Home

Calon Jas Putih di Bumi Kintamani

Reqgi First Trasia

 

Menjadi seorang calon dokter adalah hal yang biasa. Menjadi seorang calon dokter muslim pun adalah hal yang biasa. Namun, menjadi seorang dokter muslim yang hidup dalam keterbatasan dan minoritas, aku rasa tidak bisa dianggap biasa, sekalipun tak juga luar biasa. Ya, seluruh dunia paham bahwa pulau mungil disamping Pulau Jawa ini adalah pulau yang menjanjikan kesenangan, keindahan pariwisatanya tak diragukan lagi, bahkan ada yang mencetuskan, “Jangan meninggal dulu sebelum mengunjungi Pulau Dewata!”

            Itu bagi mereka, tidak bagi kami, para calon dokter muslim. Label ‘perantauan’ memang melekat pada siapa saja yang ‘bergerak’ dari kampung halamannya untuk menempuh hidup yang lebih cemerlang. Label itupun melekat padaku, tinggal menambahkan satu kata, menjadi ‘perantauan-minoritas’. Tapi apa daya, inilah kisahku….

~ ~ ~

 

Semester tujuh telah ku selesaikan dengan baik. Tinggal satu tahap lagi sebelum aku menyandang gelar “S.Ked.” di belakang namaku. Tahap itu sedang ku lalui sekarang. Ya, Kersos (Kerja Sosial) memang diwajibkan bagi kami yang sebentar lagi masuk klinik. Kersos kali ini bertempat di sebuah daerah yang sudah tak asing lagi di telinga kita, Kintamani. Dataran tinggi yang indah, sejauh pandang ku lepaskan pun tetap akan tampak indah, sungguh sedap di mata.

Pertama menginjakkan kaki di tanah Kintamani, aku bergumam dalam hati, enak, Kersos di tempat ini tak akan membuatku berkeringat. Begitu pikirku. Maklum, kesejukan bumi Kintamani memang tak bisa dielakkan. Hanya satu yang membuatku sedikit berdecak saat itu, ah, ini bulan suci umatku, Ramadhan. Bisakah aku survive? Bisakah aku menahan lapar di daerah dingin seperti ini? Huff… I believe I can be.

Kami (aku dan teman-teman angkatanku) tinggal di Puskesmas. Kami dibagi menjadi delapan kelompok yang masing-masing tinggal di delapan titik Puskesmas Kintamani. Aku dan kawanku sesama muslim, Indra, kebetulan mendapat Puskesmas yang sama. Ya, hanya kami berdua. Teman-teman muslim kami yang lain tersebar di berbagai titik. Dua di Puskesmasku ini dan sisanya, empat belas orang, di Puskesmas yang tidak kalah terpencil dengan Puskesmasku. Maklum, kami hanya ber-enam belas. Seperti yang sudah ku kisahkan di awal bahwa kami adalah minoritas. Enam belas dari dua ratus mahasiswa kedokteran angkatanku. Jumlah yang kecil bukan? Tapi karena itulah, kami jadi tahu arti pengorbanan. Nanti akan ku ceritakan lebih detail.

Sesampainya di Puskesmas ‘bagian’ku, aku dan kawan-kawan diajak oleh seorang dokter untuk meninjau lokasi Puskesmas mungil itu. Tak banyak mengeluarkan energi memang, karena Puskesmasnya benar-benar mungil. Hanya saja aku dan Indra tak menjumpai mushola. Yang ada hanyalah pura (tempat ibadah umat Hindu, red). Kaget? Absolutely, no! Kami tidak kaget. Kami sudah terbiasa dengan ketidakhadiran mushola sepanjang hidup di Bali. Jangankan daerah terpencil seperti ini, daerah perkotaan dengan sebuah gedung kampus kedokteran yang berdiri mewah, megah, dan kokoh pun tak akan kalian jumpai mushola, sekalipun hanya sepetak 2×3 meter. Ya, jangan harap!

