Home

Dokter – Artis

Sebelas Dua Belas

Reqgi First Trasia

 

“Rek ayo rek mlaku-mlaku nang Tunjungan…”

Nada dering hapeku memanggil. Sengaja ku pasang nada dering itu agar aku semakin mencintai Surabaya yang hampir empat tahun ini ku tinggalkan.

“Rek ayo rek rame-rame bebarengan…”

            Ku lihat layar hape. Benar dugaanku, pasti Ibu. Aku letakkan sarapan, ku angkat hape.

“Assalamualaikum, Bu…”

“Waalaikumsalam… sudah sarapan?”

“Ini lagi sarapan, Bu…”

“Sarapan roti sama madu lagi?”

“Iya, hehe…”

            Ibu selalu menanyakan pertanyaan yang sama setiap pagi : sudah sarapan? Sudah mandi? Sudah shalat Dhuha? Dan jawabanku pun selalu sama. Aku paham benar mengapa Ibu memperlakukan aku seperti ini. Ya, mungkin karena aku anak tunggal. Hanya saja hari ini ada sedikit ‘tambahan’ dari pertanyaan Ibu.

“Apa Ibu sudah punya calon mantu?”

            Aku kaget mendengar pertanyaan Ibu. Aku terdiam cukup lama.

“Raif… If… “

“Iya, Bu…”

“Kok diam? Gimana?”

“Belum, Bu…”

“Kok belum?”

“Ini lagi usaha, Bu…”

“Bagus lah kalo gitu. Pokoknya Ibu gak mau mantu anggota DPR, gak mau dokter, gak mau insinyur, gak mau guru, bahkan Presiden pun Ibu gak mau…”

“Terus mau yang seperti apa, Bu?”

“Ibu maunya dokter yang sholehah, insinyur yang sholehah atau guru yang sholehah…”

“Oalah, beres, Bu…”

“Ya sudah, kamu siap-siap aja ke rumah sakit… Hati-hati ya… Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…”

            Aku galau mendengar pertanyaan Ibu tadi. Ya, galau! Sebuah kata yang belakangan ini sedang nge-trend di Indonesia itu kini ku alami. Ingin ku jujur pada Ibu bahwa sebenarnya sudah ada satu akhwat yang bertengger di hatiku, hanya saja aku sedang mencarinya. Mencari yang sebenar-benarnya mencari, karena aku sudah kehilangan jejaknya sejak enam tahun yang lalu.

* * *

            Akhwat itu, Zaley Fakhirah namanya. Ku cari arti nama itu di sebuah search engine. Putri kebanggaan! Kombinasi bahasa Spanyol dan Arab. Sungguh indah.

Pertemuan pertamaku dengan Zaley adalah di sebuah acara nasional yang kebetulan diselenggarakan di kampusku. Ia delegasi dari Bali. Tak ada yang istimewa saat pertama mengenalnya, hanya saja ketika Ia berbicara dengan aura Kartini di hadapan delegasi lain tentang bagaimana perjuangan umat muslim di Bali, aku melihat Ia berbeda, entah dari mana. Seperti ada ketegasan di balik wajahnya yang tenang atau seperti senyum yang semakin menegaskan bahwa Ia sosok yang memang layak untuk dikagumi, bahkan lebih dari itu.

