Home

Dosen Aneh

Reqgi First Trasia

 

Bruaaaak!

Aku lemparkan buku neurologi di atas meja yang ada di setiap pinggir koridor kampus. Aku duduk di kursi kecil dekat meja itu.

“Ah, jenuh banget sih hari ini aku! Kenapa ya? Aduh, gak tau nih bad mood!” omelku pada diri sendiri.

“Makanya cari pacar dong!” sahut salah seorang teman sekelasku yang kebetulan lewat di dekatku.

“Ah, kamu ini! Aku tuh sudah alergi sama yang namanya pacaran. Hipersensitivitas tipe 1. Aku sudah pernah kasih tahu kan alasannya? Aku males kalau setiap urusan dicampuri sama orang ‘ketiga’, apalagi kalau cowokku cuek, ditambah lagi aku orangnya cemburuan.”

“Iya… iya… kamu sudah pernah cerita soal mantanmu yang nyebelin itu. Sering banget malah. Hmm, kalau aku baca sih kayaknya kamu masih suka sama dia. Hayoo, ngaku aja!”

“Nggak! Apaan sih? Dia itu sudah nggak suka sama aku. Aku SMS aja nggak pernah ditanggepin, paling cuma dibales seperlunya aja. Sok sibuk dia tuh!”

“Tuh kan masih kesal, itu artinya kamu masih suka sama dia.

“Perempuan itu lebih baik mendampingi laki-laki yang mencintainya daripada yang dicintainya.”

“Ah, mulai lagi deh sok berfilosofi. Eh, mau makan nggak? Ke kantin bawah yuk! Daripada kamu bertelur di lantai empat.”

“Nggak laper. Aku sudah sarapan tadi.”

“Ya udah, kalau gitu aku ke bawah ya. Daaah!”

“Daaah!”

Aku masih tetap duduk di kursi koridor lantai empat itu. Bingung mau ngapain. Aku lihat buku neurologi yang tebal itu. Makin bosan rasanya kuliah di kedokteran! Ah! Tapi aku tak boleh begini. Aku pegang buku itu. Aku buka tiap halamannya. Jenuh. Aku tutup lagi. Aku mengambil posisi tiduran dengan tetap duduk. Mata tak mau terpejam. Aku bangun lagi. Kali ini aku benar-benar membuka buku neurologi. Aku baca materi untuk kuliah berikutnya

Belum lama aku membaca Guillain Barr Syndrome, sesorang menyapaku dari belakang.

“Permisi, dek. Ruang MEU (Medical Education Unit) dimana ya?”

Aku melihat laki-laki yang bertanya itu dari mulai sepatu hingga kemejanya. Ia tergolong laki-laki tampan, bermuka Arab. Usianya sekitar dua puluhan. Penampilannya elegan, sopan, dan manis.

“Oh, ruang MEU di lantai satu, Pak. Dekat ruang anatomi. Kejauhan kalau bapak sampai naik ke lantai empat.”jawabku

“Jangan panggil saya bapak.”

“Oh, maaf, Mas. Ruang MEU di lantai satu.”

“Nah, gitu dong, panggil aja ‘mas’. Maaf, saya boleh minta tolong diantar ke ruang MEU?”

“Oh, bisa… bisa…” jawabku sopan, sambil menutup buku dan menenteng tas. “Mari saya antar.”

Kami berjalan berdampingan.

“Senang baca neurologi ya?” tanya laki-laki itu melihatku menenteng buku tebal.

“Nggak, Pak. Eh, maaf, Mas. Saya cuma bingung aja mau ngapain, jadi ya saya baca aja buku ini. Iseng aja kok.” Jawabku agar tak terlihat sombong.

“Wah, isengnya baca buku ya?”

Aku hanya tersenyum.

“Saya baru pertama kali ke kampus ini, jadi masih belum tahu seluk beluknya. Maaf ya jadi ngerepotin kamu.”

“Nggak apa-apa kok.”

“Kenal dokter Munir?”

“Iya, beliau kepala MEU.”

“Nah, saya mau bertemu dokter Munir. Nanti tolong tunjukkan ya yang mana orangnya.”