Aku dan Indra memutar otak, dimana kami akan sholat? Tak ada ruangan yang kondusif untuk itu. Hmm… setelah berkeliling Puskesmas dalam ke’tidakjelasan’, akhirnya kami menemukan sebuah halaman kecil di belakang Puskesmas. Kotor, debu yang tebal, dedaunan yang berserakan, dan cipratan lumpur hinggap di halaman itu. Halaman ini satu-satunya dari Puskesmas yang cukup memungkinkan, dan kami pun membersihkannya dengan suka cita walau harus menahan perut yang sedang ‘rock n roll’ karena menjalani kewajiban berpuasa. Setelah bersih-bersih beres, kami segera menunaikan sholat Dzuhur yang sebenarnya sudah menjelang Ashar. Indra menjadi imam dan aku, seperti biasa, menjadi ma’mum yang baik.

Dzhuhur dan Ashar hari pertama ku lewati dengan baik. Aku bersama Indra pun rehat sejenak sambil ngobrol-ngobrol. Tiba-tiba kami terhenyak, kami sadar akan sesuatu, kami segera bangkit dan berteriak, “Kita buka puasa pakai apa?!”

Kami pun langsung menghampiri panitia Kersos. Kami meminta daftar panitia sie.konsumsi. Kami baca satu per satu dengan teliti. Kami hembuskan nafas keluh dan menyerahkan kembali daftar itu ke panitia. Huff… tak kami jumpai nama kawan muslim dalam deretan sie.konsumsi. Sudah bisa kami pastikan bahwa makanan yang dimasak tidak akan halal. Karena apa? Ya karena tidak afdhol bagi masyarakat Bali jika memasak tanpa menggunakan minyak babi, kecuali bagi mereka yang vegetarian. Maklum, makanan khas Bali adalah Lawar Babi. Memang yang akan dimasak oleh sie.konsumsi bukanlah Lawar, tapi tetap saja keraguan akan halal-haram sungguh berkecamuk dalam hati kami.

“Bagaimana ini, Dan?” tanya Indra padaku. Ya, namaku Devadan. Teman-teman memanggilku “Vadan” atau “Dan”.

“Kamu bawa mie instan berapa, Ndra?”

“Cuma lima, Dan. Kamu?”

“Sama, cuma lima.”

“Lalu?”

“Kita minta nasi saja ke panitia, terus kita masak mie instan sendiri.”

“Kita disini seminggu lho.”

“Iya, ini untuk sementara saja. Ini kan sudah hampir maghrib, nggak mungkin kita keliling cari makan. Masalah makanan buka puasa besok, kita pikirkan besok saja, yang penting buka puasa sekarang dan sahur nanti malam.”

“Dan…”

“Kenapa, Ndra?”

“Bagaimana teman-teman muslim kita di Puskesmas lain, Dan? Bagaimana mereka sholat? Apa mereka bawa mie instan juga sama seperti kita?”

Aku diam. Pertanyaan Indra sulit untuk ku jawab. Aku keluarkan hape dari saku celanaku. Ah! Tak ada sinyal! Padahal sungguh aku ingin menghubungi teman-teman muslim di titik lain. Indra pun melakukan hal serupa karena siapa tahu dengan operator yang berbeda, kualitas penangkapan sinyalpun berbeda. Tapi ternyata, idem!

“Bagaimana kalau kita datangi mereka, Ndra?” usulku.

“Bukan aku nggak mau, Dan. Tapi apa nggak sebaiknya kita hemat bensin? Jarak dari titik ini ke titik yang lain kan lumayan jauh. Jadi menurutku, kita pakai sepeda motornya buat cari makan sahur besok. Ingat, disini nggak ada pom bensin.”

“Iya juga sih, tanggung. Sebentar lagi maghrib.”

“Hmm…” gumam Indra sambil mengangguk.

“Ya sudah, sekarang kita minta nasi ke panitia, terus kita pinjam kompor buat masak mie instan.”

Setelah mie dan nasi sudah di depan mata, kami dikejutkan oleh kebodohan kami sendiri.

“Dan, kok belum adzan ya? Perasaan matahari sudah tenggelam dari tadi.”

“Iya ya… hmm… tunggu aja deh…”

Mie dan nasi yang tadinya hangat serta begitu menggoda, kini menjadi dingin, kalah oleh hawa Kintamani. Tiba-tiba kami saling pandang dan tertawa ngakak, menertawakan diri sendiri. Ya! Bagaimana mau ada adzan? Masjid pun tak ada disini. Kalau mau dengar, jauh disana, dekat Istana Tampak Siring, barulah ada adzan yang bisa terdengar walaupun sayup-sayup. Sekali lagi kami tertawa, sungguh, kebodohan yang tak akan terlupakan.