Zaley mengenalku hanya sebatas sebagai panitia penyelenggara. Selepas itu, kami saling bertukar kabar via jejaring sosial. Aku yang memulainya. Beberapa kali ku buka topik diskusi dengannya, sekaligus menilai bagaimana kepribadian dan cara dia menyelesaikan masalah. Ia sungguh menarik. Saking menariknya, aku sampai hafal di luar kepala apa saja yang ku diskusikan dengannya, jawaban-jawabannya yang unik, dan masih banyak lagi. Namun ada satu pernyataannya yang terpatri benar dalam memoriku. Ia mengatakan bahwa dokter dan artis itu setali tiga uang, sebelas dua belas, intinya sama saja, ketika kutanya pendapatnya tentang dokter ideal. Alasannya, dokter dan artis sama-sama harus tetap tersenyum tegar menghadapi penonton (untuk artis) atau pasien (untuk dokter) sekalipun suasana hatinya sendiri sedang kacau. Artis dan dokter, khususnya dokter keluarga, sama-sama mengupayakan pencegahan primer atas berbagai masalah kesehatan. Hanya saja, dokter mungkin lebih ke edukasi, sementara artis lebih ke penguatan psikis lewat hiburan-hiburan yang mereka sajikan. Yang terakhir, artis dan dokter sama-sama punya fans (penggemar). Hanya saja, penggemar para artis lebih menonjolkan rasa kagumnya lewat koleksi album, foto, bahkan tanda tangan, sementara penggemar para dokter menonjolkan kekagumnya lewat ‘rasa percaya’. Coba saja, jika pasien merasa lebih cepat sembuh di dokter A, tentu dia akan enggan berobat di dokter B. Atau bila pasien merasa lebih enjoy dengan ke-supel-an dokter A, tentu dia akan enggan berobat ke dokter B yang mungkin cenderung pasif dan sombong.

Ya, itu adalah pernyataan paling berkesan bagiku, sekaligus menjengkelkan. Bukan karena isi pernyataannya, melainkan karena itu adalah pesan terakhir yang Ia kirim. Selepas itu Ia tak pernah lagi membalas pesanku walau beberapa topik disikusi ku sodorkan. Berkali-kali aku membuka jejaring sosial dan berharap Ia mengirim pesan, tapi nyatanya nihil, bahkan aku sampai hampir membusuk di depan laptop untuk menunggunya. Ah, aku seperti dipermainkan oleh dunia maya!

Hampir dua tahun aku menunggunya di Surabaya via dunia maya, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya ke Bali. Setelah aku mendapat gelar dokter dari salah satu Universitas negeri terbaik di kotaku, aku meminta izin pada Ibu dan Ayah untuk melanjutkan kuliah spesialis di Universitas tempat Zaley belajar. Tentu Ia masih ada disana karena Ia satu tahun di bawahku. Aku bertanya dan mencari informasi di sana sini tentang Zaley lewat teman-temannya, lewat organisasi yang Ia ikuti, bahkan lewat bagian kemahasiswaan kampus. Hampir semua memberikan jawaban yang ngambang : cari saja di kosnya, atau coba tanya langsung di fesbuk atau twitter, dll. Yang sedikit lebih baik adalah ketika teman-temannya memberiku nomor hape Zaley. Ku coba hubungi tapi di-reject. Ku mintai tolong teman-temannya untuk mengantarku ke kosnya, tapi ternyata Ia sudah pindah.

Huff! Begitulah aku berusaha menemukan kembali jejak Zaley sampai hampir empat tahun aku di Bali. Itu artinya, pendidikan residenku hampir selesai dan sebentar lagi aku akan disematkan gelar dokter spesialis saraf. Ya ya ya, Zaley… Zaley… pandai betul kau menggundahkan aku yang polos ini. Bahkan kini aku tak tahu sekarang apakah selepas kau dilantik sebagai seorang dokter, kau menetap di Bali atau kembali ke kotamu. Hmm…

Beberapa bulan ini aku coba lepaskan satu persatu obsesiku untuk menemukan jejak bidadari itu. Tak terlalu sulit karena aku seperti tersengat oleh sosok yang ku gemari tulisan-tulisannya. Zaltana Faeryn namanya. Sedikit banyak Faeryn mengingatkanku pada Zaley. Aku memang sama sekali belum pernah bertemu Faeryn, tapi aku sudah bisa meraba bahwa Ia adalah wanita yang mampu menyihirku lewat tulisannya. Aku baca artikelnya di majalah-majalah kedokteran. Hampir setiap edisi Ia selalu menulis rubrik dokter keluarga. Gaya bahasa dan aspek komunikatif yang unik dari tulisannya tak kalah dengan Zaley. Rasa ingin tahu yang bergejolak dalam hati semakin menguatkan langkahku untuk mengenal Faeryn lebih jauh. Aku datangi kantor redaksi majalah itu. Ku tanyakan tentang Faeryn, tapi mereka merahasiakan, “Maaf, kami disini melindungi para jurnalis kami, termasuk dokter Faeryn.”

