aku masih ingat bagaimana langkah catur Ayah saat latihan kemarin.

Lawanku mengibarkan bendera permusuhan dengan pembukaan gambit raja. Aku ikuti saja permainannya. Ia coba menyerangku dengan serangan Larsen, 1.b3. Sebuah serangan hypermodern dengan fianseto putih. Aku mencoba bertahan dengan pertahanan Benoni, 1. d4 Kf6. 2. c4 c5. Aku berusaha membentuk sistem petahanan sayap-menteri dengan mayoritas bidak, aku beri tekanan sepanjang jalur setengah terbuka, dan penguasaan diagonal gajah Raja fiansetonya. Walau pertahanan ini membuatku mengorbankan pion, aku masih merasa berada di posisi yang menguntungkan.

Efek samping obat dari dokter bereaksi lagi. Mulutku terasa sangat kering. Haus teramat sangat. Dari kejauhan aku lihat Ibu meminta izin kepada panitia penyelenggara untuk mengantarkan air minum padaku. Alhamdulillah, mulut kering ini sedikit teratasi. Aku melanjutkan permainan. Kali ini aku tunggu lawan membuat kesalahan. Aku perhatikan buah catur lain yang tidak dijaga karena lawan salah langkah. Aku jebol pertahanan lawan. Aku teringat pepatah Cina, jika kita ingin menang dalam permainan, pastikan kita tidak kalah.

Aku berbalik melakukan serangan. Lawan hanya melakukan pertahanan Skandinavia 1. e4 d5. Aku terus maju pantang mundur dengan 1.e4 g6 2. d4 Gg7. Lawan hanya bertahan secara pasif Hindia Tua 1. d4 Kf6 2. c4 d6.

Badanku mulai lemas. Aku merasa lelah sekali. Lelah sekali. Tapi aku harus bertahan. Satu langkah lagi aku bisa memenuhi impianku untuk membuatku menjadi manusia yang tak dipandang sebelah mata karena penyakitku. Aku tak mau terus menerus dikasihani. Aku ingin membuktikan bahwa sekalipun aku memiliki keterbatasan, aku tetap dapat hidup normal seperti anak-anak lain, membuat Ayah dan Ibu menepuk dada karena bangga kepadaku.

“Bismillah…Bismillah…”doaku bergemuruh dalam hati.

Kepalaku pusing sekali. Aku hampir tumbang. Ibu dan Ayah terlihat mengkhawatirkanku. Para petugas kesehatan sudah bersiap-siap untuk membopongku. Panitia melihat jam tangan hendak menunda pertandingan ini. Jangan! Jangan ditunda! Satu langkah lagi! Ya, satu langkah lagi!

“Skak mat!” teriakku.

Kali ini aku benar-benar tumbang. Aku pingsan dengan bahagia karena berhasil mengalahkan lawanku. Aku tak melihat apapun, aku hanya mampu mendengar orang-orang berisik karena berusaha menolongku. Aku rasakan badanku ditandu dan entah bagaimana aku sudah sampai di rumah sakit.

Aku bangun dari pingsan. Aku lihat Ibu, Ayah, para guru, dan teman-teman menunggu disekelilingku.

“Faeryyyyn! Selamat ya! Kamu menang!” teriak salah seorang temanku secara spontan melihatku tersadar dan membuka mata.

“Kami bangga kamu membawa nama harum sekolah,”lanjut Bu guru.

“Kamu menang, sayang!”ujar Ibu bahagia.

“Anak Ayah memang top!”sambung Ayah.

Aku tersenyum puas. “Berarti minggu depan aku tarung di tingkat kecamatan ya?”

“Iya, semoga kamu bisa lanjut ke tingkat kotamadya!” jawab Pak guru.

“Jangan, Pak. Sampai tingkat provinsi pun saya yakin Faeryn pasti bisa!”ucap temanku.

“Grand Master Nasional,sayang! Kamu pasti bisa!”Ayah menyemangatiku

Aku harus segera sehat, harus segera pulih. Aku harus meraih impian-impian mereka. Aku yakin Allah selalu bersamaku, selalu menyayangiku. Allah tak pernah pilih kasih. Ia selalu ada disampingku. Ia tahu apa yang terbaik untukku. Ibu selalu bilang bahwa rencana Allah pasti lebih indah dari rencana manusia. Bismillah… J

 

Reqgi First Trasia

Denpasar, 15 April 2012

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s