“Oke.”

“Saya cuma pernah ngobrol sama beliau lewat telpon, belum pernah ketemu.” Jelasnya.

“Oooh.” Tanggapku.

Sesampainya di depan ruang MEU, aku menunjukkan padanya yang mana dokter Munir.

“Dokter Munir itu yang lagi pegang laptop. Yang warna bajunya sama kayak yang Mas pakai.” Aku menunjukkan padanya melalui pintu kaca.

“Oh yang itu.”

Laki-laki itu mengetuk pintu kaca ruang MEU.

“Iya, silahkan masuk.”sahut dokter Munir dari dalam.

Ia membuka pintu, melangkah masuk, tetapi sebelumnya ia menarik tanganku untuk menemaninya masuk ke dalam.

“Eh, apa-apaan nih, Mas?”

“Sssst!”tanggapnya sambil meletakkan telunjuk di depan bibir, “Udah gak usah banyak protes!”

Dihadapan kami sudah ada dokter Munir.

“Kamu dokter Adn ya?”

Oh, jadi laki-laki yang menarik tanganku tadi bernama Adn, ternyata dia dokter toh. Tapi kok aneh, dia paksa aku ikut masuk ke dalam bertemu Kepala MEU.

“Lho, kok Tata juga ikut?” tanya dokter Munir.

“Hehe, iya, Dok.”jawabku cengengesan.

“Oh, jadi namamu Tata?”bisik Adn di telingaku.

“Iya, dokter Adn yang terhormat.”jawabku sebal.

“Kok pada bisik-bisik sih? Ayo sini duduk!”sambut dokter Munir.

“Tata ini adik saya, Dok.”ucap Adn pada dokter Munir sambil menarik kursi.

“Adik beneran atau adik ‘ketemu gede’?”goda dokter Munir.

“Ah, dokter ini bisa aja…”jawab Adn tersipu malu.

Aku nggak terima diperlakukan kurang wajar seperti itu, aku protes,”Maaf, dok. Saya baru kenal dokter Adn tadi pas di lantai empat. Dia tanya dimana ruang MEU dan saya…”

“Bohong, dok.”sela Adn, “Dia adik saya.” Ia mempertegas ucapannya sambil menarik sedikit jilbabku dari belakang.

“Iya, sudah… sudah… saya tahu. Kayak saya nggak pernah muda aja.”

Ruang MEU hening sejenak. Aku menahan rasa kesalku pada Adn. Seseorang yang pertama kali kulihat elegan, manis, dan tampan ternyata membuatku naik darah. Ingin rasanya kubangkitkan kadaver-kadaver di ruang anatomi untuk menerkamnya detik itu. Dokter Munir mencairkan suasana.

“Gimana? Sudah siap mengajar disini?”

What? Jadi Adn ini dosen? Astagfirullah….

“InsyaAllah siap, Dok. Kemarin sekertaris blok bilang kalau hari ini jam sebelas saya ngajar.”

Mereka ngobrol ini itu. Aku hanya duduk disamping Adn sambil mendengarkan percakapan mereka. Entahlah, obrolan mereka tidak terpatri dalam otakku.

Setelah puas berbincang, Adn pamit keluar.

“Kalau ada sistem pembelajaran di kampus ini yang masih belum kamu pahami, silakan datang lagi kesini.”ucap dokter Munir.

“Siap, Dok. Saya pamit dulu. Permisi.”

Aku dan Adn keluar dari ruang MEU. Didepan pintu Adn berkata padaku, “Terimakasih ya sudah antar saya ke tempat ini.”

“Sama-sama dokter Adn.”jawabku ketus dan langsung meninggalkannya.

“Eh, tunggu, mau kemana?”

“Mau ke toilet. Dokter mau ikut?”

“Oh, kirain mau kemana.”

Kami berpisah dan aku berharap tak akan pernah bertemu dengannya lagi, meskipun Allah berkata lain nantinya.