* * *

Aku menarik napas dalam, ku buang napas dengan penuh kegelisahan. Sungguh, pertanyaan Ibu pagi ini menambah deretan kasus yang harus ku tangani.

Minggu depan! Ya, minggu depan aku harus ujian tahun terakhir di pendidikan dokter spesialis ini. Hampir semua sejawat satu angkatanku sudah mendapat pasien untuk ujian mereka. Tinggal aku! Dokter-dokter senior menyuruhku untuk bersabar sampai ada pasien yang memang pas untuk ujian.

Resah! Sampai-sampai roti dan madu yang selalu menjadi menu favoritku setiap sarapan jadi terasa pahit. Roti jadi tampak seperti buah mengkudu dan madu tampak seperti kopi tanpa gula. Perut masih meronta-ronta tapi mulut tak mau bekerja sama untuk membuat lambung ini menjadi tenang. Alhasil, ku habiskan juga sarapan ini. Di teguk terakhir madu, aku mendengar Andre mengetuk pintu kamar.

“If… Raif… Ayo berangkat, kita kan mau ujian…”

“Kamu duluan aja… Aku masih belum punya pasien untuk ujian…” teriakku dari dalam kamar.

“Ah, alasan! Aku tunggu di luar ya!”

Ck! Si Andre membuatku harus beranjak dari kursi, meraih jas putih, menyiapkan stetoskop, palu refleks, dan tentunya berpenampilan rapi. Aku keluar dari kamar. Ku lihat Andre melipat tangan dan menggelengkan kepalanya tanda mengejekku yang terlalu lemot hari ini.

“Ayo, buruan pake sepatu!”

“Iya, boss!”

Aku dan Andre berjalan menuju rumah sakit. Ia bercerita tentang kasus yang harus Ia tangani untuk ujian. Ah, pria ini seperti membuatku envy karena aku belum dapat pasien. Ku dengarkan saja Ia bercerita sambil sesekali ku tanya apa diagnosa dari pasiennya, bagaimana penatalaksanaannya, dll. Kasusnya tak terlalu menguras otak. Pasien Andre datang dengan keluhan nyeri akar saraf radiculopathy unilateral selama empat minggu. Huff, kalau itu sih penatalaksanaannya konservatif saja. Aku? Aku bahkan belum tahu seperti apa pasienku.

Sesampainya di rumah sakit, Andre langsung mengobservasi pasiennya. Aku tak mau diam saja dalam ruangan residen menjadi seonggok sampah yang tak berguna. Aku berkeliling mengunjungi tiap pasien rawat inap, menanyakan kondisinya, memeriksa perkembangan kesehatannya, sambil menjalin keakraban. Seperti yang Zaley bilang, bahwa dokter itu seperti artis yang harus tetap tersenyum tegar di hadapan pasien sekalipun sedang dirundung pilu. Di tengah perbincanganku bersama pasien-pasien rawat inap, seorang perawat berlari menghampiriku.

“Dokter Raif. Ada pasien di UGD. Laki-laki tujuh puluh tahun. Kesadaran menurun. Tensi 180/100.”

Aku langsung berdiri dan pamit pada pasien-pasien rawat inap. Aku berjalan cepat menuju UGD. Perawat itu pun mengikutiku dari belakang.

“Intervensi apa saja yang sudah diberikan?”

“ABC saja, Dok…”

“Dokter yang lain?”

“Residen yang lain sedang menangani pasien mereka untuk ujian.” jawab perawat itu terengah-engah karena berlari terlalu cepat di belakangku

“Onsetnya?”