Tanpa babibu, kami langsung menyantap mie itu. Setelah cukup dirasa mengganjal perut, kami bergegas menuju keran untuk mengambil air wudhu. Kami buka kerannya. Lagi-lagi kami saling pandang. Keran tak mau keluar air. Hmm, mungkin dari pusatnya belum dinyalakan. Kami putar keran yang di pusat, hasilnya… air tetap tak mau keluar. Salah seorang penduduk setempat yang kebetulan melintas di hadapan kami berkata, “Kenapa, Dik?”

“Ini, Bli. (panggilan untuk laki-laki Bali) airnya nggak mau keluar.”

“Oh, kalau jam segini memang susah air, Dik. Maklum, ini kan pegunungan terpencil, jadi sumber air agak sulit. Makanya, penduduk lain biasa nampung air di pagi atau siang hari supaya malamnya nggak kehabisan.”

Dengan memasang muka tembok, aku dan Indra meminta air ke rumah Bli yang tadi menyapa kami. Kami pun sholat maghrib dan menahan (maaf) kentut agar kami tetap punya wudhu sampai isya’ tiba. Kami tahan agar kami tidak meminta air lagi ke rumah penduduk. Isya’ dan tarawih pun beres. Kami sedikit berdiskusi mengenai malam ini, apakah akan ikut ‘rame-rame’ bersama teman-teman non muslim ataukah tidur agar bisa bangun untuk mencari makan sahur? Dan kami pun memutuskan untuk tidur.

Aku tak bisa tidur. Ku lihat Indra di sampingku sudah tertidur pulas. Dia memang terlihat lelah selepas sholat tarawih tadi karena dia yang paling bersemangat saat membersihkan halaman belakang Puskesmas dan menjadi imamku sebelas rakaat. Hmm, siapa suruh punya hafalan surat yang banyak? Ya, jadilah kau imam sholatku selama di Kintamani, Boy! Begitu gumamku sambil menatapnya. Aku alihkan pandanganku dari Indra. Aku lihat di luar teman-teman yang lain masih asyik bercengkrama. Aku pejamkan mataku, tapi tak bisa. Kintamani terlalu dingin untukku. Berbeda dengan Bedugul yang masih bisa ku taklukkan. Untung tadi aku sudah makan malam, kalau tidak, mungkin sekarang aku sudah hipotermi dan tak berwujud sebagai Devadan yang tampan karena hanya bisa sembunyi di balik selimut tebal.

Aku masih tak bisa tidur. Aku teringat petuah ayahku dulu, sebelum aku memutuskan untuk memilih Fakultas Kedokteran. Ayah berkata, “Rasul bersabda tentang ‘tadawu’, Vadan. Rasul mengatakan bahwa pasien harus diobati atau mencari pengobatan.” (Sunan ibn Majah vol.2, hal 1137, 1953)

“Iya, Ayah. Vadan pernah dengar itu.”

“Bagus kalau begitu. Kau tahu kan betapa pekerjaanmu nanti akan sangat berarti? Kau tahu kan betapa jas putihmu nanti akan membuat orang lain merelakan kesehatannya berada di tanganmu?”

Aku mengangguk. Ibu yang berada di samping Ayah pun ikut berkomentar.

“Inn’Allaha yuhibbu idha’ amila ahadukum al ‘amala an yutqinahu”

“Apa itu, Bu?” tanyaku penasaran.

“Allah menghendaki seseorang untuk kesempurnaan, apapun pekerjaannya. Berbuatlah apa yang harus kamu perbuat di sana dengan senang hati, tanpa keluh kesah. Jadi jangan kamu jadikan ke-minoritas-anmu sebagai tameng atau alasan untuk tidak melakukan pekerjaanmu dengan sempurna, Vadan.”

Aku terlelap.

 

“Vadan… Dan… Vadan… Bangun, Dan… Sahur…”

Suara Indra membangunkan tidurku yang ku rasa hanya sekejap. Aku lihat Indra sudah segar. Aku tampar Indra dengan sewajarnya.

“Kamu sudah gila, Ndra?” tanyaku.

Indra hanya tertawa. Ya! Pagi-pagi buta Indra bangun, mandi, dan langsung sholat tahajud sebelum membangunkanku.