Setelah keluar dari toilet, aku langsung naik tangga. Niatnya sih mau langsung ke lantai empat karena kelasku memang berada disana, tetapi baru sampai lantai dua, rasa malas muncul dan aku memutuskan untuk naik lift. Di depan pintu lift terlihat tanda bahwa ada yang baru masuk dari lantai satu untuk juga naik ke lantai empat. Aku menekan tombol lift. Betapa terkejutnya aku saat tahu bahwa Adn berada dalam lift. Ah, aku masih sebal padanya! Aku pergi, nggak jadi naik lift. Adn mengikutiku. Ia juga keluar dari lift.

“Tata, tunggu!”

“Maaf, ada apa ya, dok?”tanyaku pura-pura tak tahu.

“Kamu mau ke atas kan? Bareng ya?”

“Maaf sebelumnya, Dok. Saya nggak bermaksud lancang atau nggak tahu sopan santun. Begini, dokter kan dosen disini. Apa nggak sebaiknya dokter lebih bisa menjaga wibawa di hadapan mahasiswa? Saya ini kan cuma mahasiswa, Dok.”

“Lho, emang kenapa kalau dosen naik tangga bareng mahasiswanya? Ada yang salah?”

Kami saling berdebat sampai tangga lantai empat habis kami pijak.

“Nggak ada yang salah, dok. Tapi maksud saya kejadian yang di MEU tadi. Apa motif dokter mengakui di depan dokter Munir bahwa saya ini adik dokter? Ditambah lagi dokter Munir mencetuskan kata ‘adik ketemu gede’.”

“Oh, jadi kamu masih mempermasalahkan soal yang tadi? Tata, jadi orang tuh jangan kaku. Sesekali kita butuh shock therapy biar hidup kita jadi lebih berwarna, nggak cuma hitam putih.”

“Tapi saya baru mengenal dokter, dan dokter juga baru mengenal saya. Kenapa sudah langsung melakukan hal konyol?”

“Anggap saja kita sudah lama kenal, supaya kamu bisa nyantai kalau saya melakukan hal konyol.”

Aku diam. Malas berdebat dengan dokter yang nggak mau ngalah. Aku dan dia berjalan berdampingan menuju ruang kelas. Aku membuka pintu kelas. Adn juga ikut masuk ke ruang kelasku.

“Kenapa dokter ikuti saya masuk kelas?”

“Kamu mau masuk kelas saya kan?”

“Lho, jadi dokter yang mengajar materi hari ini?”

Ia hanya tersenyum dan langsung menuju depan kelas. Teman-teman yang lain sudah menunggu dari tadi. Aku duduk di tempat biasa. Adn memulai kuliahnya. Ia berusaha professional. Sebagai mahasiswa, aku juga harus professional, memosisikan diri sebagai mahasiswa yang mendengarkan kuliah dari dosen dengan seksama, tak peduli ada kejadian konyol yang melatarbelakangi  kisah antara aku dan dokter Adn.

“Assalamu’alaikum… Good Morning, class…”

Apa? Dia ucapkan ‘assalamualaikum’? Seorang kawan disampingku membisikkan sesuatu padaku.

“Ta, dia muslim juga lho, sama kayak kamu. Dengar-dengar sih dia spesialis saraf lulusan Mesir.”

“Mesir? Ngapain ngambil spesialis di Mesir? Sekalian belajar sirah Nabawiyah kali ya?”

“Ya meneketehe.”

Aku terpana dengan caranya berbicara di depan umum. Aku masih tak habis pikir, benar-benar terkejut mengetahui bahwa dokter yang usil itu ternyata spesialis saraf lulusan Mesir. Bahasa Inggrisnya pun cukup lancar, maklum kelasku adalah kelas internasional yang belajar-mengajarnya dituntut menggunakan bahasa Inggris.

Well, today we’ll discuss about Guillain Barr Syndrome and Myasthenia Gravis. Which are autoimmunity diseases. Before I give lecture about them, I wanna ask one of you to explain briefly about today’s topic. Any one will be a volunteer?”

Kami, para mahasiswa, tak ada yang angkat tangan.

“Just as simple as raise your hand and talk a little about what you know, even just explain about sign and symptom or other.”

Kami masih diam.

“Ok, you!” Adn menunjukku.

Ah, dia memberiku shock therapy lagi!