“Ini pasien rujukan, Dok…”

“Surat rujukannya?”

Perawat itu memberikan surat rujukan kepadaku. Aku membaca surat itu sambil tetap berjalan cepat menuju UGD.

Pasien 70 tahun, kesadaran menurun mendadak ketika sedang bermain bersama cucunya. Defisit hemisensori (+), defek lapang pandang (+), aphasia (+), asimetri pupil (-), muntah, tensi 180/100. Suspect stroke. Mohon lakukan penanganan spesialistik.

Ini kasus yang sulit. Mungkin bisa mudah jika bukan pasien geriatric. Biasanya pasien lansia memang memiliki prognosis yang lebih buruk, apalagi dengan keterangan seperti itu. Hatiku bergemuruh, “Allahuakbar! Allahuakbar! Bismillah!” Sesampainya di depan pintu UGD, aku diserbu oleh keluarga pasien. Istri dari pasien, anak-anak dan cucunya. Mereka menangis meminta bantuanku.

“Saya akan lakukan yang terbaik…” pernyataanku menjawab air mata mereka.

Di hadapan pasien, aku kembali berdoa dalam hati, sambil meminta perawat menyiapkan Diazoxide IV. Aku bersiap-siap menginjeksikan Diazoxide 150 mg selama 15 detik. Setelah ku lakukan, Alhamdulillah tekanan darahnya menurun dalam 2 menit. Selanjutnya ku beri profilaksis agar tak terjadi peningkatan tekanan intracranial atau kejang. Aku sesuaikan suhu tubuh pasien. Aku rujuk pasien ke bagian radiologi untuk CT-Scan dan pemeriksaan angiografi cerebral. Dua hari kemudian aku baca hasilnya, terlihat ada hematoma dengan diameter >3cm, ada tanda kompresi batang otak, dan midline shift di CT Scan. Terlihat pula aneurisma di pemeriksaan angiografi. Aneurisma ini berpotensi untuk rupture dan memperburuk kondisi pasien. Ini adalah indikasi untuk pembedahan. Aku rujuk langsung pasien ini ke dokter spesialis bedah saraf. Bismillah, semoga pasien ini dapat kembali bermain bersama cucunya.

* * *

Empat hari lagi aku ujian, tetapi dokter supervisorku belum memberiku pasien untuk ujian, sementara dokter pengujiku yang sangat aku segani tadi pagi menggodaku, “Kapan saudara siap ujian?”

Ah, bagaimana mau ujian? Pasien saja belum ditetapkan oleh supervisor. Aku menghampiri supervisorku, “Dok, bagaimana ini? Empat hari lagi semua residen sudah harus ujian kan? Bagaimana bisa mengejar deadline, Dok? Sementara….”

Supervisorku memotong kalimatku, “Saudara sudah lulus, masa’ mau minta ujian lagi?”

“Lulus?”

“Iya, pasien tujuh puluh tahun itulah pasien Saudara. Walaupun pasien dadakan, tapi Saudara bisa melakukan penatalaksanaan dengan baik.”

“Tapi dokter penguji saya tadi bilang….”

“Beliau memang suka iseng,” ucap supervisorku sambil tersenyum, “Berterimakasih-lah karena Beliau ngasih Saudara nilai A.”

“A, Dok?”

“Iya… Saudara nggak mau nilai A?”

“Bukan, Dok. Saya cuma merasa hal yang saya lakukan kemarin itu memang suatu tanggung jawab, saya tidak merasa sedang ujian.”

“Hmm, Saudara sudah memutuskan dengan cepat pemberian antihipertensi, dan profilaksis peningkatan tekanan intracranial, juga profilaksis kejang itu sudah baik. Ditambah pula Saudara dengan segera merujuk pasien ke neurosurgery. Sudahlah, sekarang Saudara siapkan diri untuk pelantikan dokter spesialis dua minggu lagi. Oke?”

“Oke, Dok! Terimakasih… Hmm, tapi, Dok…”

“Apa lagi?”