“Mumpung airnya sudah nyala. Jarang-jarang kan di sini ada air?”

“Iya, tapi ini jam berapa, Boy? Jam tiga pagi! Kayaknya kamu perlu masuk poli psikiatri deh. Aku aja begini sudah kedinginan. Eh, kamu malah mandi!”

“Udah… udah… yuk kita cari warung muslim buat makan sahur.”

Aku bergegas bangun dan cuci muka. Brrr… Subhanallah, airnya seperti baru keluar dari kulkas, seperti lelehan salju… Brrr… Ku lihat teman-teman non muslim masih mendengkur di balik selimutnya atau di balik sleeping bag-nya.

Aku dan Indra mencari warung muslim. Tengok kanan, tengok kiri. Satu kata, sepi! Sunyi bagai bumi Kintamani yang tak berpenghuni. Sungguh tak ada tanda-tanda kehidupan sepagi itu. Lebih senyap dibandingkan suasana ruangan kami saat ujian. Kosong! Tapi Indra terus melaju, menarik gas sepeda motornya dengan penuh keyakinan bahwa pasti pertolongan Allah akan datang.

“Stop, Ndra… Stop! Stop!” teriakku memecah kesunyian sekaligus mengagetkan Indra.

“Wah, gila kamu, Dan. Telingaku bisa pecah ini.”

“Lihat itu ada tulisan ‘Warung Sate Muslim’.”ujarku bersemangat.

Kami turun dari motor. Kami sebenarnya sudah tahu bahwa warung itu tutup, tapi kami nekat untuk turun dan berharap si pemilik warung mendengar suara sepeda motor kami. Ternyata kami salah, warung tetap sepi, lampu di dalamnya tetap padam. Kami sempat diam beberapa saat tanpa berbuat apa-apa. Tiba-tiba hapeku berbunyi, ada pesan masuk. Aku buka. Ah, dari operator.

“Alhamdulillah…” Indra bersorak kegirangan.

“Kenapa sih?”

“Hapemu, Dan. Hapemu…”

“Iya, aku tahu ada SMS barusan, tapi dari operator…”

“Itu kan artinya ada sinyal, Dan…”

“Astagfirullah… iya ya… kenapa aku nggak mikir kesana?”

“Cepat kamu telpon teman-teman di titik lain, Dan. Pasti mereka senang kalau tahu kita nemu warung sate muslim disini.”

“Punyaku memang ada sinyal, Ndra, walaupun Cuma satu. Tapi punya teman-teman kan belum tentu.”

“Coba dulu, Dan. Kun fayakun.”

Aku menuruti anjuran Indra. Aku coba satu teman, berhasil. Coba dua teman, berhasil. Dan akhirnya aku hubungi salah satu teman dari setiap titik Puskesmas. Aku suruh mereka datang ke warung sate ini.

Sambil menunggu kedatangan teman-teman, aku dan Indra menggedor pintu warung sate. Bismillah… semoga pemilik warungnya nggak marah.

Tok… tok… tok…

“Assalamu’alaikum… Assalamu’alaikum…”

Belum ada jawaban. Kami pun mengulanginya.

Tok… tok… tok…

“Assalamu’alaikum… Assalamu’alaikum…”

Klik! Lampu dari dalam terdengar dinyalakan. Aku pun melihat cahayanya

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam warahmatullah…” jawab seorang pria paruh baya.

Pintu warung pun dibuka.

“Ada perlu apa ya, Dik?”

“Begini, Pak. Kami mahasiswa yang sedang Kersos di sini. Kami muslim, Pak. Kami ingin membeli sate untuk sekadar makan sahur.”

“Mari… mari… masuk dulu. Di luar dingin.”

Aku masuk ke dalam warung, sementara Indra di luar masih menunggu kedatangan teman-teman.

“Sebenarnya satenya sudah saya tusuk-tusuk, Dik. Cuma belum saya bakar. Kalau Adik tak keberatan, Adik bisa bantu bakar. Atau kalau teman Adik keberatan, dia bisa makan gule. Kalau gule sih sudah ada, tinggal dihangati saja.”

“Saya nggak keberatan kok, Pak, kalau disuruh bakar sate.”

“Terimakasih ya, Dik.”