“I only know that Guillain Barr Syndrome is autoimmune disease which there is infiltration of scattered poly morpho nuclear throughout the cranial nerve, ventral and dorsal root ganglia and along the entire length of the peripheral nerve. We may call it as acute poly neuropathy.” jawabku.

“How about Myasthenia Gravis?”

“Myasthenia Gravis is autoimmune disease which is affecting neuro muscular junction. There is reduction of acetylcholine receptors in post synaptic that acetylcholine from pre synaptic can’t reach and bind to the receptor just because of some antibody replace them.”

“Ok, that’s good explanation. Class, do you know who is Tata exactly?”

Aduh, ngapain lagi sih nih dosen! Awas aja kalau dia bilang macam-macam!

“You, just guess who is Tata exactly?”tanyanya pada salah seorang temanku.

“I don’t know, Doct. But, may be she’s your girl friend.”

Satu kelas pada ngakak! Ketawa puas! Huhhhh, dasar dosen rese’! Nambah bad mood-ku hari ini.

“Why you can say that?”

“Just guess, isn’t it?” jawab temanku yang dari Malaysia itu. Huff!

“But, actually you’re right.” Sambung Adn.

Satu kelas semakin tertawa puas. Menertawakanku! Aku gerah berada di dalam ruangan itu. Aku berdiri, mengambil tas, dan hendak meninggalkan kelas.

“Excuse me, Doctor. I’m suddenly getting sick.” ucapku sambil menunduk dan berjalan keluar.

“If you’re getting sick, just stay here. Your doctor is here. Why you go home and try to find another doctor to cure you?”

“I need to rest, doctor.”

“Just stay here, dear. I’ll accompany you to go home after the lecture finished.”

Semua teman semakin memperjelas tawa mereka.

“Please, I want you stay, the lecture is still going on.” ucap Adn sedikit lebih serius.

Aku kembali duduk, kembali mendengarkan kuliahnya.

Setelah kuliah beres, aku langsung pulang ke kos dengan suasana hati panas. Seperti biasa, aku melewati lapangan kecil sebelum sampai di kosku. Seperti biasa pula, aku melihat anak-anak kecil bermain sepak bola di lapangan. Tapi karena hari itu adalah hari sialku, tendangan bola salah seorang anak kecil itu mengenai lenganku. Padahal biasanya aman-aman saja setiap aku melewati lapangan ini.

Aku mengambil bola itu dan mendatangi mereka. Tampak wajah anak-anak kecil itu sangat ketakutan melihatku.

“Siapa yang nendang bola ini?”tanyaku pada mereka.

Tak ada yang menjawab.

“Ayo, siapa? Aku nggak marah kok. Kalau nggak ada yang ngaku, bolanya aku bawa ke kos lho.”

Setelah melihat wajah mereka satu persatu dan menunggu beberapa menit, akhirnya salah seorang dari mereka mengaku.

“Oh, jadi kamu?”

Anak kecil itu tertunduk lesu.

“Kamu tim mana?”

“Saya Manchaster United, mba.”

“Lawannya siapa?”

“Lawannya Bayern Muenchen.”

“Oke, kalau gitu aku masuk tim Bayern Muenchen. Kita tanding. Gimana?”

“Serius, mba? Mba nggak marah sama saya?”

Aku menggelengkan kepala. Anak-anak itu tampak kembali ceria. Aku meletakkan tas dan bukuku di pinggir lapangan. Aku bertanding bersama mereka. Agak sulit memang karena aku masih memakai rok dan harus sedikit menyingsingkan jilbabku. Aku bermain bola sambil menghilangkan penatku hari ini. Satu per satu rasa panas dalam hati reda dan tergantikan oleh keringat yang membasahi jilbabku.

Aku beristirahat di pinggir lapangan, di tempat aku meletakkan buku dan tas. Baru sejenak aku melepas lelah, si dokter rese’ itu datang lagi, membawakanku tisu dan air mineral.

“Aku tadi lihat kamu main bola sama anak-anak. Lucu!” ucapnya sambil tertawa.

Aku hanya diam.

Anak-anak itu mendatangi kami berdua.

“Mas Adn!”teriak mereka memanggil Adn.