“Itu pasien rujukan, Dok.”

“Ohya? Kalau begitu Saudara juga harus berterimakasih pada sejawat yang merujuk. Kalau dokter itu tidak merujuk ke sini, tentu sampai hari ini Saudara tidak mendapat pasien. Hehe…” goda supervisorku.

“Hehe… Baik, Dok. Saya permisi dulu. Selamat siang.”

Alhamdulillaaaah! Aku bergegas menghampiri dokter pengujiku dan mengucapkan terimakasih. Lalu, aku meminta kepada perawat untuk meneleponkan klinik yang merujuk pasien tempo hari.

“Saluran teleponnya nada sibuk, Dok.”

“Oke, kalau begitu saya langsung ke sana saja. Kamu tahu alamatnya?”

“Biasanya di kop surat rujukan ada, Dok. Sebentar saya ambilkan.”

Setelah mendapat surat rujukan itu, aku menjepretnya dengan kamera hapeku, lantas pergi mencari klinik itu. Sambil sesekali melihat alamat di foto surat rujukan yang tertulis “Klinik Dokter Keluarga”, aku melihat kanan kiri untuk memastikan keberadaan klinik itu. Tanpa sengaja mataku tertuju pada nama dan tanda tangan dokter di bagian bawah surat rujukan. Disitu tertulis “dr. Zaley Fakhirah”. Subhanallah! Mengapa aku baru menyadarinya hari ini? Bukankah aku sudah menggenggam surat itu beberapa hari yang lalu? Sungguh, Allah memang pandai meng-aransemen ini semua.

Zaley… Zaley… entah apa ini namanya? Takdirkah? Akhirnya aku menemukanmu di saat-saat bahagia seperti ini! Zaley… Ah, mengapa aku harus bertemu dengannya di saat aku sudah bisa merontokkan obsesiku untuk meminangnya, di saat hatiku sudah mulai beralih pada Zaltana Faeryn? Ah! Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Ya, jodoh!

Jodoh? Yakin? Hmm, pikiranku mulai menari-nari menyusun ribuan khayalan, merangkai jutaan impian, melukis anggun wajah Zaley di atas awan, dan ccciiiiiitttt! Mendadak aku mengerem mobil! Aku teringat sesuatu. Apakah pikiran-pikiran ini adalah pikiran yang ‘terlarang’? Apakah Zaley masih sendiri atau sudah menikah? Setelah sekian tahun aku tak tahu kabarnya.

Tinnn… tinnn!!! Kendaraan-kendaraan di belakangku mengklaksonku dengan kompak karena aku mendadak mengerem mobil. Aku jalankan kembali mobil ini, aku pasrahkan semua pada Allah. Jika Zaley memang sudah menikah, maka kehadiranku ke sana hanya sekadar mengucapkan terimakasih atas rujukan pasiennya, seperti tujuan awal. Tapi jika Zaley masih sendiri, aku… akan… melamarnya…

Nah, sampailah aku di klinik dokter keluarga itu. Ku lihat papan namanya, benar, Zaley berpraktik disitu. Aku turun dari mobil, merapikan rambutku, pakaianku, melebihi persiapanku bertemu dosen. Aku hampiri front office-nya. Pegawainya menelepon Zaley.

“Tunggu sebentar ya, Dok.”

Aku mengangguk. Ku lihat sekitar, setelah ku rasa aman, aku mendekat ke pegawai itu sambil berbisik, “Kalau boleh tahu, dokter Zaley itu sudah punya anak berapa?”

Pegawai itu spontan menjawab, “Wah, boro-boro anak, Dok. Suami aja be…”

“Assalamualaikum…” sapa Zaley dari belakang kami.

Pegawai itu kaget, tapi Ia berusaha melanjutkan kalimatnya, “be…lum…pu…nya…”

Aku pun kaget. Subhanallah, Zaley! Gadis ini masih mungil saja. Memang parasnya tak secantik Dian Sastro, tapi dia ‘good looking’! Aku menjawab salamnya dengan gugup. Mata ini pun tak mau lepas menatapnya.