“Lho kok jadi Bapak yang terimakasih?”

“Iya, karena Adik, Bapak jadi bangun buat sahur. Hampir tiap hari Bapak nggak pernah bangun buat sahur. Maklum, Bapak baru selesai menusuk sate dan memasak gule sekitar jam dua belas.”

“Oh, ya sama-sama deh kalau begitu, Pak.”

“Karena Adik bakar sate sendiri, nanti Bapak kasih potongan harga deh.”

“Wah, Bapak sungguh mengerti kondisi kantong mahasiswa ya hehehe.”

Teman-teman pun datang. Kedatangan mereka tepat sekali, saat aku sudah selesai membakar sate. Huff, enak sekali mereka, pikirku. Tapi ya sudahlah, ikhlaskan saja. Sekarang tinggal menunggu penjual sate itu meracik bumbu kacang untuk sate kita. Akhirnya… dalam keadaan terdesak, di tempat tepencil dan serba terbatas ini pun kami tetap bisa berkumpul dan makan sate! Ya, sate!

“Eh, udah… jangan keasyikan makan! Jangan-jangan sudah subuh lho!” teriak salah seorang teman membuyarkan kenikmatan menyantap sate.

“Iya, bener juga. Disini kan nggak ada adzan, apalagi imsak.”sahut lainnya

“Ada yang bawa jadwal imsakiyah nggak?”

“Ini aku bawa.” sambung Farah sambil mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya.

“Coba kamu lihat, Farah.”suruh teman-teman.

Farah melihat dengan seksama. Kemudian dia mencocokkan dengan jam tangannya. Dia langsung meneguk segelas teh hangat di depannya tanpa bicara satu kata. Teman-teman yang lain pun sepertinya cukup peka, mereka juga melakukan apa yang dilakukan Farah. Baru setelah teh dalam gelas habis, Farah bicara, “Ini sudah imsak, kawan.”

Setelah membayar sate, kami sholat subuh berjamaah di rumah si penjual sate. Begitulah yang kami lakukan selama berada di Kintamani. Makan sate, gule, dan mie instan, tak boleh ada rasa bosan, yang penting halal, toh cuma satu minggu.

~ ~ ~

Entah pada Kersos hari ke berapa, aku lupa. Hari itu Puskesmasku kedatangan seorang dokter dari luar Bali. Entah ada tujuan apa, aku tak menanyakannya. Seorang dokter muslimah, berjilbab, cantik. Dia tak banyak bicara. Tetapi saat ada satu pasien yang datang, dia melakukan anamnesa dengan baik. Aku memperhatikannya dengan tatapan kagum. Dia memanggilku.

“Sini, Dik.” Panggilnya sambil tersenyum.

Ah, lesung pipinya itu. Bagai bidadari yang turun dari langit ke tujuh!

“Iya, Dok?”

“Kamu peserta Kersos kan?”

Aku mengangguk.

“Coba kamu suntikkan ini ke pasien.”

Aku terima vitamin itu. Aku lihat disitu tertera ‘Cyanocobalamin”. Hmm, berarti harus ku suntikkan intramuskular. Bismillah…

Dokter manis itu memperhatikan aku (entah ini hanya ge-er atau bagaimana) tak hanya saat aku disuruhnya, tetapi setiap yang aku lakukan di Puskesmas pun diperhatikannya. Untung saja tak ada pekerjaan yang tak kulakukan dengan sungguh-sungguh selama Kersos ini. Dokter manis mendatangiku.

“Inn’ Allah yuhibbu min al-‘amil idha’amila an yhusin, Dik.”ujarnya.

“Maaf, Dok? Artinya?”

“Allah sangat mencintai orang yang mengerjakan dengan baik segala pekerjaannya. Begitu sabda Rasul.” (Jarrahi, Kash al-Khafa, Maktabath al Turath, Halab, Syiria Vol.1: 285 Hadist no.747)

~ ~ ~

 

Ini adalah malam terakhir Kersos, setelah sebelumnya ada dua kejadian yang tak bisa ku lupakan pula. Pertama, aku dan Indra yang terpaksa harus ngepel teras belakang Puskesmas. Teras belakang yang biasa kami pakai sholat itu dikencingi seekor anjing liar yang tidak bertanggungjawab! Huff… Rasanya ingin ku pukul anjing itu, tapi aku tahu anjing tak punya akal, lagipula anjing itu terlalu lucu untuk dipukul. Ya, anjing Kintamani memang terkenal seantero bumi, terkenal dengan bulunya yang lebat dan… ah, aku tak paham tentang anjing. Yang aku tahu adalah ia telah membuatku geram!