“Iya, ada apa?” tanya Adn ramah.

“Besok kita nggak bisa latihan bola, Mas. Soalnya minggu depan kita ulangan semester, jadi nggak boleh latihan dulu kata mama.”

“Oh, oke. Kalau gitu kita latihan lagi setelah kalian selesai ulangan semester ya?”

Mereka mengangguk dan satu per satu kembali ke rumah.

“Kamu ini sebenarnya siapa sih?” tanyaku pada Adn.

“Saya dosen kamu.”

“Terus tadi apa?”

“Pagi saya ngasih kuliah, siang saya praktek di rumah sakit, sore saya jadi pelatih bola, malamnya saya praktek lagi di rumah sakit. Jelas?”

“Oh.”

Aku berdiri dan pamit pulang.

“Mau saya antar? Katanya kamu sakit tadi pas kuliah.”

“Sudah sembuh.”

Aku melihat sekeliling lapangan, tak kudapati satu pun mobil yang parkir. Biasanya, dokter-dokter itu bawaannya mobil. Aku hanya melihat satu motor matik yang nongkrong. Ah, sudahlah, mau dia naik mobil kek, naik motor kek, naik becak sekalipun aku nggak peduli. Aku berjalan pulang. Adn mengikutiku dari belakang dengan motor matik-nya.

“Tata nge-kos dimana?”

“Di gang Sundu.”

“Wah, sama dong. Saya juga nge-kos di gang Sundu.”

Aku berhenti dan menengok ke arahnya.

“Dokter ini beneran dokter kan? Spesialis kan? Kenapa masih naik motor dan kenapa nge-kos? Nggak beli rumah aja?”

“Suka-suka gue dong.”

Aku melanjutkan langkahku. Ia masih menaiki motornya dengan kecepatan minimal. Sesampainya aku di depan kos, ia berkomentar, “Oh, jadi kamu kos di Sundu nomor tujuh?”

“Saya masuk dulu, dok. Assalamu’alaikum.”

“Cuma mau ngasih tau, saya di Sundu nomor sembilan. Wa’alaikumsalam.”

Ah, apa-apaan sih dokter itu. Aneh… aneh… aneh…

* * *

Pagi itu aku hendak berangkat kuliah. Lagi-lagi dokter Adn menemuiku, menungguku di depan kos dengan motor matiknya.

You will go to campus, right? Just with me. Ok?”

“I preferred go to campus on foot.”

“Hmm, oke. Bye!”

Ia berbalik arah entah kemana. Aku berjalan ke kampus. Adn mengikutiku lagi dari belakang.

“Mana motor dokter?”

“Saya taruh di kos. I preferred go to campus on foot with you, dear.”

Aku tak menanggapi perkataannya.

“Usia saya dua puluh tujuh.”ujarnya tiba-tiba.

“Siapa yang nanya?”

“Saya rasa kamu perlu tahu itu.”

“Tapi saya tidak ingin tahu.”

“Kamu memang tidak ingin, tapi kamu perlu tahu.”

Aku lagi-lagi tak menanggapi perkataannya.

“Nanti siang sebelum saya ke rumah sakit, saya mau traktir kamu makan di kantin kampus. Bisa?”

“Dalam rangka apa?”

“Dalam rangka, satu, permintaan maaf saya karena sudah ngerjain kamu habis-habisan kemarin, padahal kita baru kenal. Kedua, karena kita tetangga dan kita sama-sama perantauan. Ketiga, karena kita harus merayakan ulang tahun kita hari ini.”

“Tunggu! Dokter ulang tahun hari ini? Terus darimana dokter tahu kalau saya juga ulang tahun?”

“Bukankah itu hal yang mudah bagi dosen untuk melacak apapun tentang mahasiswanya?”

“Kurang kerjaan banget sih, Dok.”

“Dan yang ke empat…”ucapnya terputus.

“Yang ke empat?”

“Ke empat, semoga tujuh desember ini adalah awal yang baik untuk hari-hari kita ke depannya.”

“Kita?”

“Iya, kita.”

 

Reqgi First Trasia

Denpasar, 7 Desember 2011

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s