“Apanya yang belum punya, Mba?” tanya Zaley pada pegawainya.

“Emm, anu, Dok. Itu tadi dokter Raif nanya apa disini punya ambulan. Ya saya jawab aja belum punya, hehe…”

“Oooh… kirain…”, kini perkataannya tertuju pada Raif, “Dokter Raif spesialis saraf?”

“Iya, insyaAllah dua minggu lagi saya dilantik. Dokter Zaley masih ingat saya?”

“Raif? Raif siapa ya? Hmm, wajah Dokter cukup familiar sih, tapi siapa ya?”

Waduuuh, kalau lantai, kursi, meja dan tembok disini bisa ngomong, mungkin mereka akan meledekku, “Kasihan deh loe, Raif. Dilupain sama Zaley, wakakak!”

“Saya Raif Zahraan Fadey, kita pernah ketemu pas kamu jadi delegasi dari Bali.”

“Ya..ya..ya… saya ingat! Subhanallah, kita bisa silaturahim disini ternyata.”

“Terimakasih karena sudah merujuk pasien tempo hari. Kalau Zaley telat merujuk, pasien itu bisa tidak tertolong. Dan kalau di seluruh Indonesia benar-benar diterapkan sistem dokter keluarga, saya yakin pelayanan kesehatan di Indonesia akan semakin maju. Hanya kasus-kasus spesialistik saja yang ditangani oleh spesialis. Dan selebihnya diserahkan pada dokter keluarga sebagai front line. Tentu Zaley lebih mulia karena lebih sering menangani pasien, karena kan tujuh puluh persen kasus di masyarakat bisa selesai oleh dokter umum. Iya kan?”

“Ah, nggak juga… biasa aja…”

Kami saling berbincang sejenak. Pegawai itu sesekali melihat ke arah kami. Senang bisa bertatap muka dengan Zaley. Kembali ke niatku dulu, aku ingin meminang Zaley. Tapi rasanya terlalu mendadak kalau langsung aku sampaikan sekarang. Hmm, apa yang harus aku perbincangkan lagi dengan Zaley? Aku seperti kehabisan kata-kata, gugup, salah tingkah! Mata liarku tertuju pada setumpuk majalah di sudut ruangan.

“Hey, kamu suka baca majalah ini juga, Zaley?”

“Iya, kamu juga?”

“Suka banget! Apalagi ada penulis yang namanya Zaltana Faeryn. Aku suka tulisan-tulisannya. Bahasanya klop banget sama tipe-tipe artikel yang aku suka!”

“Kamu ngefans sama Zaltana Faeryn?”

“Ngefans? Haha, kayak ngefans sama artis aja! Nggak kok, cuma kagum aja…”

“Kalau kamu ketemu Faeryn, mau ngapain?”

“Minta tanda tangan kali ya, hehe… alay…”

Zaley mengambil selembar kertas dan pulpen. Ia menandatangani kertas itu dan memberikannya padaku.

“Ini? Maksudnya?”

“Ya, Zaltana Faeryn itu nama penaku. Salam kenal.” Jawabnya sambil tersenyum.

* * *

Aku menelepon Ibu, “Bu, dua minggu lagi Ibu sama Ayah datang ya ke sini? Ke acara pelantikan dokter spesialis.”

“Subahanallah, anak Ibu ini memang jagoan! Siap, boss!”

“Ohya, Bu. Jangan lupa siapkan buat lamaran juga.”

“Wah, Ibu mau punya mantu toh? Siapa dia?”

“Artis, Bu…”

“Artis?”

“Haha, enggak, Bu. Dia dokter juga kayak aku. Artis dan dokter kan sama aja, Bu.”

“Ah, Ibu nggak mau!”

“Dokter yang sholehah, Bu.”

“Nah, itu dia!”

 

Reqgi First Trasia

Denpasar, 14 April 2012

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s