Kedua, aku dan Indra yang harus mendorong sepeda motor sekitar setengah kilometer untuk mencapai masjid. Kala itu kami harus sholat Jumat. Masjid Kintamani berada jauh sekitar lima belas kilometer dari Puskesmas kami. Sepeda motor Indra kehabisan bensin, terpaksa kami tuntun. Untung tinggal lima ratus meter, bukan lima ribu meter! Dan untung pula kami tak terlambat sholat Jumat, selain itu ada penjual bensin eceran di sekitar masjid. Huff… Memang benar kami tidak berkeringat karena kabut Kintamani yang sejuk itu sudah dengan ikhlas menghapus keringat kami, tapi yang namanya tenggorokan ini lho… Astagfirullah… Tenggorokan ini tak mau kompromi barang sedetik saja, terus meronta-ronta dan berkata “Gila, haus banget gue!” Begitu pula dengan kaki kami yang lelahnya setengah hidup, tidak lagi setengah mati. Namun, semuanya sirna saat air wudhu yang segar itu membasahi tubuh kami sebelum sholat Jumat, Subhanallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar!

Kembali ke ceritaku saat ini. Ku ulangi, ini adalah malam terakhir Kersos. Malam ini dihiasi dengan canda tawa dan bakar-bakar ikan. Suatu hal yang sangat ku tunggu-tunggu, bakar ikan! Begitu ku nanti karena memang persediaan mie instanku telah habis, uang di dompet pun sudah ludes dan itu membuatku tak bisa membeli sate atau gule lagi. Harimau dalam perut sudah mengaum minta makan. Akhirnya, acara bakar ikan pun dimulai. Aku sudah bersiap dengan ikan yang akan ku bakar. Tapi belum sempat aku membakarnya, Indra memanggilku untuk sholat maghrib. Astagfirullah, aku sampai lupa kalau aku belum sholat maghrib, padahal waktu maghrib kan pendek. Tanpa pikir panjang, ku tinggalkan ikan itu dan bergegas mengambil air wudhu. Selama sholat, pikiranku melayang, mencumbui bayangan ikan bakar itu. Ya Allah , jagalah ikan bakarku, gumamku dalam hati sampai-sampai aku lupa sudah berapa rakaat aku sholat. Dan, setelah salam, aku langsung lompat mengintai ikan bakar. Apa yang ku dapati? Aaaaaaargh! Ikan bakar sudah habis dilahap teman-teman! Tak hanya perutku yang menangis, hatiku pun ikut tersedan. Ku putuskan, aku makan nasi dari panitia. Ya, nasi saja! Plus kecap dan krupuk yang sudah tidak renyah lagi, seperti dipasang ‘peredam’ dalam gedung bioskop, sama sekali tak terdengar ‘kriuk-kriuk’ seperti layaknya krupuk normal.

~ ~ ~

 

Tak banyak yang bisa ku ambil dari pengalamanku selama Kersos ini. Yang aku tahu hanyalah aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, itu saja. Tidak lebih. Seperti kata Dokter manis itu, bahwa Allah mencintai orang yang mengerjakan dengan baik segala pekerjaannya. Dan aku hanya ingin Allah ridho dengan setiap jengkal langkahku. Aku tak boleh mengatasnamakan ‘minoritas’ sebagai alat untuk tak melakukan tugasku dengan sempurna. Belum… Aku memang belum bisa menjadi dokter muslim yang hebat. Tapi aku sedang berusaha menjadi dokter muslim. Ya, menjadi DOKTER MUSLIM yang benar-benar muslim sajalah dulu, yang sungguh-sungguh menerapkan akidah dalam menghadapi pasien, yang merelakan diri untuk berjuang atau berkorban lebih dibandingkan dokter-dokter yang belum ‘muslim’. Bismillah… Mengapa bismillah? Ya, karena ini bukan akhir… Ini adalah awal!

 

Denpasar, 2 Maret 2011

Reqgi First Trasia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s